Saham bank jumbo BBRI, BMRI, BBCA hingga BBNI anjlok 14%, bawa LQ45 rontok 13%

Hikma Lia

Saham empat bank jumbo anjlok belasan persen pada perdagangan pagi ini membawa indeks utama LQ45 di Bursa Efek Indonesia anjlok 12,90% pada perdagangan, Jumat (16/10) usai MSCI menyatakan akan menurunkan status pasar saham Indonesia  dari pasar berkembang (emerging market) ke pasar mandiri (standalone market).

Advertisements

Seluruh penghuni saham LQ45 bergerak di zona merah secara berjamaah.

Berdasarkan data perdagangan bursa secara intraday pukul 09.33 WIB, saham bank-bank jumbo rontok berjamaah setelah bursa melakukan penghentian sementara perdagangan saham atau trading halt pada pembukaan perdagangan pukul 09.00 WIB.

Advertisements

Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) anjlok 14,81% ke level 5.175, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) rontok 10,65% ke level 2.770, PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) merosot 9,30% ke level 3.510 dan PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) amblas 12,61% ke level 2.980.

Baca juga:

  • MSCI Ancam Turunkan Pasar RI ke Standalone Market, OJK Bicara Soal Pembenahan
  • Nasib Langit Indonesia di Tengah Karhutla: CO Pekat di Atmosfer, Polusi Memburuk
  • Rupiah Tertekan Pagi Ini, Nilai Tukar Tembus Level 18,024 per Dolar Amerika

Sementara itu, saham-saham terafiliasi konglomerat dalam kelompok LQ45 juga anjlok. Misalnya saham milik Garibaldi Thohir alias Boy Thohir PT Alamtri Resources Indonesia Tbk (ADRO) anjlok 8,54% ke level 2.250, PT Alamtri Minerals Indonesia Tbk (ADMR) merosot 14,65% ke level 1.165 dan PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) rontok 14,82% ke level 9.625.

Kemudian saham raksasa otomotif PT Astra International Tbk (ASII) amblas 13,60% ke level 4.120 dan PT United Tractors Tbk (UNTR) rontok 14,65% ke level 21.550.

Adapun pada perdagangan 09.40 WIB, IHSG rontok 10,80% ke level 5.230. Sebanyak 689 saham rontok, 24 saham tidak bergerak dan 19 saham naik. Kapitalisasi pasar hanya mencapai Rp 9.271 triliun dengan nilai transaksi sebesar Rp 4,38 triliun. 

Sebelumnya, IHSG dibuka trading halt atau diberhentikan sementara perdagangan saham pagi ini usai anjlok 8,01% ke level 5.393 pada akhir pekan ini, Jumat (16/10). 

Anjloknya saham pagi ini imbas MSCI berencana untuk menurunkan status pasar saham Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) menjadi pasar mandiri (standalone market).

Pada pukul 09:00 WIB, nilai yang ditransaksikan sebesar Rp 922,33 juta dengan volume 5,36 juta dan frekuensinya hanya 105,72 ribu. Tak hanya itu, kapitalisasi pun anjlok hingga Rp 9.538 triliun. Apabila menilik perdagangan kemarin, Kamis (15/10), kapitalisasi pasar IHSG sebesar Rp 10.298 triliun. Alhasil market capnya sudah menguap Rp 760 triliun. 

Sebelumnya, MSCI tengah mempertimbangkan menurunkan status pasar modal Indonesia dari pasar berkembang (emerging market) ke pasar mandiri (standalone market) imbas kekhawatiran yang terus berlanjut terkait kelayakan investasi (investability) dan tata kelola pasar saham di Indonesia.

Merujuk laporan Reuters, MSCI telah membuka konsultasi mengenai usulan penurunan status ini setelah sebelumnya mengeluarkan peringatan pada bulan Juni bahwa Indonesia dapat menghadapi reklasifikasi jika masalah aksesibilitas pasar terus berlanjut.

MSCI menyampaikan bahwa para investor telah menyuarakan kekhawatiran mengenai struktur kepemilikan yang tidak transparan, konsentrasi kepemilikan saham, serta dugaan perdagangan terkoordinasi hal-hal yang dinilai mengikis kelayakan investasi di pasar tersebut.

“Oleh karena itu, MSCI menganggap klasifikasi berkelanjutan Indonesia sebagai Emerging Market tidak lagi sesuai dan membuka konsultasi mengenai usulan untuk mereklasifikasi Indonesia sebagai Standalone Market,” kata MSCI dikutip dari Reuters, Jumat (16/10).

Konsultasi atas usulan reklasifikasi akan berlangsung hingga 30 April 2027, dengan keputusan final dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. 

MSCI juga mempertahankan pembekuan sejumlah perubahan terkait indeks saham Indonesia hingga pemberitahuan lebih lanjut, termasuk penambahan konstituen MSCI Indonesia Investable Market Index serta peningkatan foreign inclusion factor dan jumlah saham beredar dalam peninjauan indeks maupun aksi korporasi.

Advertisements

Also Read

Tags