IHSG sesi I berbalik melemah 0,84%, 499 saham ke zona merah

Hikma Lia

BANYU POS – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sesi I berbalik melemah dengan level 5.234,36 pada perdagangan Rabu (21/10/2026), setelah sempat dibuka menguat pada awal perdagangan.

Advertisements

Berdasarkan data IDX Mobile, pukul 12.05 WIB, IHSG terkoreksi 0,84% atau 44,53 poin ke 5.234,36. Adapun, IHSG sempat dibuka menguat 0,67% ke 5.314,50 pada pagi hari ini.

Sepanjang perdagangan intraday, indeks bergerak di level terendah 5.185,36 dan sempat menanjak ke posisi 5.326,96.

Advertisements

Adapun, nilai kapitalisasi pasar (market cap) mencapai Rp9.211 triliun. Sejumlah 218 saham menguat, sejumlah 499 saham menurun, dan 246 saham tidak bergerak atau stagnan.

Beberapa saham masuk dalam daftar top gainers, antara lain saham PT Mitra Komunikasi Nusantara Tbk. (MKNT) tancap gas hingga 33,33% ke level Rp4, PT Xolare Rcr Energy Tbk. (SOLA) juga ikut menancap hingga 32,20% ke level Rp78. Disusul oleh PT Olympus Strategic Indonesia Tbk. (NATO) yang juga menguat 25% ke level Rp850.

Di posisi berikutnya, PT Bukaka Teknik Utama Tbk. (BUKK) menguat 24,84% ke level Rp980. Kenaikan juga terjadi pada saham PT Jakarta Setiabudi Internasional Tbk. (JSPT) yang menguat 22,63% ke level Rp1.490.

Sementara itu, sejumlah saham yang masuk daftar top losers, yaitu saham PT Lima Dua Lima Tiga Tbk. (LUCY) yang turun 10% ke level Rp90 Sementara PT Bahtera Bumi Raya Tbk. (PGJO) juga ikut menurun 9,76% menjadi Rp740.

Di urutan berikutnya, terdapat di BEI adalah milik PT Agung Menjangan Mas Tbk. (AMMS) yang terkoreksi 9,40% ke level Rp106. PT Platinum Wahab Nusantara Tbk. (TGUK) juga masuk jajaran top losers dengan menurun 8,86% ke level Rp72. Melengkapi 5 besar, saham PT Abadi Nusantara Hijau Investama Tbk. (PACK) terkoreksi 8,43% ke level Rp304.

Adapun pada perdagangan hari ini, perhatian pelaku pasar akan tertuju pada hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Bank Indonesia (BI). Konsensus Bloomberg terhadap 34 ekonom memperkirakan bank sentral mempertahankan BI Rate di level 5,75%.

Kendati demikian, terdapat proyeksi kenaikan suku bunga menjadi 6% hingga 6,25% untuk menjaga stabilitas rupiah yang berada di sekitar Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Sebelumnya, Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda, menilai keputusan BI akan menjadi katalis penting bagi pergerakan rupiah dan IHSG, terutama di tengah tekanan arus modal asing serta ketidakpastian terkait kebijakan indeks Morgan Stanley Capital International (MSCI).

Di sisi lain, inflasi September 2026 tercatat sebesar 3,28% secara tahunan atau year-on-year (YoY), masih berada dalam sasaran BI sebesar 1,5%–3,5%.

Dari sisi teknikal, IHSG memantul dari area support Fibonacci di sekitar level 4.942. Reza melihat target technical rebound terdekat berada pada rentang 5.318–5.400. Namun, peluang pemulihan masih perlu dikonfirmasi lebih lanjut karena indikator Moving Average Convergence Divergence (MACD) masih berada di zona negatif dengan momentum bearish.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements

Also Read