TINS dapat kredit Rp 4 triliun, cermati dampaknya terhadap kinerja dan saham

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. PT Timah Tbk (TINS) memperoleh fasilitas kredit dari PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan limit maksimal Rp 4 triliun.

Advertisements

Fasilitas ini ditujukan untuk memenuhi kebutuhan modal kerja dan kewajiban Devisa Hasil Ekspor Sumber Daya Alam (DHE-SDA).

Analis Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, menilai fasilitas kredit tersebut lebih berperan sebagai penyangga likuiditas ketimbang sumber pendanaan ekspansi.

Advertisements

Pasalnya, sebagian besar penjualan TINS berasal dari ekspor dalam dolar AS, sedangkan kebutuhan operasional, seperti pembelian bijih dari mitra dan biaya produksi, umumnya menggunakan rupiah.

Hartadinata (HRTA) Perpanjang Fasilitas Kredit Rp 2,17 Triliun dari Bank Mandiri

Ketika dana hasil ekspor tertahan sesuai ketentuan DHE-SDA, kredit dari Bank Mandiri dapat menjembatani kebutuhan kas agar operasional perusahaan tetap berjalan lancar.

“Fasilitas ini cukup berarti sebagai penyangga likuiditas, tetapi tidak serta-merta mengubah struktur bisnis TINS,” ujar Adrian.

Senior Market Analyst Mirae Asset Sekuritas, Nafan Aji Gusta, menambahkan bahwa akses pendanaan tersebut memberi fleksibilitas bagi TINS untuk membiayai pembelian bahan baku, kegiatan penambangan dan pengolahan, serta kewajiban jangka pendek.

Fasilitas ini juga membantu mengatasi selisih waktu antara penerimaan hasil penjualan dan pembayaran biaya operasional.

Namun, limit Rp 4 triliun merupakan batas maksimal, bukan berarti seluruh dana akan langsung digunakan.

Dampaknya terhadap kondisi keuangan TINS bergantung pada jumlah kredit yang ditarik, tingkat bunga, serta kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas operasi.

Penggunaan kredit secara terukur dapat membatasi tekanan biaya pendanaan. Sebaliknya, jika pinjaman terus digunakan untuk menutup kekurangan kas tanpa perbaikan profitabilitas, beban bunga dan risiko keuangan perusahaan berpotensi meningkat.

Laba Bersih Timah (TINS) Tembus Rp 1,5 Triliun pada Kuartal I-2026

Dari sisi fundamental, prospek TINS hingga akhir 2026 dan sepanjang 2027 masih bergantung pada harga timah global, volume produksi dan penjualan, permintaan industri pengguna, serta pengendalian biaya.

Adrian menilai kinerja TINS pada semester I-2026 sangat kuat, ditopang harga timah yang tinggi, peningkatan produksi, dan pertumbuhan penjualan.

Kinerja yang solid berpeluang berlanjut pada 2027 jika harga timah tetap menguntungkan, didukung ketatnya pasokan global dan permintaan dari industri elektronik, semikonduktor, serta teknologi baru.

Meski demikian, pertumbuhan laba berpotensi melambat karena basis kinerja tahun ini sudah tinggi. Selain itu, kenaikan harga timah tidak sepenuhnya meningkatkan laba lantaran sebagian biaya pembelian bijih juga dapat mengikuti pergerakan harga komoditas.

Menurut Nafan, kemampuan TINS meningkatkan produksi dan volume penjualan tanpa diikuti lonjakan biaya menjadi kunci untuk memaksimalkan momentum harga timah.

Pemulihan produksi yang berkelanjutan, ketersediaan bijih berkadar ekonomis, dan efisiensi pengolahan akan menentukan seberapa besar peluang tersebut dapat dimanfaatkan.

Industri timah juga menghadapi sejumlah risiko, antara lain pemulihan pasokan dari produsen lain, termasuk Myanmar, volatilitas harga, serta kemungkinan harga yang terlalu tinggi menekan permintaan.

Ketidakpastian persetujuan Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB), aturan ekspor, dan ketentuan DHE-SDA turut berpotensi memengaruhi operasional serta pengelolaan kas perusahaan.

Bach Multi Global (BACH) Dapat Kredit Rp 450 Miliar dari Maybank, Ini Peruntukannya

Di sisi lain, penertiban tambang ilegal dan perbaikan tata kelola pertambangan berpotensi mendukung industri timah dalam negeri. Namun, kenaikan biaya operasional, kendala perizinan dan penambangan, serta pelemahan permintaan global tetap perlu diwaspadai.

Jika harga dan volume penjualan turun bersamaan, kinerja keuangan TINS berisiko tertekan.

Terkait prospek saham, Adrian merekomendasikan sikap wait and see di tengah ketidakpastian industri.

Pergerakan saham TINS dinilai lebih ditentukan oleh harga timah global, volume produksi dan penjualan, serta nilai tukar dibandingkan fasilitas kredit semata.

Nafan menyarankan investor memantau realisasi penggunaan kredit, biaya pendanaan, pertumbuhan laba bersih, dan arus kas bebas. Indikator tersebut penting untuk menilai apakah tambahan pendanaan benar-benar diikuti perbaikan fundamental.

Laba Bersih Melonjak tapi Saham TINS Terjerembap, Asing Malah Diam-Diam Serok Bawah!

Dengan demikian, fasilitas kredit Bank Mandiri berpotensi menjaga kelancaran operasional TINS, tetapi belum menjamin pertumbuhan laba.

Prospek kinerja perusahaan tetap bergantung pada peningkatan produksi, ketersediaan bahan baku, efisiensi biaya, dan pengelolaan arus kas yang disiplin.

Advertisements

Also Read

Tags