BANYU POS JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mencatatkan kinerja positif dan berhasil mengakhiri perdagangan di zona hijau pada sesi penutupan hari Kamis (22/10/2026). Pergerakan pasar saham domestik menunjukkan penguatan yang terbilang signifikan seiring dengan terdorongnya performa sejumlah saham berkapitalisasi besar, khususnya dari sektor perbankan, telekomunikasi, hingga komoditas seperti PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. (BBRI), PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. (BMRI), dan PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM).
Berdasarkan rekaman data pasar finansial dari RTI Infokom, IHSG ditutup melesat sebesar 1,12 persen atau mengalami kenaikan yang membawa indeks mendarat di posisi level 5.387,90 pada akhir sesi perdagangan sore ini. Sepanjang jam perdagangan berlangsung, pergerakan indeks komposit ini tercatat cukup dinamis, bergerak dalam rentang batas bawah (low) pada level 5.185 hingga berhasil menyentuh titik tertinggi harian (high) pada posisi 5.422.
Dinamika perdagangan di Bursa Efek Indonesia pada hari ini memperlihatkan dominasi yang sangat kuat dari saham-saham yang mengalami kenaikan harga. Terhitung sebanyak 467 saham berhasil menguat dan menjadi penopang utama laju IHSG. Sementara itu, terdapat 204 saham yang bergerak melemah, dan sebanyak 123 saham tercatat bergerak stagnan atau tidak mengalami perubahan harga jika dibandingkan dengan posisi penutupan pada hari perdagangan sebelumnya. Seiring dengan melesatnya harga mayoritas saham tersebut, nilai total kapitalisasi pasar (market capitalization) IHSG mengalami peningkatan hingga mencapai angka Rp9.503 triliun.
Penguatan indeks pada perdagangan hari ini didorong secara dominan oleh pergerakan saham-saham perbankan milik badan usaha milik negara (BUMN) yang mencatatkan apresiasi harga cukup tinggi. Saham PT Bank Rakyat Indonesia (Persero) Tbk. dengan kode emiten BBRI tercatat melaju positif pada penutupan sore ini. Harga saham BBRI menguat sebesar 3,20 persen, yang membawa nilai sahamnya naik ke level Rp2.900 per lembar saham. Performa positif BBRI ini menjadi salah satu pendorong utama yang memberikan kontribusi poin cukup besar bagi pergerakan IHSG secara keseluruhan.
Tidak hanya BBRI, saham perbankan pelat merah lainnya yaitu PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. yang memiliki kode emiten BMRI juga menunjukkan performa yang sangat kokoh. Saham BMRI tercatat melonjak hingga 4,05 persen pada sesi perdagangan sore hari ini. Kenaikan tersebut mendorong nilai saham BMRI untuk bertengger di level harga Rp3.850 per lembar saham. Penguatan signifikan pada saham bank raksasa ini memperlihatkan adanya apresiasi pasar yang tinggi terhadap kinerja sektor keuangan nasional.
Melengkapi jajaran saham bank BUMN yang bergerak impresif, saham PT Bank Negara Indonesia (Persero) Tbk. dengan kode emiten BBNI juga mencatatkan lompatan harga yang sangat signifikan pada perdagangan hari ini. Saham BBNI terpantau melesat tajam sebesar 4,92 persen. Kenaikan persentase yang tinggi tersebut membawa harga saham BBNI berakhir di level Rp3.410 per lembar saham pada saat bel penutupan perdagangan dibunyikan sore hari.
Sektor telekomunikasi juga turut memberikan dorongan positif yang sangat penting terhadap laju kenaikan IHSG. Saham emiten pelat merah PT Telkom Indonesia (Persero) Tbk. (TLKM) tercatat mengalami penguatan sebesar 3,77 persen. Apresiasi harga tersebut mendorong saham TLKM untuk ditutup berada pada posisi level Rp2.200 per lembar saham. Pergerakan positif pada saham TLKM memperkuat posisi indeks komposit karena bobot kapitalisasinya yang terbilang besar dalam perhitungan IHSG.
Selain jajaran saham perbankan dan telekomunikasi BUMN, sejumlah saham dari sektor energi dan komoditas pertambangan juga ikut memperkuat posisi IHSG pada perdagangan Kamis ini. Saham emiten pertambangan dan energi PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) mencatatkan kenaikan sebesar 2,96 persen, yang membawa harganya parkir di posisi Rp139 per lembar saham. Di sisi lain, saham emiten pertambangan mineral PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) turut membukukan kenaikan yang cukup tebal, yakni melesat sebesar 4,41 persen hingga membawa harga sahamnya berada di posisi level Rp2.840 per lembar saham pada akhir sesi penutupan.
Meskipun IHSG berhasil mengakhiri perdagangan dengan catatan penguatan yang cukup solid, pergerakan indeks ini terjadi di tengah cermatnya perhatian dari para pelaku pasar modal. Berdasarkan analisis dari Tim Riset Pilarmas Investindo Sekuritas, pergerakan indeks saham domestik saat ini dipengaruhi oleh perhatian investor terkait dengan perkembangan kondisi potensi penurunan kasta atau downgrade klasifikasi pasar saham Indonesia oleh lembaga penyedia indeks global, MSCI. Para pelaku pasar terpantau terus mencermati dinamika ini sekaligus merespons berbagai masukan dan pernyataan resmi yang disampaikan oleh Presiden Republik Indonesia dalam menyikapi isu downgrade klasifikasi pasar saham Indonesia tersebut.
Di samping isu klasifikasi pasar tersebut, laju IHSG mendapatkan penopang sentimen positif yang kuat dari ranah kebijakan moneter dalam negeri. Langkah Bank Indonesia (BI) untuk mempertahankan suku bunga acuan (BI Rate) pada level 5,75 persen memberikan dorongan stabilitas bagi pasar finansial domestik. Keputusan bank sentral ini dinilai menjadi sinyal positif dalam menjaga kepastian iklim investasi di pasar modal Indonesia.
Selain menetapkan suku bunga acuan tetap di tingkat 5,75 persen, Bank Indonesia juga mengambil tindakan kebijakan dengan menaikkan tingkat suku bunga fasilitas deposito (deposit facility) menjadi sebesar 5 persen. Kebijakan peningkatan suku bunga fasilitas deposito ini ditujukan secara spesifik oleh bank sentral untuk mempertahankan tingkat imbal hasil (yield) dari aset-aset berdenominasi Rupiah agar tetap memiliki daya tarik yang kompetitif bagi investor. Langkah ini diharapkan mampu mendorong masuknya aliran dana asing (capital inflow) ke dalam pasar keuangan nasional.
Rangkaian keputusan kebijakan moneter yang ditetapkan oleh Bank Indonesia tersebut secara keseluruhan memiliki tujuan strategis untuk menstabilkan nilai tukar Rupiah di tengah kecenderungan gejolak ekonomi global. Kebijakan ini dirancang untuk tetap mendukung pertumbuhan ekonomi nasional serta memastikan pencapaian target inflasi berada dalam rentang sasaran 1,5 persen hingga 3,5 persen di tengah kondisi tekanan eksternal yang masih terus berlanjut.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




