Sejumlah raksasa produsen nikel asal Republik Rakyat Cina saat ini dilaporkan sedang melakukan evaluasi mendalam serta mengkaji opsi untuk memangkas volume produksi di fasilitas-fasilitas pemurnian dan pengolahan bahan baku baterai kendaraan listrik milik mereka yang beroperasi di Indonesia. Langkah strategis berupa rencana pengurangan kapasitas produksi ini dipertimbangkan sebagai wujud respons langsung terhadap besarnya tekanan penurunan harga logam nikel dan kobalt di pasar internasional yang terus menggerus tingkat profitabilitas operasional fasilitas pemurnian berbasis teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL).
Berdasarkan laporan yang dirilis oleh Bloomberg, jajaran produsen kakap asal Negeri Tirai Bambu yang terlibat dalam wacana ini mencakup Tsingshan Holding Group, GEM Co., Lygend Resources & Technology Co., serta Zhejiang Huayou Cobalt Co. Para pelaku industri utama ini disebut-sebut tengah menjadwalkan pertemuan intensif untuk membahas secara mendalam tingkat serta skala pemangkasan produksi yang bakal diterapkan pada unit-unit operasional mereka di Indonesia demi menahan laju kerugian akibat dinamika harga komoditas yang tidak menguntungkan.
Mengutip keterangan dari sumber-sumber yang mengetahui secara langsung rencana internal tersebut, perusahaan-perusahaan pemurnian nikel tersebut berencana melanjutkan kembali pembahasan yang sebelumnya pernah digelar pada bulan Agustus lalu. Diskusi yang dilaksanakan pada bulan Agustus tersebut diakui belum berhasil menghasilkan kesepakatan akhir maupun konsensus bersama di antara para pemangku kepentingan mengenai proporsi pengurangan output produksi. Oleh sebab itu, pertemuan lanjutan dipandang perlu guna menyelaraskan pandangan di tengah kondisi pasar yang semakin menantang.
Menurut pemaparan sumber tersebut, para produsen nikel kemungkinan besar akan memfokuskan pembahasan pada skema pengurangan produksi yang dihitung berdasarkan tingkat operasional aktual atau kapasitas utilisasi yang tengah berjalan di masing-masing fasilitas pemurnian saat ini. Walaupun demikian, detail mengenai formula rencana pemangkasan tersebut dipastikan masih bersifat sangat dinamis dan dapat berubah sewaktu-waktu tergantung pada perkembangan situasi pasar. Hingga saat ini, belum ada kepastian mutlak apakah pertemuan lanjutan tersebut akan benar-benar terlaksana sesuai jadwal, ataupun apakah negosiasi tersebut pada akhirnya mampu membuahkan kesepakatan mengikat mengenai aksi pemangkasan produksi secara bersama.
Secara teknis, fasilitas pemurnian dengan teknologi High-Pressure Acid Leach (HPAL) memiliki peranan yang amat krusial dalam rantai pasok industri kendaraan listrik global. Fasilitas HPAL ini berfungsi untuk mengolah bijih nikel kadar rendah (limonit) menjadi produk antara berupa Mixed Hydroxide Precipitate (MHP). Produk MHP ini merupakan senyawa perantara yang kaya akan kandungan nikel dan kobalt. Kedua jenis logam berharga tersebut selanjutnya dapat diproses dan dimurnikan lebih lanjut menjadi bahan baku pembuat katoda baterai dengan tingkat kemurnian tinggi sesuai spesifikasi ketat yang dibutuhkan oleh industri manufaktur otomotif global.
Kendati peran strategisnya sangat vital dalam mendukung transisi energi hijau, operasional fasilitas HPAL saat ini dihantam oleh keterpurukan harga komoditas di pasar global. Harga nikel yang ditransaksikan di bursa logam dunia, London Metal Exchange (LME), tercatat telah mengalami kemerosotan tajam hingga sekitar 20 persen jika dibandingkan dengan posisi harga tertingginya yang sempat tercapai pada bulan Mei. Tren penurunan harga komoditas nikel ini bahkan menunjukkan penurunan yang berlanjut secara konsisten sejak memasuki bulan Agustus.
Kondisi yang serba menantang di pasar komoditas ini kian diperparah oleh pergerakan harga logam kobalt, yang merupakan produk sampingan penting dari proses pengolahan HPAL. Harga kobalt di pasar internasional dilaporkan telah jatuh hingga menyentuh level terendahnya dalam kurun waktu satu tahun terakhir. Pada sesi perdagangan hari Kamis (22/10) pukul 13:53 WIB, harga nikel di London Metal Exchange tercatat kembali mengalami pelemahan sebesar 1,21 persen, yang menempatkan harganya berada pada level US$ 16.088 per ton.
Di samping faktor eksternal berupa anjloknya harga jual logam di bursa internasional, tekanan terhadap industri pemurnian nikel di Indonesia juga datang dari akumulasi beban biaya domestik yang kian meningkat. Tekanan terhadap operasional industri nikel nasional semakin menguat setelah pemerintah Indonesia mengambil langkah untuk memperketat alokasi kuota pertambangan bijih nikel serta menetapkan kenaikan harga acuan bijih nikel di dalam negeri. Kebijakan pemerintah ini pada dasarnya dirancang dengan tujuan untuk mengoptimalkan penerimaan negara dari sektor pertambangan, namun secara langsung memberikan efek domino berupa lonjakan beban biaya pengadaan bahan baku bagi perusahaan-perusahaan pengolahan nikel.
Pengetatan kuota pertambangan dan kenaikan harga bijih nikel domestik tersebut secara otomatis menekan margin usaha para pengelola fasilitas smelter dan HPAL. Perusahaan pemurnian dipaksa membayar biaya yang lebih tinggi untuk memperoleh pasokan bijih nikel limonit, di tengah situasi di mana harga jual produk akhir mereka seperti MHP justru sedang mengalami penurunan drastis di pasar internasional. Ketidakseimbangan antara biaya input bahan baku yang tinggi dan harga output produk yang rendah ini menggerus profitabilitas usaha secara signifikan.
Beban operasional fasilitas HPAL di Indonesia juga semakin bertambah akibat dinamika geopolitik global, khususnya eskalasi perang yang melibatkan Iran. Konflik bersenjata tersebut telah memicu kenaikan harga komoditas sulfur (belerang) di pasar internasional. Belerang atau asam sulfat merupakan salah satu bahan kimia reagen utama yang sangat penting dan mutlak diperlukan dalam proses pelindian asam bertekanan tinggi pada teknologi HPAL untuk mengekstrak nikel dan kobalt dari bijihnya. Lonjakan harga sulfur ini secara langsung melambungkan biaya variabel pemrosesan kimia pada fasilitas HPAL.
Selain faktor biaya bahan baku dan bahan kimia reagen, kendala teknis di tingkat operasional harian turut menambah rumit permasalahan yang dihadapi para pengelola smelter. Sejumlah fasilitas pengolahan HPAL di Indonesia dilaporkan menghadapi gangguan operasional yang disebabkan oleh masalah kekurangan pasokan air. Proses pengolahan nikel berbasis teknologi pelindian asam membutuhkan pasokan air bersih dalam jumlah yang amat besar untuk mendukung proses ekstraksi thermal dan kimiawi. Keterbatasan atau ketidakstabilan pasokan air bersih ini pada akhirnya mengganggu kelancaran serta kontinuitas rantai produksi di beberapa fasilitas pemurnian.
Situasi yang penuh tekanan ini menjadi perhatian serius mengingat besarnya skala investasi yang telah ditanamkan oleh perusahaan-perusahaan asal Cina di sektor nikel Indonesia. Selama beberapa tahun terakhir, korporasi Cina telah mengucurkan dana dalam jumlah yang sangat fantastis untuk membangun infrastruktur pengolahan dan pemurnian nikel di berbagai wilayah Indonesia. Berkat investasi masif tersebut, Indonesia berhasil mengukuhkan posisinya sebagai produsen nikel terbesar di dunia, dengan kontribusi menyumbang lebih dari separuh atau melebihi 50 persen dari total pasokan nikel global saat ini.
Mengingat porsi kontribusi Indonesia yang mendominasi lebih dari 50 persen pasokan nikel dunia, langkah atau kebijakan apa pun yang diambil oleh para produsen raksasa asal Cina seperti Tsingshan Holding Group, GEM, Lygend Resources & Technology, dan Zhejiang Huayou Cobalt dipastikan akan memiliki dampak yang sangat signifikan terhadap peta pasokan nikel global. Jika wacana pemangkasan produksi pada fasilitas HPAL di Indonesia ini benar-benar disepakati dan direalisasikan, hal tersebut berpotensi menahan laju oversuplai di pasar internasional serta mempengaruhi arah pergerakan harga bahan baku baterai kendaraan listrik secara global.




