Industri gim Asia Tenggara menyumbang perekonomian kawasan hingga US$8,2 miliar atau setara Rp147,6 triliun pada 2025. Laporan ini berdasarkan white paper “The Video Game Industry: Unlocking the Next Level of Economic and Social Development in Southeast Asia” yang diluncurkan Tencent bersama Access Partnership pada acara World Conference on Creativity Economy (WCCE) 2026 di Jakarta, Kamis (22/10).
Berdasarkan laporan, Malaysia merupakan penyumbang perekonomian industri gim tertinggi di Asia Tenggara per 2025, mencapai US$2,5 miliar atau setara 31% dari total nilai ekonomi industri gim di lima negara. Indonesia dan Thailand memiliki nilai yang mirip, masing-masing menyumbang US$1,8 miliar dan US$1,7 miliar. Diikuti Singapura sebesar US$1,3 miliar dan Filipina sebesar US$1 miliar.
Secara keseluruhan, industri gim di Asia Tenggara pada 2025 masih ditopang oleh industri manufaktur perangkat keras (hardware). Porsi sumbangan perekonomiannya rata-rata mencapai 55%. Di Malaysia dan Thailand, sumbangan industri manufaktur ini lebih besar lagi. Porsinya mencapai masing-masing 79% dan 65% dari total nilai perekonomian industri gim negara masing-masing.
Ada pola yang sedikit berbeda di Singapura. Di negara ini, porsi terbesar perekonomian industri gimnya berasal dari pengembangan dan peluncuran gim. Industrinya mencaplok 67% dari keseluruhan perekonomian industri gim Singapura. Ini menunjukkan, Singapura tidak bergantung pada industri manufaktur gim seperti negara-negara tetangga.
Filipina juga tidak sepenuhnya bergantung pada segmen manufaktur gim. Negara ini mengandalkan penjualan retail gim sebagai segmen penopang paling besar industri gimnya. Penjualan retail ini termasuk unit/kopi gim fisik dan perangkat pendukung gim. Porsinya mencapai 43%, lebih besar dibandingkan sumbangan segmen manufaktur perangkat keras yang sebesar 34%.
Indonesia di sisi lain masih bergantung pada sektor manufaktur perangkat keras gim. Porsi sumbangan manufaktur mencapai 47% dari total keseluruhan segmen industri gim tanah air. Namun begitu, segmen e-sports Indonesia merupakan kontributor tertinggi perekonomian e-sports se-kawasan Asia Tenggara. Kontribusinya mencapai US$432 juta atau setara 24% dari total perekonomian industri gim Indonesia pada 2025.
Per 2030, sumbangan industri gim terhadap perekonomian kawasan Asia Tenggara diproyeksikan bakal meningkat hingga US$14,2 miliar atau setara Rp256 triliun. Nilai ini meningkat 73,2% dibandingkan pada 2025. Selain itu, industri ini juga diestimasi bakal membuka lapangan pekerjaan hingga 1,16 juta pekerja pada 2030.
Malaysia diproyeksikan masih menopang perekonomian industri gim Asia Tenggara pada 2030, dengan nilai ekonomi mencapai US$4,4 miliar. Namun, pertumbuhan terbesar ada pada industri gim Indonesia dan Thailand, yang masing-masing mencapai nilai ekonomi US$3,3 miliar dan US$$3 miliar pada 2030.
“Dalam skenario pertumbuhan business as usual, Indonesia dan Thailand diproyeksikan memiliki pertumbuhan industri gim paling pesat, ditopang utamanya oleh pertumbuhan populasi pemain gim dan dukungan pemerintah dalam memantau pengembangan gim,” tulis laporan.
Berdasarkan segmen penopang, manufaktur perangkat keras masih menjadi penopang industri gim pada 2030. Di sisi lain, di saat kontribusi perekonomian segmen-segmen gim lain stagnan atau bahkan menurun, industri e-sports diproyeksikan meningkat dari porsi 12% menjadi 16%.
“Segmen e-sports diperkirakan akan menjadi segmen dengan pertumbuhan tercepat. Sementara pertumbuhan yang lebih luas di industri gim akan dipengaruhi oleh permintaan dari para pemain gim, investasi, ketersediaan talenta, dan lingkup kebijakan masing-masing negara,” tulis laporan.




