Harga minyak Brent menutup perdagangan pekan ini mendekati US$ 117 per barel. Angka ini merupakan level tertinggi sejak April lalu seiring meningkatnya eskalasi Timur Tengah melalui penyerangan kepada Arab Saudi yang menambah kekhawatiran pasokan.
Minyak mentah acuan global tersebut ditutup naik 3,1% pada US$ 116,72 per barel. Brent mengalami kenaikan harga 6% sepanjang pekan ini. Sementara itu, West Texas Intermediate (WTI) ditutup naik 3,8% pada US$ 103,27 per barel di New York.
Harga Brent telah naik lebih dari 85% sepanjang tahun ini akibat perang AS-Iran, yang kini mendekati bulan kesembilan. Harga produk minyak olahan meningkat lebih cepat, terutama solar. Namun, belakangan ini, arus minyak yang melewati Selat Hormuz melonjak sehingga menekan pasar minyak fisik, meskipun harga kontrak berjangka terus naik.
Eskalasi Timur Tengah meningkat saat kelompok militan Houthi yang didukung Iran mengklaim bertanggung jawab atas serangan baru-baru ini terhadap pelabuhan Yanbu di Laut Merah, Arab Saudi. Kelompok tersebut juga bertanggung jawab atas serangan mematikan terhadap ladang minyak dan bandara di kerajaan tersebut.
“Kekhawatiran akan eskalasi konflik selama akhir pekan turut mendorong kenaikan harga. Para pedagang merasa cemas, meskipun para analis geopolitik meremehkan kemungkinan tersebut,” kata pedagang energi senior di CIBC Private Wealth Group, Rebecca Babin, dikutip dari Bloomberg, Sabtu (24/10).
Kondisi tersebut memperluas ancaman permusuhan di sekitar Selat Hormuz, tempat ekspor minyak mentah yang aktivitasnya telah pulih mendekati level sebelum perang. Para pedagang minyak juga enggan mempertahankan posisi jual (short position) menjelang akhir pekan ketika pasar tutup. Sejumlah dinamika bullish di pasar opsi juga merambat ke pasar kontrak berjangka.
Di Gedung Putih pada Kamis (22/10), Presiden AS Donald Trump menyatakan Amerika telah melumpuhkan Iran dan mengancam akan melangkah sedikit lebih jauh, tanpa memberikan penjelasan lebih lanjut. The New York Times melaporkan pekan ini bahwa AS dan Israel telah menyusun rencana untuk kembali melancarkan serangan terhadap Iran selepas pemilihan paruh waktu AS pada awal bulan depan.
Hal serupa juga diungkapkan Duta Besar AS untuk PBB, Mike Waltz. Dia menyebut AS sedang bersiap menghadapi konflik berkepanjangan dengan Iran dan mungkin masih terjebak dalam kebuntuan satu tahun dari sekarang.
Ia menyebut Angkatan Laut AS dapat mempertahankan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran di masa mendatang dan pemerintahan AS tengah memperketat tekanan ekonomi terhadap Teheran.
Ahli strategi komoditas senior di TD Securities, Ryan McKay mengatakan, selain eskalasi konflik di Timur Tengah, tarif angkutan kini semakin menjadi faktor marginal yang penting dalam pergerakan harga.
“Harga minyak yang tinggi setelah tiba di lokasi tujuan berpotensi membatasi kenaikan harga minyak mentah karena margin yang melemah dapat membatasi tingkat pengolahan di kilang. Namun, kondisi ini pada akhirnya akan membuat pasokan produk minyak olahan sangat ketat,” ujar Ryan.
Sementara itu, kelompok Houthi yang berbasis di Yaman telah berulang kali menyerang Arab Saudi dalam beberapa bulan terakhir. Perusahaan minyak milik negara, Aramco, mengevakuasi kantor pusatnya di Dhahran pada Kamis dan meminta para karyawan bekerja dari rumah setelah muncul peringatan.
Kenaikan harga semakin terdorong karena para pedagang secara massal melakukan lindung nilai atas posisi short gamma. Ketika investor berbondong-bondong masuk ke pasar opsi, para pedagang yang menyediakan kontrak tersebut akan membeli atau menjual aset untuk menetralkan eksposur mereka yang berubah cepat.
Dinamika ini dikenal sebagai gamma hedging. Lonjakan harga mendorong lebih banyak pembelian sehingga berkontribusi pada reli yang memperkuat dirinya sendiri.
Meskipun arus minyak mentah dari Teluk Persia telah pulih, pengiriman produk minyak dari kawasan tersebut masih terkendala. Tekanan pasokan ini, bersama dengan meningkatnya serangan Ukraina terhadap kilang-kilang Rusia, telah mendorong pemerintah untuk menggunakan cadangan minyak mereka.
Trump juga mendorong sejumlah langkah untuk menurunkan harga menjelang pemilihan paruh waktu, termasuk kesepakatan solar dengan Moskow.
“Kami memperkirakan harga minyak mentah akan tetap cenderung naik dalam jangka pendek karena risiko eskalasi menjelang pemilihan umum Israel dan pemilihan paruh waktu AS masih tinggi,” kata McKay.




