BANYU POS JAKARTA — Pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di Bursa Efek Indonesia (BEI) mencatatkan kinerja positif yang sangat signifikan pada penghujung pekan perdagangan yang berakhir pada Jumat, 23 Oktober 2026. Berdasarkan data perdagangan pasar modal yang bersumber dari Bursa Efek Indonesia melalui RTI, IHSG sukses mencatatkan lonjakan penguatan sebesar 4,9% atau 4,90% sepanjang periode satu pekan perdagangan terakhir. Performa yang menguat ini menandai tren kenaikan yang stabil, di mana indeks pasar saham domestik tersebut mampu bertahan di zona hijau selama empat hari perdagangan berturut-turut hingga penutupan pekan.
Meskipun Indeks Harga Saham Gabungan mencatatkan laju kenaikan harga yang mengesankan selama empat hari berturut-turut, kondisi pasar modal Indonesia ini diwarnai oleh dinamika transaksi investor luar negeri yang kontras. Pemodal asing tercatat masih gencar membukukan aksi jual bersih atau net sell dalam kuantitas yang sangat jumbo di seluruh pasar. Angka akumulasi aksi pelepasan saham atau jual bersih yang dilakukan oleh investor asing tersebut menembus nilai fantastis, yakni mencapai Rp 8,72 triliun hanya dalam jangka waktu satu pekan perdagangan saja.
Mengutip data resmi Bursa Efek Indonesia via RTI, pada sesi akhir perdagangan hari Jumat (23/10/2026), Indeks Harga Saham Gabungan ditutup menguat sebesar 0,95% dan berhasil parkir di level 5.439,25. Kenaikan yang diraih pada perdagangan hari Jumat tersebut menjadi faktor penentu yang makin mengokohkan reli penguatan IHSG selama empat hari perdagangan berturut-turut sepanjang pekan ini. Kendati demikian, apresiasi harga saham secara keseluruhan yang tecermin dalam penguatan IHSG ternyata belum diimbangi oleh masuknya kembali aliran arus dana asing ke dalam pasar modal Indonesia.
Pada sesi perdagangan hari Jumat (23/10/2026) saja, laju tekanan jual yang dilancarkan oleh pemodal asing masih tergolong sangat tinggi di bursa. Investor luar negeri mencatatkan aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 1,29 triliun dalam kurun waktu satu hari perdagangan tersebut di seluruh pasar, yang mencakup pasar reguler, pasar tunai, maupun pasar negosiasi. Tingginya angka pelepasan bersih harian ini memberikan kontribusi langsung terhadap pembentukan total akumulasi net sell asing harian yang akhirnya menembus angka Rp 8,72 triliun dalam sepekan. Data perdagangan ini menunjukkan bukti konkret bahwa tekanan pelepasan aset oleh investor internasional masih terus berlanjut secara intensif, meskipun IHSG berhasil mengunci kenaikan mingguan yang cukup tinggi sebesar 4,90%.
Aksi pelepasan portofolio saham oleh pemodal asing secara akumulatif selama sepekan perdagangan ini tampak terkonsentrasi pada sejumlah saham emiten unggulan berkapitalisasi besar di bursa. Sektor perbankan menjadi target utama pelepasan portofolio oleh investor luar negeri, disusul oleh emiten dari sektor telekomunikasi, pertambangan mineral, energi batubara, serta konglomerasi industri terintegrasi. Secara terperinci, data Bursa Efek Indonesia mencatat ada sepuluh saham utama yang membukukan nilai pelepasan bersih atau net sell paling jumbo oleh investor asing sepanjang periode sepekan perdagangan hingga Jumat (23/10/2026).
Saham emiten yang menduduki urutan teratas dalam daftar aksi jual bersih investor asing sepanjang sepekan adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA). Saham emiten perbankan swasta terbesar di Indonesia ini mencatatkan nilai net sell asing paling tinggi dibandingkan dengan saham-saham lainnya di bursa modal. Dalam kurun waktu satu pekan perdagangan, total nilai jual bersih saham BBCA oleh investor asing menembus angka Rp 4,44 triliun. Angka pelepasan yang sangat besar pada saham BBCA ini menyumbang lebih dari separuh dari total akumulasi jual bersih asing di seluruh pasar selama sepekan.
Peringkat kedua dalam daftar saham yang paling banyak dilepas oleh pemodal internasional ditempati oleh emiten perbankan milik negara, yaitu PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI). Tekanan lepas portofolio pada saham BBRI juga tergolong sangat masif sepanjang sepekan perdagangan tersebut. Investor asing membukukan akumulasi aksi jual bersih atau net sell sebesar Rp 2,9 triliun pada saham emiten yang berfokus pada pembiayaan segmen usaha mikro, kecil, dan menengah ini.
Selanjutnya, saham emiten perbankan BUMN lainnya yang juga mengalami pelepasan aset secara bermakna oleh pemodal asing adalah PT Bank Mandiri Tbk (BMRI). Dalam jajaran sepuluh besar saham dengan akumulasi net sell terbesar pekan ini, BMRI menempati urutan ketiga. Nilai pelepasan bersih pemodal internasional pada saham Bank Mandiri selama kurun waktu satu pekan perdagangan tercatat mencapai Rp 1,33 triliun.
Di luar sektor perbankan konvensional, saham emiten penyedia layanan telekomunikasi terbesar di tanah air, yaitu PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), berada di posisi keempat dalam daftar saham yang paling banyak dilepas oleh pemodal asing. Sepanjang pekan perdagangan yang berakhir pada penutupan Jumat (23/10/2026), investor luar negeri membukukan nilai jual bersih atau net sell pada saham TLKM sebesar Rp 606,83 miliar.
Sektor perbankan berbasis syariah juga tidak luput dari aksi pelepasan portofolio oleh pemodal internasional. Saham PT Bank Syariah Indonesia Tbk (BRIS) menempati peringkat kelima sebagai saham dengan nilai net sell terbesar oleh investor asing sepanjang sepekan. Nilai akumulasi jual bersih investor luar negeri pada saham emiten bank syariah terbesar di Indonesia ini tercatat sebesar Rp 259,42 miliar.
Selain sektor keuangan dan telekomunikasi, saham dari emiten pertambangan logam dan mineral juga mencatatkan angka pelepasan bersih yang substansial dari investor luar negeri. Saham PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) menduduki posisi keenam dalam daftar tersebut. Terhitung selama periode satu pekan perdagangan hingga sesi penutupan Jumat (23/10/2026), akumulasi nilai net sell investor asing pada saham perusahaan produsen emas dan nikel ini mencapai Rp 255,51 miliar.
Sektor energi dan pertambangan komoditas batubara turut menyumbangkan saham-saham yang mengalami pelepasan bersih oleh pemodal luar negeri. Saham PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI) berada di posisi ketujuh dalam daftar sepuluh saham dengan pelepasan bersih terbesar asing. Aksi jual bersih investor asing pada saham AADI sepanjang periode sepekan tersebut terkumpul hingga menembus angka Rp 176,61 miliar.
Berada di posisi kedelapan adalah saham emiten pertambangan batubara milik BUMN, yakni PT Bukit Asam Tbk (PTBA). Saham perusahaan komoditas energi ini juga mengalami tekanan pelepasan portofolio oleh pemodal internasional. Sepanjang periode satu pekan perdagangan terakhir hingga penutupan Jumat (23/10/2026), nilai akumulasi net sell asing pada saham PTBA tercatat sebesar Rp 172,84 miliar.
Sektor pertambangan logam lainnya yang masuk ke dalam daftar sepuluh besar saham net sell asing pekan ini adalah PT Timah Tbk (TINS). Emiten BUMN produsen logam timah ini menempati urutan kesembilan dalam daftar. Dalam jangka waktu satu pekan perdagangan, total akumulasi nilai pelepasan bersih investor luar negeri pada saham TINS tercatat mencapai Rp 161,08 miliar.
Sementara itu, posisi kesepuluh atau urutan terakhir dalam daftar saham dengan nilai jual bersih terbanyak oleh pemodal asing diisi oleh emiten konglomerasi multisektor, yaitu PT Astra International Tbk (ASII). Perusahaan yang bergerak di berbagai sektor bisnis utama seperti otomotif, jasa keuangan, dan alat berat ini membukukan nilai net sell investor asing sebesar Rp 134,91 miliar selama periode sepekan perdagangan hingga penutupan Jumat (23/10/2026).




