Pergerakan mata uang global kembali menarik perhatian setelah euro tertekan oleh kekhawatiran terhadap utang pemerintah Prancis, sementara yen Jepang justru menguat di tengah aksi jual saham akal imitasi (AI). Situasi ini menunjukkan bahwa kondisi ekonomi suatu negara dan perubahan selera risiko investor bisa memengaruhi nilai tukar secara bersamaan.
Prancis menghadapi tekanan dari pasar obligasi, persoalan anggaran, hingga ketidakpastian politik yang membuat investor semakin berhati-hati. Di sisi lain, penurunan saham perusahaan teknologi berbasis AI mendorong sebagian pelaku pasar mencari aset yang dianggap lebih aman, termasuk yen.
Perbedaan arah kedua mata uang ini menjadi perhatian menjelang keputusan suku bunga sejumlah bank sentral utama dunia. Lantas, apa saja faktor yang memengaruhi pergerakan euro dan yen, serta bagaimana dampaknya terhadap pasar keuangan global?
1. Utang Prancis membuat euro semakin tertekan
Salah satu faktor utama yang menekan euro adalah meningkatnya kekhawatiran investor terhadap kondisi fiskal Prancis. Negara dengan ekonomi terbesar kedua di kawasan euro tersebut menghadapi persoalan anggaran, beban utang yang membesar, serta ketidakpastian politik akibat gelombang demonstrasi. Situasi ini membuat investor semakin berhati-hati dalam memegang obligasi pemerintah Prancis.
The Guardian melaporkan bahwa aksi jual obligasi Prancis turut meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas keuangan negara tersebut. Tekanan di pasar obligasi terlihat dari meningkatnya selisih imbal hasil obligasi pemerintah Prancis dan Jerman, yang menjadi salah satu indikator persepsi risiko investor.
Ketika investor menganggap risiko utang suatu negara meningkat, mereka cenderung meminta imbal hasil lebih tinggi sebagai kompensasi atau memilih mengurangi kepemilikan aset negara tersebut. Kondisi ini bisa menambah tekanan terhadap mata uang euro, terutama ketika masalah fiskal terjadi bersamaan dengan pertumbuhan ekonomi yang melemah. Risiko penurunan peringkat kredit Prancis oleh Moody’s juga menjadi perhatian karena dapat memperburuk sentimen pasar.
2. Euro melemah terhadap dolar AS dan yen Jepang
Tekanan terhadap euro terlihat jelas dalam perdagangan Jumat, 23 Oktober 2026. Mata uang tersebut turun 0,21 persen ke 1.1191 dolar AS atau sekitar Rp20.200 per euro, berdasarkan kurs referensi Bank Sentral Eropa (ECB) pada tanggal yang sama. Euro juga diperkirakan mengakhiri pekan dengan penurunan 0,43 persen terhadap dolar AS, menunjukkan bahwa tekanan yang terjadi gak terbatas pada satu sesi perdagangan. Pergerakan tersebut mencerminkan kehati-hatian investor terhadap prospek ekonomi dan kondisi politik di kawasan Eropa.
Pelemahan euro bahkan lebih besar ketika dibandingkan dengan yen Jepang. Euro sempat menyentuh level 175,08 yen, titik terendah sejak Oktober 2025, sebelum tercatat melemah 0,11 persen pada perdagangan terakhir yang dilaporkan. Sepanjang pekan itu, euro diperkirakan kehilangan sekitar 1,1 persen terhadap yen.
Perbedaan ini menunjukkan bahwa ketika euro menghadapi tekanan dari persoalan internal Eropa, yen justru memperoleh dukungan dari perubahan strategi investor di pasar global. Laporan Marketscreener pada 23 Oktober 2026 juga menyoroti pergerakan yen dan dolar AS menjelang pertemuan The Fed. Ketidakpastian pasar akibat aksi jual saham AI turut memengaruhi keputusan investor dalam memilih mata uang, sementara perhatian terhadap kebijakan suku bunga membuat pergerakan dolar AS cenderung tertahan.
3. Saham AI rontok, yen menjadi pilihan aset aman
Pelemahan saham perusahaan yang berkaitan dengan kecerdasan buatan turut memengaruhi pergerakan mata uang global. Pada Kamis, 22 Oktober 2026, aksi jual saham AI memicu kekhawatiran investor terhadap keberlanjutan lonjakan investasi di sektor teknologi tersebut.
Keraguan ini muncul ketika perusahaan teknologi menggelontorkan dana besar untuk pengembangan AI, termasuk pembangunan pusat data dan infrastruktur komputasi. Ketika prospek keuntungan investasi tersebut mulai dipertanyakan, investor cenderung mengurangi eksposur terhadap aset berisiko dan mencari alternatif yang dianggap lebih aman.
Yen Jepang menjadi salah satu mata uang yang diuntungkan dari perubahan sentimen tersebut. Dalam laporan Reuters, permintaan terhadap yen meningkat seiring munculnya kekhawatiran di pasar saham dan perubahan selera risiko investor. Yen tercatat berada di sekitar 156,9 per dolar AS pada Jumat, atau setara sekitar Rp115 per yen jika menggunakan kurs JISDOR Bank Indonesia sebesar Rp18.069 per dolar AS pada 23 Oktober 2026.
Meski demikian, penguatan yen ini gak otomatis berarti ekonomi Jepang sedang berada dalam kondisi yang sepenuhnya lebih baik, ya. Pergerakan ini juga dipengaruhi keputusan investor untuk mengurangi risiko ketika pasar saham bergejolak.
Dalam situasi seperti ini, kamu perlu membedakan antara penguatan mata uang karena membaiknya prospek ekonomi dan penguatan yang terjadi akibat meningkatnya permintaan terhadap aset yang dianggap aman.
4. Keputusan bank sentral menjadi perhatian investor
Selain perkembangan di Prancis dan pasar saham AI, investor juga menantikan pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve (The Fed), Bank Sentral Eropa (ECB), dan Bank of Japan (BOJ) pada pekan berikutnya. Ketiga bank sentral tersebut diperkirakan belum akan mengubah suku bunga dalam pertemuan mendatang.
Meski begitu, investor tetap menunggu sinyal mengenai kemungkinan perubahan kebijakan dalam beberapa bulan ke depan. Arah kebijakan ini penting karena bisa memengaruhi minat investor terhadap mata uang tertentu, terutama saat mereka mempertimbangkan potensi keuntungan dari aset yang dimiliki.
Di Amerika Serikat, pelaku pasar mengurangi sebagian ekspektasi kenaikan suku bunga pada Desember setelah aksi jual saham pada Kamis. Namun, kontrak berjangka suku bunga The Fed masih menunjukkan peluang sekitar 81 persen untuk kenaikan pada bulan tersebut.
Sementara itu, pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga ECB pada Desember mencapai 66 persen. Perbedaan ekspektasi kebijakan ini penting karena dapat mengubah selisih imbal hasil antarnegara dan memengaruhi keputusan investor dalam memilih euro, dolar AS, maupun yen.
Kondisi ekonomi Jepang juga memberikan petunjuk tambahan bagi arah yen. Data yang dirilis pada Jumat menunjukkan inflasi inti konsumen Jepang secara tahunan melampaui target BOJ sebesar 2 persen pada September untuk pertama kalinya dalam sembilan bulan.
Perkembangan tersebut memperkuat pertimbangan bahwa bank sentral Jepang mungkin perlu menaikkan suku bunga dalam waktu dekat. Pelaku pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga BOJ pada Desember mencapai 61 persen, sehingga perkembangan inflasi dan pernyataan pejabat bank sentral akan menjadi perhatian penting.
Pelemahan euro dan penguatan yen pada pekan ini memperlihatkan bagaimana pasar valuta asing bereaksi terhadap kombinasi risiko politik, persoalan utang pemerintah, dan perubahan sentimen terhadap saham teknologi.
Prancis menghadapi tekanan dari persoalan anggaran serta ketidakpastian sosial, sedangkan yen memperoleh dukungan ketika investor mengurangi risiko setelah saham AI mengalami aksi jual. Meski demikian, arah kedua mata uang tersebut masih dapat berubah seiring perkembangan ekonomi dan keputusan bank sentral dalam beberapa pekan mendatang.
Bagi kamu yang mengikuti perkembangan ekonomi global, ada tiga hal yang layak diperhatikan, yaitu kondisi fiskal Prancis, keberlanjutan investasi AI, dan arah suku bunga The Fed, ECB, serta BOJ. Ketiganya dapat memengaruhi pergerakan mata uang, pasar saham, hingga imbal hasil obligasi.
Namun, penguatan atau pelemahan dalam satu pekan belum tentu menggambarkan tren jangka panjang. Karena itu, memahami faktor di balik pergerakan pasar akan membantumu membaca berita keuangan secara lebih menyeluruh.
Prancis Kerahkan 70.000 Polisi Amankan Demo, Kendaraan Lapis Baja Disiagakan Utang Prancis Membengkak, Bayang-bayang Krisis Euro Kembali Menghantui




