Net Sell Asing Tembus Rp 6,67 T, Cek Saham BBCA dan BBRI

Hikma Lia

Pasar saham Indonesia mencatatkan dinamika perdagangan yang terbilang kontras sepanjang periode 19 hingga 23 Oktober 2026. Di satu sisi, aksi pelepasan portofolio oleh pemodal internasional masih berlanjut dalam jumlah yang signifikan. Investor asing membukukan nilai jual bersih atau net sell sebesar Rp 6,67 triliun di Bursa Efek Indonesia (BEI). Meski harus menghadapi gelombang tekanan jual dari pelaku pasar luar negeri tersebut, laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru berhasil bergerak melaju di zona hijau dan mencatatkan penguatan tajam sebesar 4,90% dalam kurun waktu sepekan, hingga akhirnya mengakhiri pekan perdagangan di level 5.439.

Advertisements

Berdasarkan data statistik mingguan resmi yang dirilis oleh Bursa Efek Indonesia (BEI), lonjakan aksi jual bersih investor asing ini mengalami peningkatan yang cukup substansial jika dibandingkan dengan catatan pada pekan sebelumnya. Pada pekan terdahulu, nilai net sell asing tercatat sebesar Rp 3,19 triliun. Dengan demikian, terdapat penambahan intensitas tekanan jual bersih dari pemodal asing sebesar Rp 3,48 triliun hanya dalam jangka waktu satu pekan perdagangan.

Secara rinci, total nilai transaksi jual saham yang dilakukan oleh investor asing sepanjang pekan 19–23 Oktober 2026 mencapai angka Rp 43,62 triliun. Jumlah tersebut jauh lebih tinggi apabila dibandingkan dengan total nilai transaksi beli saham oleh investor asing yang hanya membukukan angka sebesar Rp 36,95 triliun. Selisih antara transaksi jual dan transaksi beli inilah yang membentuk angka akumulasi jual bersih atau net sell asing sebesar Rp 6,67 triliun.

Advertisements

Meskipun arus modal keluar (capital outflow) dari investor asing tergolong deras, IHSG membuktikan ketahanannya dengan tetap mencatatkan penguatan secara agregat. Kenaikan indeks secara keseluruhan menggambarkan adanya daya beli domestik maupun dorongan transaksi yang cukup kuat untuk menopang pergerakan harga saham di lantai bursa. IHSG secara resmi menutup pekan perdagangan tersebut pada level 5.439,26. Posisi ini menunjukkan lonjakan sebesar 254,15 poin jika dibandingkan dengan posisi penutupan pekan sebelumnya yang berada pada level 5.185,10.

Sepanjang pergerakannya dalam lima hari perdagangan tersebut, IHSG bergerak cukup fluktuatif dalam rentang yang relatif lebar. Indeks sempat tertekan hingga menyentuh titik terendahnya di level 4.907,37. Kendati demikian, aksi beli kemudian mendorong indeks naik secara konsisten hingga sempat mencatatkan titik tertinggi mingguan di level 5.455,21 sebelum akhirnya bertengger sedikit di bawah level tertinggi tersebut pada saat penutupan pekan.

Di tengah berlanjutnya aksi jual bersih oleh pemodal asing, pergerakan nilai transaksi di pasar reguler masih didominasi secara kuat oleh kelompok saham perbankan berkapitalisasi pasar besar (big cap). Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi emiten dengan pencapaian nilai transaksi tertinggi di Bursa Efek Indonesia sepanjang pekan tersebut. Nilai perdagangan saham BBCA secara keseluruhan menembus angka Rp 15,40 triliun. Angka fantastis ini setara dengan 15,14% dari total akumulasi nilai transaksi seluruh saham yang masuk dalam daftar papan atas perdagangan BEI.

Posisi kedua dalam daftar saham dengan nilai transaksi terbesar ditempati oleh emiten perbankan milik negara, PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), yang berhasil membukukan nilai transaksi sebesar Rp 9,26 triliun. Mengikuti di urutan ketiga adalah saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) dengan akumulasi nilai perdagangan mencapai Rp 7,11 triliun. Sementara itu, emiten di sektor telekomunikasi, PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM), berada di peringkat berikutnya dengan mencatatkan total nilai transaksi sebesar Rp 5,79 triliun.

Selain deretan saham sektor perbankan dan telekomunikasi yang rutin menghuni posisi papan atas, terdapat pula pergerakan signifikan pada saham teknologi dan infrastruktur digital. Saham PT Solusi Sinergi Digital Tbk (WIFI) mencatatkan nilai transaksi perdagangan yang terbilang jumbo, yakni mencapai Rp 4,32 triliun sepanjang pekan.

Emiten pertambangan batu bara dan energi, PT Bumi Resources Tbk (BUMI), turut mencatatkan aktivitas nilai transaksi yang terbilang padat dengan total nilai perdagangan mencapai Rp 2,13 triliun. Beberapa saham emiten terkemuka lainnya juga mengisi deretan saham teratas berdasarkan nilai transaksi mingguan, antara lain PT Astra International Tbk (ASII) dengan nilai transaksi Rp 1,99 triliun, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar Rp 1,85 triliun, serta PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) yang membukukan nilai perdagangan Rp 1,70 triliun.

Tingginya angka nilai transaksi pada saham-saham papan atas tersebut perlu dipahami secara cermat oleh para pelaku pasar. Tingginya nilai transaksi perdagangan tidak secara otomatis mengindikasikan bahwa investor asing mencatatkan akumulasi beli bersih (net buy) pada saham-saham yang bersangkutan. Angka transaksi yang tercatat dalam statistik mingguan bursa menggambarkan akumulasi total aktivitas perdagangan secara keseluruhan—mencakup transaksi beli dan jual oleh seluruh kategori investor, baik domestik maupun asing—dan bukan merupakan rincian khusus mengenai arah arus modal bersih asing pada masing-masing emiten.

Saham GOTO dan BUMI Ramai Diperdagangkan

Ditinjau dari parameter volume perdagangan saham, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) berhasil menempati posisi puncak sebagai saham yang paling aktif ditransaksikan oleh para investor. Volume perdagangan saham GOTO sepanjang pekan 19–23 Oktober 2026 tercatat menyentuh angka 40,40 miliar lembar saham. Porsi transaksi saham GOTO ini mengambil bagian yang sangat dominan, yakni mencakup sekitar 20,22% dari total akumulasi volume perdagangan dalam daftar jajaran saham teraktif di BEI.

Menempel di posisi kedua berdasarkan volume perdagangan adalah saham PT Bumi Resources Tbk (BUMI). Emiten pertambangan ini mencatatkan volume transaksi sebesar 16,16 miliar lembar saham sepanjang pekan. Setelah BUMI, jajaran saham dengan volume terbanyak diisi oleh emiten grup konglomerasi PT Bakrie & Brothers Tbk (BNBR) dengan total volume 4,83 miliar lembar saham, disusul emiten kontraktor pertambangan PT Darma Henwa Tbk (DEWA) sebanyak 4,26 miliar lembar saham, serta emiten infrastruktur energi PT Astrindo Nusantara Infrastruktur Tbk (BIPI) yang membukukan volume transaksi 3,64 miliar lembar saham.

Meskipun memiliki nilai nominal per lembar saham yang relatif lebih tinggi, saham-saham perbankan raksasa juga tetap mampu menembus jajaran teratas saham dengan volume transaksi terbanyak. Saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) membukukan volume transaksi mencapai 3,46 miliar lembar saham, sedangkan saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan volume perdagangan sebanyak 3,06 miliar lembar saham.

Sementara itu, jika ditinjau dari kriteria frekuensi transaksi—yang mencerminkan seberapa sering alur perikatan jual-beli terjadi di sistem perdagangan bursa—saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) menjadi yang paling unggul. Transaksi atas saham BBRI tercatat dilakukan sebanyak 455 ribu kali sepanjang pekan. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menyusul ketat di posisi kedua dengan frekuensi transaksi mencapai 441 ribu kali, sedangkan saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan frekuensi perdagangan sebanyak 294 ribu kali.

Laju penguatan pesat IHSG hingga tumbuh 4,90% sepanjang pekan tersebut tidak terlepas dari peran krusial saham-saham berkapitalisasi pasar besar (big cap), khususnya yang berasal dari sektor perbankan. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) tampil sebagai pemuncak kontributor positif yang mendorong kenaikan indeks, dengan menyumbangkan poin terhadap IHSG sebesar 40,65 poin. Penguatan kontribusi BMRI ini sejalan dengan lompatan harga sahamnya yang melonjak hingga 15,04% dalam sepekan.

Kontributor terbesar kedua terhadap kenaikan IHSG adalah saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) yang memberikan bobot sumbangan sebesar 39,76 poin bagi penguatan indeks. Kenaikan poin ini terjadi seiring dengan penguatan harga saham BBRI sebesar 10,23%. Di sektor non-bank, saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) tampil impresif sebagai penopang utama dengan memberikan kontribusi positif sebesar 31,31 poin terhadap IHSG, didorong oleh kenaikan harga sahamnya yang meroket 17,89% sepanjang pekan perdagangan.

Dua saham big cap lainnya yang turut masuk ke dalam jajaran lima besar penggerak utama (leader) penguatan IHSG adalah PT Bank Negara Indonesia Tbk (BBNI) dan PT Astra International Tbk (ASII). Sepanjang pekan 19–23 Oktober 2026, harga saham BBNI mencatatkan penguatan tajam sebesar 15,15%, sementara harga saham ASII sukses membukukan kenaikan sebesar 8,59%.

Di sisi yang berlawanan, tidak semua saham berkapitalisasi besar bergerak searah dengan penguatan IHSG. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) justru bertindak sebagai penekan utama (laggard) pergerakan indeks. Saham BBCA memberikan kontribusi negatif dengan menggerus IHSG sebesar 13,66 poin, setelah harga sahamnya mencatatkan penurunan sebesar 2,9% sepanjang pekan. Selain BBCA, tekanan terhadap laju indeks juga datang dari penurunan harga saham PT Mora Telematika Indonesia Tbk (MORA) dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang turut masuk dalam daftar emiten pemberat kinerja IHSG pada periode tersebut.

Advertisements

Also Read

Tags