BANYU POS – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mulai bangkit setelah tertekan sentimen downgrade pasar Indonesia ke standalone market oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
Di tengah aksi jual bersih investor asing yang masih berlanjut, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) berkomitmen memperkuat penegakan hukum dan membenahi transparansi pasar untuk menjaga kepercayaan investor.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG ditutup menguat 4,9% sepanjang perdagangan 19–23 Oktober 2026 ke level 5.439,26 pada Jumat (23/10), dibandingkan dengan posisi akhir pekan sebelumnya di level 5.185,10.
Namun, penguatan tersebut terjadi saat investor asing masih mencatatkan net sell sebesar Rp1,28 triliun pada Jumat (23/10). Secara kumulatif sepanjang 2026, jual bersih asing di pasar saham domestik mencapai Rp94,87 triliun.
Ketua Dewan Komisioner OJK Friderica Widyasari Dewi mengatakan pemulihan IHSG ditopang oleh kekuatan investor domestik, termasuk aksi pembelian kembali saham buyback oleh emiten dan partisipasi investor ritel.
“Alhamdulillah market kita sudah rebound. Ini kekuatan domestik, karena asing masih net sale. Jadi ini kekuatan domestik yang melakukan buyback dan investor retail kita yang juga luar biasa,” ujarnya dalam pernyataan resmi, Minggu (25/10/2026).
Meski demikian, OJK menilai ketahanan pasar tidak cukup diukur dari pemulihan indeks. Penguatan integritas perdagangan, keterbukaan informasi, dan fundamental emiten tetap menjadi pekerjaan penting, terutama di tengah sorotan MSCI terhadap kualitas pasar modal Indonesia.
Kiki, sapaan akrabnya menilai OJK telah menjatuhkan sanksi senilai Rp1,5 triliun kepada pihak-pihak yang melakukan pelanggaran serta mengidentifikasi dua perusahaan yang diduga melakukan manipulasi pasar. Penanganan perkara tersebut dilakukan melalui koordinasi antarlembaga.
OJK juga berkomitmen melanjutkan penegakan hukum dan pembenahan pasar guna meningkatkan transparansi, likuiditas, serta kredibilitas pasar modal Indonesia.
“Kami akan cermati, kami akan lakukan terus perbaikan-perbaikan yang ada supaya market kita semakin kredibel, makin liquid, makin transparan dan bisa menjadi rumah untuk investasi masyarakat kita ke depan,” ujar Friderica.
Fundamental Emiten Jadi Penopang
Di tengah tekanan pasar, fundamental perusahaan tercatat masih menunjukkan pertumbuhan. Kiki menyebut pendapatan emiten pada kuartal II/2026 tumbuh 15,9%, disertai peningkatan laba bersih. Dari total 962 perusahaan tercatat, sebanyak 74% membukukan laba.
Menurutnya, kinerja tersebut menjadi salah satu fondasi ketahanan pasar saham domestik di tengah gejolak sentimen eksternal.
Terkait evaluasi MSCI, Friderica menyampaikan bahwa dalam penilaian Juni 2026, Indonesia memperoleh penilaian positif pada 16 dari 18 indikator yang dibandingkan dengan negara berstatus emerging market.
Indonesia juga telah menerapkan ambang batas keterbukaan kepemilikan saham sebesar 1% serta memiliki 39 klasifikasi investor. Ketentuan tersebut dinilai mendukung penyediaan informasi kepemilikan dan karakteristik investor secara lebih terperinci.
Meski demikian, OJK tetap akan mencermati berbagai masukan terkait kualitas data kepemilikan saham dan transparansi perdagangan. Pembenahan tersebut diharapkan dapat memperkuat kepercayaan investor, sehingga pemulihan IHSG tidak hanya ditopang oleh aksi beli jangka pendek, tetapi juga oleh kualitas dan kredibilitas pasar dalam jangka panjang.




