Harga Minyak WTI dan Brent Kompak Anjlok, Berpotensi Jatuh ke US$ 95

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Harga minyak mentah West Texas Intermediate (WTI), salah satu patokan utama dalam pasar komoditas energi global, kembali menghadapi tekanan signifikan yang mengarah pada pelemahan lanjutan pada awal pekan ini. Dinamika pergerakan harga minyak ini selalu menjadi sorotan utama bagi para pelaku pasar, mengingat perannya yang krusial dalam perekonomian dunia dan sebagai indikator kesehatan ekonomi makro. Penurunan yang terjadi ini mencerminkan kompleksitas sentimen yang sedang memengaruhi pasar, mulai dari faktor teknikal hingga fundamental yang saling bertolak belakang.

Advertisements

Berdasarkan data yang dihimpun dari Bloomberg pada Senin (26/10/2026) hingga pukul 16.40 WIB, harga minyak mentah WTI tercatat mengalami koreksi sebesar 2,53%, menempatkannya pada level US$ 100,74 per barel. Penurunan ini menandakan adanya tekanan jual yang cukup kuat di pasar. Tidak hanya WTI, jenis minyak mentah Brent, yang juga merupakan patokan global lainnya, turut mengalami pelemahan. Minyak jenis Brent turun 2,47%, diperdagangkan di level US$ 114,25 per barel. Kedua patokan ini, WTI dan Brent, seringkali bergerak sejalan meskipun memiliki karakteristik pasar dan pasokan yang sedikit berbeda, namun keduanya sensitif terhadap sentimen makroekonomi dan geopolitik global.

Pelemahan ini memicu perhatian serius dari para analis pasar. Geraldo Kofit, seorang analis dari Dupoin Futures, menyoroti bahwa ketidakmampuan harga untuk menembus level batas atas atau area resistensi merupakan sebuah sinyal peringatan yang krusial bagi para pelaku pasar. Dalam analisis teknikal, level resistensi adalah harga di mana tekanan jual diperkirakan akan cukup kuat untuk mencegah harga naik lebih lanjut. Kegagalan untuk melampaui level ini seringkali diinterpretasikan sebagai indikasi bahwa momentum kenaikan harga mulai melemah, dan potensi pembalikan arah atau koreksi harga menjadi lebih besar. Ini adalah informasi vital yang digunakan investor untuk meraba arah pergerakan komoditas energi, terutama minyak mentah yang volatilitas harganya seringkali tinggi.

Advertisements

Secara lebih spesifik, berdasarkan analisis timeframe daily, Geraldo mengidentifikasi area US$ 102,51–US$ 104,21 sebagai benteng pertahanan atas utama bagi harga minyak WTI. Area ini tidak hanya sekadar titik resistensi, melainkan sebuah zona harga yang secara historis menunjukkan adanya akumulasi tekanan jual yang signifikan. Kegagalan harga untuk mempertahankan posisinya di atas area krusial ini, yang sering disebut sebagai False Break atau penembusan palsu, menjadi indikasi kuat bahwa dorongan beli dari pelaku pasar mulai kehilangan kekuatannya. Ketika pembeli tidak lagi memiliki kekuatan yang cukup untuk mendorong harga melampaui level resistensi ini dan mempertahankannya, maka dominasi penjual mulai terasa, membuka jalan bagi potensi penurunan harga minyak mentah.

Geraldo Kofit menegaskan bahwa situasi ini, di mana harga gagal bertahan di atas area US$ 102,51–US$ 104,21, secara signifikan memperbesar peluang terjadinya koreksi harga. Potensi koreksi ini akan semakin kuat apabila tekanan jual di pasar terus meningkat. Peningkatan tekanan jual dapat dipicu oleh berbagai faktor, termasuk kekhawatiran akan perlambatan ekonomi global, peningkatan pasokan yang tidak terduga, atau perubahan sentimen investor secara keseluruhan. Oleh karena itu, kemampuan harga minyak WTI untuk menahan diri dari tekanan jual yang berkelanjutan akan menjadi penentu utama arah pergerakannya dalam waktu dekat. Pelaku pasar perlu memantau volume perdagangan dan indikator teknikal lainnya untuk mengukur seberapa kuat tekanan jual yang sedang berlangsung.

Di sisi fundamental, dinamika harga minyak mentah saat ini masih terjebak dalam tarik-menarik sentimen yang kompleks dan saling berlawanan. Salah satu faktor utama yang memberikan dukungan pada harga adalah ketegangan geopolitik. Konflik atau ketidakpastian di wilayah-wilayah produsen minyak utama atau jalur distribusi energi vital dapat memicu kekhawatiran serius mengenai gangguan pasokan. Kekhawatiran semacam ini secara alami cenderung mendorong harga minyak naik, karena pasar mengantisipasi potensi kekurangan. Sentimen geopolitik ini terbukti menjadi katalis penting yang menahan harga minyak agar tidak jatuh terlalu dalam, bahkan di tengah tekanan lainnya. Ini menunjukkan betapa sensitifnya pasar komoditas energi terhadap peristiwa-peristiwa global yang memengaruhi stabilitas pasokan.

Namun, di sisi lain, prospek pelemahan permintaan energi global menjadi faktor penekan yang signifikan. Kekhawatiran terhadap perlambatan ekonomi di berbagai negara besar, inflasi yang tinggi, dan potensi resesi, membuat investor menjadi lebih berhati-hati. Ketika pertumbuhan ekonomi melambat, permintaan akan bahan bakar untuk industri, transportasi, dan konsumsi rumah tangga cenderung menurun. Prospek permintaan yang lesu ini menciptakan tekanan jual di pasar, karena pasokan yang ada mungkin melebihi kebutuhan riil. Meskipun ketegangan geopolitik memberikan dukungan, sentimen fundamental yang mengarah pada pelemahan permintaan terbukti belum cukup kuat untuk secara konsisten melawan tekanan teknikal yang membayangi, sehingga menciptakan ketidakpastian arah harga minyak.

Merespons fluktuasi harga yang dipicu oleh sentimen yang saling bertolak belakang ini, dinamika harga pada level-level kunci akan sangat menentukan nasib pergerakan harga minyak WTI ke depan. Level-level kunci ini mencakup baik area resistensi maupun dukungan, yang menjadi medan pertempuran antara pembeli dan penjual. Geraldo Kofit menjelaskan bahwa penembusan yang valid di atas level resistensi dapat membuka peluang yang lebih luas untuk kenaikan lanjutan. Penembusan valid berarti harga tidak hanya melewati level tersebut sesaat, tetapi juga mampu bertahan dan berkonsolidasi di atasnya, mengindikasikan pergeseran dominasi pasar dari penjual ke pembeli. Sebaliknya, kegagalan berulang kali untuk menembus resistensi, atau bahkan kegagalan untuk bertahan di atas level dukungan, berpotensi mempertahankan tekanan bearish yang sedang melanda pasar.

Lebih lanjut, Geraldo menambahkan bahwa prospek pergerakan harga minyak WTI ke depan terancam membentuk pola ABC Correction. Dalam analisis teknikal, pola ABC Correction adalah pola korektif tiga gelombang yang biasanya terjadi setelah tren naik yang kuat, menandakan fase konsolidasi atau koreksi harga sebelum kemungkinan melanjutkan tren utama atau memicu pembalikan tren yang lebih besar. Pola ini mengindikasikan bahwa pergerakan harga saat ini adalah bagian dari fase korektif yang lebih besar, bukan hanya fluktuasi jangka pendek. Implikasi dari pola ini adalah bahwa harga cenderung bergerak menuju level dukungan yang lebih rendah, kecuali ada katalis kuat yang dapat membalikkan sentimen pasar.

Selama harga minyak WTI belum mampu menembus area resistensi secara meyakinkan dan bertahan di atasnya, WTI diproyeksikan akan bergerak menuju zona dukungan pertama yang berada di level US$ 97,65 per barel. Level dukungan ini merupakan area di mana tekanan beli diperkirakan akan muncul untuk menahan penurunan harga. Namun, jika tekanan jual terus berlanjut dengan intensitas yang tinggi dan berhasil menembus zona dukungan pertama ini, pelemahan harga dapat terseret lebih dalam lagi. Proyeksi selanjutnya menunjukkan bahwa harga minyak WTI berpotensi bergerak menuju level US$ 95,25 per barel, yang akan menjadi zona dukungan penting berikutnya bagi para pelaku pasar yang memantau pergerakan komoditas ini. Penembusan level dukungan ini akan menjadi sinyal negatif yang sangat kuat bagi prospek harga minyak.

Sebagai katalis perubahan momentum yang perlu dicermati oleh pelaku pasar, level US$ 101 per barel memegang peranan penting. Level ini berada di antara area resistensi dan dukungan yang telah disebutkan, dan pergerakan harga di sekitar level ini dapat memberikan petunjuk signifikan mengenai arah selanjutnya. Apabila level US$ 101 ini berhasil ditembus dan dipertahankan secara valid oleh harga minyak WTI, ini dapat mengindikasikan adanya pergeseran sentimen pasar yang potensial. Jika hal ini terjadi, prospek bearish yang saat ini mendominasi perlu dievaluasi kembali secara menyeluruh. Penembusan dan penahanan di atas US$ 101 bisa menjadi sinyal awal bahwa momentum beli mulai kembali kuat, berpotensi membatalkan skenario koreksi yang lebih dalam dan membuka peluang untuk pemulihan harga minyak mentah.

Advertisements

Also Read

Tags