KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah pada perdagangan Senin (26/10/2026). IHSG terkoreksi 1,22% dan ditutup di level 5.373,04. Dengan demikian, indeks telah merosot 37,86% sejak awal tahun atau secara year to date (YtD).
Di tengah tekanan tersebut, valuasi pasar saham Indonesia kini berada pada level yang relatif murah. Ini tercermin dari rasio harga terhadap laba atau price to earnings ratio (PE) IHSG yang berada di kisaran 11 kali.
Menariknya, sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI) memiliki rasio PE jauh di bawah rata-rata valuasi IHSG. Misalnya saja, PTBA memili PE sekitar 7,95 kali, TINS 7,78 kali, ANTM 7,72 kali, ITMG 7,63 kali, INDF 6,19 kali, BBNI 6,15 kali, CPIN 6,08 kali, BMRI 5,67 kali, JPFA 4,04 kali, BBTN 3,18 kali dan lainnya.
Meski Pendapatan Naik, Bukalapak (BUKA) Catat Rugi di Kuartal III 2026
Chief Economist & Head of Research Mirae Asset Sekuritas Rully Arya Wisnubroto mengatakan PE IHSG yang berada di sekitar 11 kali menunjukkan valuasi pasar saham Indonesia secara keseluruhan sudah mengalami penurunan yang cukup signifikan.
Ini membuka peluang investasi, terutama pada perusahaan yang fundamentalnya masih solid tetapi harga sahamnya ikut tertekan akibat sentimen pasar.
Namun, PE yang lebih rendah dari IHSG tidak otomatis berarti suatu saham sudah murah. Pelaku pasar perlu melihat karakteristik bisnis dan prospek pertumbuhan laba masing-masing perusahaan.
Saham dengan PE 6 kali, misalnya, belum tentu lebih menarik dibandingkan saham dengan PE 12 kali apabila perusahaan menghadapi risiko penurunan laba yang jauh lebih besar.
“Jadi, kami melihat valuasi rendah sebagai titik awal untuk mencari peluang investasi, bukan sebagai dasar utama keputusan pembelian,” kata Rully kepada Kontan, Senin (26/10/2026).
Senada, Head of Research Kiwoom Sekuritas Liza Camelia Suryanata menilai rasio PE yang rendah sebaiknya digunakan sebagai pintu masuk dalam proses penyaringan saham, bukan langsung dianggap sebagai sinyal beli.
Menurut Liza, faktor utama yang perlu diperhatikan investor adalah seberapa lama laba perusahaan dapat dipertahankan. Sebab, saham dengan PE di bawah rata-rata IHSG yang berada di kisaran 11 kali belum tentu murah jika mempertimbangkan perbedaan karakteristik sektor, prospek pertumbuhan, serta risiko bisnis masing-masing emiten.
Simak Prospek Kinerja Emiten Grup Salim yang Kompak Buyback Saham Rp 2,25 Triliun
Maka dari itu, investor perlu membandingkan valuasi perusahaan dengan emiten lain di sektor sejenis maupun dengan riwayat valuasi saham tersebut sendiri. Selain itu, investor juga perlu memastikan basis perhitungan PE yang digunakan konsisten, baik berdasarkan laba 12 bulan terakhir maupun estimasi laba ke depan atau forward PE.
“Contoh sederhana, saham PE 5 kali akan menjadi 10 kali kalau laba per saham turun separuh, meskipun harga sahamnya tidak berubah. Jadi yang terlihat murah hari ini bisa sebenarnya sedang mengantisipasi penurunan laba besok,” ujar Liza.
Faktor Penyebab Valuasi Saham Rendah
Liza menjelaskan rendahnya valuasi bisa dipicu faktor bisnis maupun kondisi pasar. Dari sisi bisnis, penyebabnya antara lain pertumbuhan yang melambat, margin yang tertekan, dan beban utang yang mahal. Dari sisi pasar, ketidakpastian kebijakan membuat investor meminta diskon valuasi yang lebih besar.
Liza juga mengingatkan, pada bisnis siklikal seperti komoditas, PE justru bisa tampak paling rendah ketika laba sedang berada di puncak siklus dan sulit diulang. Laba dari penjualan aset atau keuntungan nonberulang juga perlu dikeluarkan saat menilai kemampuan laba normal perusahaan.
“Untuk Indonesia sekarang, menurut saya diskon valuasi juga perlu dibaca bersama persoalan kepercayaan dan risiko alokasi dana, mengingat MSCI masih mengonsultasikan kemungkinan perubahan status menjadi Standalone,” ucap Liza.
Liza menegaskan kembali bahwa saham berkualitas pun bisa ikut dilepas ketika pengelola dana menyesuaikan portofolio dengan benchmark. Karena itu, turunnya harga belum tentu sepenuhnya mencerminkan kerusakan bisnis. Investor perlu membedakan antara diskon akibat tekanan jual yang bersifat sementara dan diskon karena prospek perusahaan memang memburuk.
Di samping itu, Rully menerangkan ada beberapa faktor yang menyebabkan PE sejumlah saham tergolong rendah. Pertama, pasar memperkirakan pertumbuhan laba perusahaan akan melambat atau bahkan menurun. Ini cukup relevan untuk perusahaan yang bergerak di sektor komoditas atau industri yang sangat bergantung pada siklus ekonomi.
Kedua, PE yang rendah juga bisa disebabkan oleh laba perusahaan yang sedang berada pada level tinggi dan belum tentu dapat dipertahankan. Ketika laba kembali normal, PE saham tersebut sebenarnya bisa meningkat meskipun harga sahamnya tidak berubah.
Koreksi Harga Emas Berpotensi Tekan Prospek Kinerja Emiten, Ini Rekomendasi Sahamnya
Ketiga, terdapat faktor risiko yang membuat investor meminta diskon valuasi lebih besar, seperti tingginya utang, lemahnya arus kas, persoalan tata kelola, atau ketidakpastian prospek bisnis.
Selain itu, dalam kondisi pasar Indonesia saat ini, tekanan jual investor asing dan ketidakpastian MSCI juga dapat menyebabkan valuasi sejumlah saham berada di bawah rata-rata historisnya, meskipun fundamental perusahaan belum tentu mengalami perubahan yang sebanding.
Saham Murah atau Value Trap?
Rully turut menjelaskan, dalam membedakan saham murah dengan value trap, faktor keberlanjutan laba menjadi yang faktor pertama yang perlu diperhatikan. Investor sebaiknya tidak hanya menggunakan trailing PE berdasarkan laba 12 bulan terakhir, tetapi juga melihat proyeksi laba satu hingga dua tahun ke depan.
Kedua, perhatikan kualitas laba dan arus kas operasional. Perusahaan yang mencatat laba besar tetapi tidak mampu menghasilkan arus kas yang memadai perlu dicermati lebih hati-hati.
Ketiga, bandingkan valuasi dengan rata-rata historis perusahaan dan emiten sejenis, sambil mempertimbangkan perbedaan pertumbuhan laba, profitabilitas, dan risiko bisnis.
Keempat, investor perlu melihat apakah terdapat katalis yang dapat mendorong perbaikan kinerja atau penilaian ulang valuasi, misalnya pemulihan permintaan, penurunan biaya pendanaan, peningkatan margin, atau perbaikan tata kelola.
“Secara keseluruhan, kami mulai melihat peluang investasi yang lebih menarik setelah koreksi pasar yang cukup dalam. Namun, strategi yang kami sarankan tetap selektif dan bertahap, dengan mengutamakan perusahaan yang memiliki fundamental sehat, prospek laba berkelanjutan, serta valuasi yang memberikan margin of safety,” jelas Rully.
Denominasi USD Tak Jamin Untung, Reksadana Saham Indonesia Anjlok




