Laju Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami tekanan hebat pada penutupan perdagangan sesi pertama, Kamis (29/9). Indeks saham acuan di Bursa Efek Indonesia (BEI) tersebut mencatatkan penurunan signifikan sebesar 2,64 persen atau berkurang 139,49 poin, yang melempar posisi IHSG jatuh ke level 5.142. Pelemahan tajam ini dipicu oleh aksi lepas portofolio secara masif yang dilakukan oleh para investor asing, di mana nilai jual bersih atau net sell asing menembus angka Rp 912,37 miliar. Dominasi tekanan jual oleh pemodal luar negeri ini menjadi faktor utama yang menyelimuti pergerakan pasar modal domestik sepanjang jam perdagangan sesi pagi hingga siang hari.
Tekanan jual yang bersumber dari investor mancanegara tersebut paling banyak menerjang saham-saham perbankan berkapitalisasi pasar besar (big cap). Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) menjadi instrumen investasi yang paling banyak dilepas oleh pemodal asing dengan nilai jual bersih mencapai Rp 203,52 miliar. Gelombang pelepasan aset oleh asing juga menyasar saham perbankan milik badan usaha milik negara. Saham PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) mencatatkan nilai aksi jual bersih asing sebesar Rp 104,89 miliar, yang menempatkannya di posisi kedua saham paling banyak dilepas. Selanjutnya, saham PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI) turut mengalami tekanan pelepasan oleh investor internasional dengan nilai pelepasan mencapai Rp 67 miliar. Aksi pelepasan saham-saham perbankan utama ini memberi kontribusi besar terhadap kemerosotan indeks secara keseluruhan pada sesi pertama.
Berdasarkan data perdagangan resmi dari Bursa Efek Indonesia (BEI), aktivitas transaksi saham sepanjang jam perdagangan sesi pertama ini berlangsung cukup sibuk dengan tingkat likuiditas yang tinggi. Total volume perdagangan yang berhasil dibukukan mencapai 14,53 miliar lembar saham. Dari sisi frekuensi transaksi, tercatat pergerakan transaksi dilakukan sebanyak 803,47 juta kali perpindahan tangan saham antar pelaku pasar. Angka-angka tersebut menghasilkan akumulasi nilai transaksi perputaran dana sebesar Rp 5,84 triliun hingga penutupan sesi siang. Sementara itu, total nilai kapitalisasi pasar atau market capitalization dari seluruh perusahaan tercatat di bursa domestik terkikis dan berada pada level Rp 9.048 triliun.
Kedalaman pergerakan harga saham di pasar reguler menunjukkan dominasi yang sangat timpang dari saham-saham yang mengalami penurunan harga. Data pergerakan saham mencatat bahwa sebanyak 593 saham parkir di zona merah atau mengalami koreksi harga. Jumlah saham yang melemah ini jauh melampaui saham-saham yang berhasil bertahan di zona hijau, di mana hanya terdapat 92 saham yang mampu menguat hingga penutupan sesi pertama. Di sisi lain, terdapat 100 saham yang tidak mengalami perubahan harga alias bergerak stagnan. Ketimpangan yang sangat tajam antara jumlah saham yang terkoreksi dan saham yang menguat ini mempertegas bahwa sentimen negatif terjadi secara merata di hampir seluruh papan perdagangan bursa domestik.
Secara sektoral, seluruh sektor saham yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tidak mampu keluar dari tekanan dan terpuruk di zona merah pada akhir sesi pertama perdagangan ini. Sektor bahan baku atau sektor bahan menjadi indikator sektoral yang mengalami penurunan paling dalam, yakni terperosok hingga 3,56 persen secara sektoral. Kemerosotan tajam pada sektor ini dipicu oleh anjloknya harga saham-saham tambang dan mineral utama. Saham PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS) mengalami penurunan sangat drastis sebesar 6,28 persen hingga menyentuh level harga Rp 358 per saham. Pelemahan ini diikuti oleh saham PT Merdeka Gold Resources Tbk (EMAS) yang terkoreksi mendalam sebesar 5,37 persen ke level Rp 5.800 per saham. Selain itu, saham produsen nikel PT Vale Indonesia Tbk (INCO) juga merosot sebesar 2,49 persen dan berada di level harga Rp 3.530 per saham.
Dilihat dari kriteria nilai transaksi perdagangan terbesar di bursa, saham-saham papan atas masih mendominasi aktivitas likuiditas para pelaku pasar. Saham PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) mencatatkan dirinya sebagai saham dengan nilai transaksi paling tinggi di Bursa Efek Indonesia pada siang ini, di mana nilai transaksinya menembus angka Rp 757,55 miliar. Di posisi kedua saham paling aktif ditransaksikan secara nilai adalah saham emiten petrokimia PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dengan total nilai perdagangan mencapai Rp 363,55 miliar. Tempat ketiga saham dengan perputaran dana terbesar diduduki oleh PT Bank Mandiri Tbk (BMRI) yang membukukan nilai transaksi sebesar Rp 284,48 miliar sepanjang berlangsungnya perdagangan sesi pertama.
Sementara itu, jika mencermati peta pergerakan bursa saham di kawasan Asia, indeks-indeks utama regional bergerak secara bervariasi atau mixed hingga perdagangan tengah hari ini. Indeks Nikkei 225 di bursa Jepang berhasil tampil perkasa dengan mencatatkan penguatan sebesar 0,87 persen ke posisi 64.512. Tren positif juga terjadi di bursa Hong Kong, di mana indeks Hang Seng bergerak naik tipis sebesar 0,12 persen dan parkir di level 23.121. Sebaliknya, penurunan IHSG selaras dengan pelemahan yang dialami oleh beberapa bursa Asia lainnya. Indeks Shanghai Composite di China terkikis sebesar 0,45 persen menuju posisi 3.665. Tekanan yang lebih berat dialami oleh indeks Kospi di Korea Selatan yang merosot sebesar 0,92 persen hingga berada di level 5.957. Pergerakan bervariasi di kawasan regional ini menunjukkan dinamika sentimen pasar yang beragam di masing-masing negara Asia.
Di tengah tekanan hebat yang melanda IHSG dan mayoritas saham di bursa, terdapat beberapa saham yang berhasil melepaskan diri dari tren penurunan dan mencatatkan kenaikan harga signifikan hingga berada di deretan saham dengan performa terbaik atau top gainers pada perdagangan siang ini. Saham PT Temas Tbk (TMAS) memimpin jajaran saham paling untung dengan kenaikan melesat 7,27 persen menuju harga Rp 118 per saham. Performa positif ini disusul oleh saham PT Prime Agro Resources Tbk (SGRO) yang menguat sebesar 5,98 persen sehingga harganya terangkat ke level Rp 4.430 per saham. Selanjutnya, saham produsen produk olahan susu PT Cisarua Mountain Dairy Tbk (CMRY) juga berhasil mengamankan posisi di zona hijau dengan menguat 1,69 persen dan menempati level harga Rp 4.220 per saham.
Di sisi berlawanan, deretan saham yang mengalami penurunan harga sangat dalam atau top losers diwarnai oleh emiten dari sektor energi dan infrastruktur. Saham PT Energi Mega Persada Tbk (ENRG) mencatatkan penurunan paling tajam di bursa pada sesi pertama ini, di mana harganya terperosok hingga 6,99 persen ke posisi Rp 665 per saham. Tekanan serupa dialami oleh saham penyedia layanan telekomunikasi PT Link Net Tbk (LINK) yang tergerus sebesar 6,78 persen sehingga harganya jatuh ke level Rp 1.100 per saham. Selain itu, saham perusahaan kontraktor pertambangan PT Petrosea Tbk (PTRO) juga mengalami pelemahan mendalam sebesar 6,74 persen, yang membawa harganya turun hingga menempati posisi Rp 2.490 per saham pada akhir sesi pertama perdagangan ini.
Guna memberikan gambaran komprehensif mengenai pergerakan indikator bursa pada sesi pertama Kamis (29/9), rincian statistik perdagangan dan daftar performa saham terangkum dalam poin-poin berikut:
Aksi Jual Bersih Investor Asing (Net Sell):
- Total Penjualan Bersih Asing: Rp 912,37 miliar
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Jual bersih Rp 203,52 miliar
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Jual bersih Rp 104,89 miliar
- PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI): Jual bersih Rp 67 miliar
Statistik Perdagangan Pasar Reguler BEI Sesi I:
- Volume Transaksi: 14,53 miliar saham
- Frekuensi Transaksi: 803,47 juta kali
- Nilai Transaksi Perdagangan: Rp 5,84 triliun
- Kapitalisasi Pasar: Rp 9.048 triliun
- Sebaran Pergerakan Harga: 92 saham menguat, 593 saham melemah, 100 saham stagnan
Daftar Saham Nilai Transaksi Terbesar:
- PT Bank Central Asia Tbk (BBCA): Rp 757,55 miliar
- PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA): Rp 363,55 miliar
- PT Bank Mandiri Tbk (BMRI): Rp 284,48 miliar
Pelemahan Sektor Bahan Baku:
- Penurunan Sektoral Bahan Baku: -3,56%
- PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS): Turun 6,28% ke Rp 358
- PT Merdeka Gold Resources Tbk (EM
Advertisements




