The Fed Tahan Suku Bunga, Mengapa Harga Bitcoin Justru Melemah?

Hikma Lia

Keputusan bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), untuk mempertahankan suku bunga acuan ternyata belum cukup kuat untuk memicu tren penguatan di pasar kripto. Kebijakan moneter yang diumumkan setelah pertemuan Federal Open Market Committee (FOMC) tersebut dinilai masih meninggalkan banyak teka-teki bagi para pelaku pasar keuangan global, khususnya investor aset digital seperti Bitcoin.

Advertisements

Dalam pertemuan FOMC yang berlangsung pada 28 Oktober 2026, The Fed memutuskan untuk menjaga suku bunga acuan berada di kisaran 3,75% hingga 4,00%. Meskipun keputusan untuk mempertahankan tingkat suku bunga ini sejatinya sudah sesuai dengan proyeksi dan ekspektasi mayoritas pelaku pasar, langkah tersebut nyatanya belum mampu memberikan kepastian yang jelas mengenai arah kebijakan moneter Amerika Serikat di masa mendatang.

Dampak dari ketidakpastian tersebut terlihat langsung pada pergerakan harga pasar aset kripto. Berdasarkan data pergerakan harga pada Kamis, 29 Oktober 2026 pukul 16.20 WIB, harga Bitcoin bertengger di level US$ 80.129. Angka ini mencatatkan penurunan sebesar 1,54% dalam kurun waktu 24 jam terakhir secara harian, serta terkoreksi sekitar 2% jika dihitung dalam jangka waktu sepekan terakhir. Selain itu, catatan dari data internal platform perdagangan FLOQ pada 29 Oktober 2026 menunjukkan bahwa sesaat setelah pengumuman hasil pertemuan FOMC tersebut dirilis ke publik, harga Bitcoin sempat mengalami tekanan hingga merosot ke kisaran level US$ 79.700.

Advertisements

Bitcoin Bertahan di Atas US$ 80.000, tetapi Tren Bullish Belum Terjamin

Chief Executive Officer (CEO) sekaligus Founder dari FLOQ, Yudhono Rawis, memberikan pandangan mendalam terkait kondisi pasar terkini. Menurut Yudhono, keputusan The Fed yang memilih untuk menahan suku bunga acuan pada tingkat saat ini belum memadai untuk dijadikan sebagai katalis positif yang kuat bagi pergerakan pasar kripto. Hal ini disebabkan oleh masih besarnya bayang-bayang ketidakpastian yang dihadapi investor, terutama terkait tingkat inflasi yang masih tinggi dan potensi pengetatan kebijakan moneter lebih lanjut di masa depan.

Yudhono menekankan bahwa para pelaku pasar tidak hanya berfokus pada angka keputusan suku bunga yang diumumkan saat ini. Lebih dari itu, para investor dan institusi keuangan secara cermat menganalisis latar belakang serta alasan mendasar yang mendorong The Fed mengambil keputusan tersebut, sekaligus memetakan prospek kebijakan moneter bank sentral dalam beberapa bulan ke depan.

Kondisi dinamika moneter ini berpotensi besar untuk terus menjaga volatilitas harga aset kripto berada pada tingkat yang tinggi. Hal ini terjadi karena para investor terus-menerus melakukan penyesuaian terhadap ekspektasi mereka mengenai arah suku bunga dan tingkat likuiditas global.

Dalam keterangan resminya pada Kamis, 29 Oktober 2026, Yudhono menjelaskan bahwa hal paling krusial yang patut dicermati oleh pasar adalah fakta bahwa inflasi di Amerika Serikat masih berada pada level yang tinggi. Keadaan tersebut membuat The Fed belum memiliki tingkat keyakinan yang memadai untuk menentukan langkah strategis berikutnya secara pasti. Bagi industri pasar kripto, situasi penuh ketidakpastian ini mengindikasikan bahwa volatilitas harga masih berpotensi besar untuk terus berlanjut. Investor akan secara berkala merespons dan menyesuaikan ekspektasi mereka terhadap perkembangan suku bunga serta ketersediaan likuiditas global.

Pergerakan harga Bitcoin pasca-pengumuman FOMC memvalidasi bahwa keputusan untuk menahan suku bunga acuan tidak secara otomatis memicu penguatan atau reli harga pada aset kripto. Fenomena pergerakan pasar ini memperlihatkan bahwa respons dan sentimen pelaku pasar tidak hanya ditentukan oleh satu variabel tunggal seperti keputusan suku bunga, tetapi juga dibentuk oleh ekspektasi mendalam terhadap arah kebijakan moneter berikutnya, dinamika kondisi geopolitik global, serta perkembangan indikator ekonomi makro Amerika Serikat secara keseluruhan.

Bitcoin Gagal Bertahan Dekati US$ 85.000, Arus Dana ETF Jadi Perhatian

Arah pergerakan harga Bitcoin beserta aset kripto lainnya dalam jangka pendek diperkirakan bakal sangat dipengaruhi oleh rilis data inflasi mendatang, kondisi kesehatan pasar tenaga kerja, serta sinyal-sinyal kebijakan yang akan disampaikan oleh The Fed menjelang penutupan tahun.

Skenario pergerakan harga sangat bergantung pada rilis data ekonomi tersebut. Apabila data ekonomi yang akan datang menunjukkan indikasi bahwa tekanan inflasi mulai melandai atau mereda, maka sentimen pasar berpeluang mengalami perbaikan yang signifikan. Sebaliknya, jika data menunjukkan bahwa tingkat inflasi tetap bertahan tinggi dan memberikan ruang bagi bank sentral untuk melakukan kenaikan suku bunga acuan lanjutan, hal tersebut berpotensi menambah tekanan emosi dan sentimen negatif terhadap aset-aset berisiko, termasuk Bitcoin dan aset kripto lainnya.

Ketidakpastian kebijakan moneter bank sentral Amerika Serikat ini terlihat makin jelas ketika mencermati ekspektasi pelaku pasar terhadap agenda pertemuan FOMC berikutnya yang dijadwalkan berlangsung pada 8 hingga 9 Desember 2026.

Berdasarkan pemantauan data pada pasar prediksi Polymarket tanggal 29 Oktober, terlihat adanya konsensus ekspektasi pasar yang sangat dinamis. Data tersebut menunjukkan probabilitas sebesar 77% bahwa The Fed akan menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) pada pertemuan Desember mendatang. Sementara itu, probabilitas bagi The Fed untuk kembali mempertahankan suku bunga berada di tingkat yang jauh lebih rendah, yaitu sekitar 20%.

Besaran angka probabilitas tersebut mencerminkan ekspektasi serta kalkulasi para pelaku pasar pada momen pengamatan dilakukan. Angka-angka ini dapat bergerak dinamis dan mengalami perubahan sewaktu-waktu mengikuti publikasi data-data ekonomi terbaru. Oleh karena itu, tingkat probabilitas pada pasar prediksi tersebut bukanlah sebuah kepastian absolut bahwa The Fed dipastikan akan menaikkan suku bunga pada pertemuan mendatang.

Ke depan, para pelaku pasar dan investor global dipastikan akan mencermati secara seksama sejumlah indikator ekonomi utama Amerika Serikat. Indikator yang menjadi prioritas analisis meliputi angka inflasi resmi, tingkat aktivitas ekonomi nasional, serta kondisi pasar tenaga kerja, guna memperkirakan arah kebijakan moneter yang akan diambil oleh bank sentral.

Harga Bitcoin Terkoreksi Lagi, Investor Wajib Cermati Tiga Sentimen Ini

Yudhono Rawis menegaskan kembali bahwa pergerakan pasar ke depan akan semakin bergantung secara ketat pada data-data ekonomi konkret (data-dependent) dan tidak lagi semata-mata bersandar pada ekspektasi spekulatif mengenai pemangkasan suku bunga acuan oleh The Fed.

Para pelaku pasar dipandang perlu untuk memperhitungkan berbagai kemungkinan skenario yang bisa terjadi di pasar. Baik skenario ketika laju inflasi mulai menunjukkan tren mereda, maupun skenario ketika tekanan harga bertahan lebih lama dari yang diperkirakan semula.

Dalam menghadapi kondisi fluktuasi ini, penerapan manajemen risiko yang disiplin dan terukur menjadi hal yang sangat krusial bagi para pemangku kepentingan dan investor pasar kripto. Langkah pengelolaan risiko ini menjadi penting mengingat harga aset kripto memiliki karakter yang sangat sensitif dan dapat bergerak secara tajam serta mendadak mengikuti perubahan sentimen makro ekonomi global.

Advertisements

Also Read

Tags