Bisnis.com, JAKARTA — Asosiasi Asuransi Jiwa Indonesia (AAJI) melihat gejolak pasar saham melahirkan dua sisi pengaruh terhadap minat masyarakat pada produk asuransi yang dikaitkan investasi (PAYDI) atau unit-linked.
Ketua Dewan Pengurus AAJI, Albertus Wiroyo melihat bagi masyarakat yang optimistic, pelemahan itu bisa menarik minatnya untuk melihat peluang berinvestasi melalui produk tersebut.
“Tapi juga ada yang risk appetite-nya lebih hati-hatilah, melihat bahwa jangan dulu deh, lihat dulu kondisi membaik,” ucapnya seusai acara PPDP Sustainability Forum 2026 di Jakarta, Kamis (29/10/2026).
Di sisi lain, Albertus menyebut bahwa produk unit-linked pada kuartal II/2026 mengalami kenaikan. Berdasarkan catatan AAJI, premi unit-linked pada periode tersebut tercatat tumbuh 34,5% (year on year/YoY) menjadi Rp19,78 triliun.
Saat ini, ujarnya, pihaknya bersama Otoritas Jasa Keuangan (OJK) tengah meninjau kembali ketentuan yang berlaku terkait produk unit-linked.
“Melihat apa usul-usulan kita berikan pada OJK, untuk bisa membuat unit-linked itu jadi salah satu opsi produk investasi di asuransi yang menarik ya,” pungkasnya.
Sebelumnya, PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk. (LIFE) menyampaikan penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sekitar 35% (year on year/YoY) dapat memberikan dampak terhadap produk asuransi yang dikaitkan investasi (PAYDI) atau unit-linked. Namun, portofolio perusahaan tersebut dinilai tetap terjaga.
Meski demikian, Presiden Direktur MSIG Life, Wianto Chen, menyebut bahwa secara umum premi perusahaan pada 2026 masih mencatatkan pertumbuhan yang positif, termasuk produk tradisional.
“Produk tradisional kita bertumbuh positif, ini menunjukkan shifting di market dan juga antisipasi kita terhadap situasi yang mungkin terjadi untuk produk-produk seperti unit-linked,” ujarnya dalam acara Public Expose MSIG Life di Jakarta, Selasa (27/10/2026).




