BANYU POS – , JAKARTA — Sejumlah saham seperti PGAS, ASII, hingga BBCA terpantau masih melaju di tengah pergerakan Indeks Bisnis-27 yang dibuka melemah pada perdagangan hari ini, Jumat (30/10/2026).
Data Bursa Efek Indonesia (BEI) menunjukkan bahwa indeks hasil kerja sama BEI dengan Harian Bisnis Indonesia tersebut dibuka melemah 0,06% ke level 361,72. Dari 27 konstituen, sebanyak 11 saham menguat dan 16 saham melemah.
Penguatan harga saham terjadi pada PT Perusahaan Gas Negara (Persero) Tbk. (PGAS) yang naik 9,47% ke Rp1.330, PT Astra International Tbk. (ASII) naik 1,49% ke Rp4.760, dan PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA) naik 0,81% ke Rp4.980.
Hal yang sama juga terjadi pada PT Charoen Pokphand Indonesia Tbk. (CPIN) yang naik 0,77% ke Rp2.610, PT Kalbe Farma Tbk. (KLBF) naik 0,70% ke Rp720, dan PT Japfa Comfeed Indonesia Tbk. (JPFA) naik 0,58% ke Rp1.745.
Sebaliknya, pelemahan dialami antara lain oleh PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) yang turun 5,62% ke Rp336, PT Darma Henwa Tbk. (DEWA) turun 3,54% ke Rp218, dan PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) turun 3,27% ke Rp296.
Hal yang sama terjadi pada PT Mitra Adiperkasa Tbk. (MAPI) yang turun 2,78% ke Rp1.225, PT Triputra Agro Persada Tbk. (TAPG) turun 1,82% ke Rp1.890, dan PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) turun 1,79% ke Rp1.375.
Technical Analyst BRI Danareksa Sekuritas Reza Diofanda mengatakan bahwa tekanan terhadap pasar saham Indonesia masih dipengaruhi pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp18.185 per dolar AS, berlanjutnya arus modal asing keluar, serta ketidakpastian terkait potensi penurunan klasifikasi pasar Indonesia oleh Morgan Stanley Capital International (MSCI).
“Tekanan jual terjadi meski The Fed mempertahankan suku bunga, seiring pelemahan rupiah yang sempat menyentuh Rp18.185 per dolar AS, berlanjutnya capital outflow, serta ketidakpastian terkait potensi penurunan klasifikasi pasar Indonesia oleh MSCI,” ujar Reza dalam risetnya.
: Prospek Saham DSNG, ENRG, ISAT, dan TINS, Konstituen Indeks Bisnis-27
Dari eksternal, bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di level 3,75%–4,00%. Namun, keputusan tersebut tidak bulat karena dua pejabat mendukung kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin.
Reza menilai perbedaan pandangan di internal The Fed menunjukkan risiko pengetatan kebijakan moneter lanjutan masih terbuka. Inflasi AS yang tetap tinggi turut mendorong pasar memperhitungkan kemungkinan kenaikan suku bunga pada Desember 2026.
Ke depan, investor akan mencermati perkembangan nilai tukar rupiah dan arus modal asing, di samping perkembangan kebijakan Bursa Efek Indonesia (BEI) dan MSCI. Pelaku pasar juga akan memperhatikan rilis data perdagangan Indonesia September 2026 dan inflasi Oktober 2026 yang dijadwalkan pada pekan depan.
“Ke depan, investor juga akan mencermati rilis data perdagangan Indonesia untuk September dan inflasi Oktober pada pekan depan, di samping perkembangan kebijakan BEI dan MSCI,” kata Reza.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




