Pasar keuangan bergejolak, kredibilitas pemerintah dan BI jadi sorotan

Hikma Lia

 

BANYU POS – – Pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kembali menunjukkan rapuhnya kepercayaan investor terhadap pasar keuangan Indonesia.

Advertisements

Setelah sempat menguat selama empat hari berturut-turut pada pekan sebelumnya, IHSG kembali terkoreksi empat hari beruntun pada 26–29 Oktober 2026.

Pada perdagangan Kamis (29/10), IHSG bahkan anjlok 3,49 persen ke level 5.098,06. Tekanan tersebut terjadi di tengah pelemahan nilai tukar rupiah, derasnya arus keluar modal asing, serta ketidakpastian menyusul evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap status pasar modal Indonesia.

Advertisements

Airlangga Respons Sorotan MSCI, Tegaskan Fundamental Emiten RI Masih Baik

Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef), Esther Sri Astuti, mengatakan kondisi tersebut berkaitan erat dengan tingkat kepercayaan pasar terhadap perekonomian Indonesia.

Menurutnya, untuk menjaga kepercayaan investor, pemerintah dan Bank Indonesia harus mampu menunjukkan kredibilitas dalam menjalankan kebijakan ekonomi.

“Ini ada kaitannya dengan kepercayaan pasar. Untuk bisa menjaganya, maka pemerintah dan Bank Indonesia harus kredibel,” ujar Esther ketika dihubungi JawaPos.com, Jumat (30/10).

Singgung MSCI, Hashim Peringatkan Rupiah Bisa Tembus Rp 22 Ribu per USD

Sementara itu, Analis Doo Financial, Lukman Leong, mengatakan aksi jual investor asing di pasar saham tentu berpotensi memberikan tekanan tambahan terhadap rupiah.

Ia menyebut, ketika investor asing melepas saham, dana hasil penjualan yang dikonversi kembali ke valuta asing dapat meningkatkan permintaan dolar AS dan menekan rupiah.

“Apalagi, saat ini sentimen MSCI masih menjadi sumber ketidakpastian yang dapat memengaruhi kepercayaan investor terhadap pasar keuangan domestik,” ujar Lukman ketika dihubungi JawaPos.com.

Lukman mengatakan, kedepannya, tekanan terhadap rupiah masih akan berlangsung selama arus keluar modal berlanjut.

Kurs Berbagai Mata Uang terhadap Dolar AS, Rupiah Juara 1 Pelemahan dalam Sebulan Terakhir

Namun, pergerakan rupiah tidak hanya ditentukan oleh keluarnya asing dari pasar ekuitas domestik, tetapi juga dipengaruhi oleh indeks dolar AS, imbal hasil obligasi AS, harga minyak dunia dan arus modal di pasar SBN.

“Jika tekanan di pasar saham mereda dan kepercayaan investor membaik, tekanan terhadap rupiah juga berpeluang berkurang,” ucapnya.

Mengembalikan Kepercayaan Investor

Esther menilai, pemulihan kepercayaan investor tidak cukup hanya melalui ajakan membeli saham domestik maupun intervensi untuk menjaga stabilitas nilai tukar. Diperlukan langkah konkret dan konsisten untuk memperbaiki persoalan mendasar di pasar keuangan.

Salah satu persoalan yang menjadi perhatian investor global adalah transparansi kepemilikan saham dan pemenuhan ketentuan free float atau jumlah saham yang tersedia untuk diperdagangkan di publik.

“Akselerasi pengakuan MSCI Percepat implementasi POJK transparansi kepemilikan dan free float. Koordinasi OJK-IDX-KSEI untuk memenuhi seluruh persyaratan MSCI,” ujarnya.

3 Kebijakan Baru OJK Perkuat Stabilitas dan Integrasi Pasar Modal

Selain itu, upaya menarik kembali investor asing juga perlu diperkuat melalui pemberian insentif. Di antaranya, memperluas fasilitas tax holiday dan insentif pajak dividen bagi investor asing, serta menyederhanakan prosedur repatriasi modal.

Langkah tersebut diharapkan dapat mendorong arus masuk modal asing kembali positif setelah sebelumnya terjadi tekanan jual bersih atau net sell yang mencapai Rp 25 triliun pada 2024.

Lukman menyebut, BI perlu tetap menjaga stabilisasi rupiah melalui intervensi di pasar spot, DNDF, dan NDF, serta menjaga daya tarik aset rupiah agar arus modal asing tidak semakin keluar. 

Namun, perlu berhati-hati untuk menaikkan suku bunga karena dapat menekan pertumbuhan ekonomi dan belum tentu efektif jika sumber tekanan utamanya adalah sentimen MSCI dan kepercayaan investor. 

“Pemerintah perlu segera mempercepat reformasi pasar modal, khususnya transparansi kepemilikan saham, peningkatan free float, dan penegakan hukum terhadap praktik perdagangan yang tidak wajar,” ujarnya.

Advertisements

Also Read

Tags