Investasi saham sering dianggap sebagai cara untuk mengembangkan kekayaan dalam jangka panjang. Namun, keputusan investasi gak selalu berjalan sesuai rencana karena pergerakan pasar yang sulit diprediksi. Menariknya, kerugian yang kamu alami gak selalu disebabkan oleh kurangnya pengetahuan tentang saham atau kesalahan dalam membaca kondisi pasar, lho.
Adakalanya, pola pikir dan emosi justru memengaruhi keputusanmu tanpa disadari. Dalam dunia keuangan, fenomena ini dikenal sebagai behavioral finance, yaitu bidang yang mempelajari bagaimana faktor psikologis memengaruhi perilaku investor dan keputusan finansial.
Dilansir Corporate Finance Institute (CFI), investor gak selalu mengambil keputusan secara rasional karena bisa dipengaruhi oleh berbagai bias psikologis dan keterbatasan dalam mengendalikan diri. Kondisi ini membuat seseorang terkadang mengambil keputusan yang kurang tepat meskipun sudah memiliki informasi yang cukup. Bahkan, orang yang mempelajari teori keuangan pun masih bisa mengalami bias tersebut. Supaya kamu lebih memahami risiko ini, yuk, kenali lima jebakan psikologi yang bisa memengaruhi keputusan investasi saham.
1. Selalu merasa benar ketika mengambil keputusan
Pernah membeli saham, lalu harganya naik dan kamu langsung merasa bahwa keputusan tersebut membuktikan kemampuanmu dalam menganalisis pasar? Sebaliknya, ketika harga saham turun, kamu mungkin menganggap kondisi pasar sedang buruk atau merasa waktu pembelianmu kurang tepat. Kalau kamu pernah mengalami situasi seperti ini, ada kemungkinan kamu sedang terjebak dalam self-attribution bias.
Dalam buku Behavioral Finance and Wealth Management: How to Build Investment Strategies That Account for Investor Biases, Michael Pompian membahas kecenderungan ini secara khusus dalam Bab 14 yang berjudul Self-Attribution Bias. Buku yang diterbitkan oleh Wiley tersebut menjelaskan berbagai bias investor dan penerapannya dalam pengambilan keputusan investasi. Dalam konteks ini, self-attribution bias mengacu pada kecenderungan seseorang mengaitkan keberhasilan dengan kemampuan pribadi, tapi menyalahkan faktor eksternal ketika mengalami kegagalan.
Masalahnya, keuntungan dari sebuah transaksi gak selalu membuktikan bahwa analisismu akurat. Harga saham bisa naik karena kondisi pasar yang mendukung atau faktor lain yang sebelumnya gak kamu perhitungkan. Begitu pula dengan kerugian yang belum tentu sepenuhnya disebabkan oleh keputusan yang buruk. Karena itu, evaluasilah setiap transaksi secara objektif dengan memeriksa alasan pembelian, perkembangan kondisi perusahaan, dan kesesuaian keputusanmu dengan rencana awal.
2. Terlalu percaya diri dengan kemampuan sendiri
Rasa percaya diri memang dibutuhkan ketika berinvestasi. Kamu perlu berani mengambil keputusan setelah melakukan analisis, tapi terlalu yakin terhadap kemampuan sendiri justru bisa menjadi masalah, lho. Kondisi ini dikenal sebagai overconfidence bias, yaitu kecenderungan seseorang menilai kemampuan atau pengetahuannya lebih tinggi daripada kenyataan.
Penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Accounting Education pada 2026 mengkaji perilaku 72 mahasiswa pascasarjana program keuangan dan investasi di University of South Wales. Penelitian tersebut menemukan bahwa 84 persen peserta memperkirakan diri mereka akan menempati separuh kelompok dengan hasil terbaik dalam simulasi perdagangan saham. Padahal secara matematis, maksimal hanya separuh peserta yang bisa berada di kelompok tersebut. Temuan ini memperlihatkan bahwa mempelajari keuangan sekalipun gak otomatis membuat seseorang terbebas dari rasa percaya diri berlebihan.
Dalam praktik investasi, rasa percaya diri yang berlebihan bisa membuatmu terlalu sering melakukan transaksi, mengabaikan risiko, atau merasa mampu memperkirakan pergerakan harga saham dengan tepat. Kamu mungkin juga menganggap analisis pribadi selalu lebih baik daripada pendapat yang berbeda, meskipun belum memiliki cukup bukti untuk mendukung keyakinan tersebut. Untuk menghindarinya, biasakanlah mencatat alasan setiap kali membeli saham, termasuk perkiraan keuntungan dan risiko yang mungkin terjadi. Setelah beberapa waktu, bandingkan perkiraan tersebut dengan hasil aktual agar kamu bisa menilai kemampuan analisismu secara lebih realistis.
3. Terlalu takut mengalami kerugian
Bayangkan kamu membeli saham dengan harapan mendapatkan keuntungan dalam beberapa bulan. Namun, harga saham justru terus turun dan nilai investasimu semakin berkurang. Alih-alih mengevaluasi kondisi perusahaan, kamu memilih bertahan karena berharap harganya akan kembali naik. Kalau keputusan tersebut diambil hanya karena gak rela menerima kerugian, kamu mungkin sedang mengalami loss aversion.
Menurut penelitian yang diterbitkan dalam Journal of Behavioral Decision Making pada 2017, kecenderungan loss aversion berkaitan dengan cara seseorang merespons risiko kerugian dibandingkan dengan potensi keuntungan. Penelitian berjudul The Impact of Culture on Loss Aversion tersebut menggunakan survei terstandar di 53 negara untuk mempelajari hubungan antara faktor budaya dan keengganan menghadapi kerugian. Hasilnya menunjukkan bahwa sejumlah dimensi budaya berkaitan dengan tingkat loss aversion, sehingga respons seseorang terhadap risiko dapat dipengaruhi oleh konteks sosial dan budayanya.
Penelitian berbeda dalam jurnal Accounting Education pada 2026 juga menemukan indikasi loss aversion pada mahasiswa yang mengikuti simulasi perdagangan. Dalam eksperimen menggunakan permainan lempar koin, peserta diminta mempertimbangkan dua skenario dengan risiko £25 (sekitar Rp550 ribu) dan £100 (sekitar Rp2,2 juta), lalu menyebutkan hadiah minimum yang membuat permainan tersebut layak diikuti. Sekitar 75 persen peserta meminta hadiah lebih besar daripada jumlah yang berisiko hilang. Dalam investasi, kamu bisa mengurangi pengaruh bias ini dengan menetapkan batas risiko sejak awal dan mengevaluasi saham berdasarkan kondisi aktual, bukan sekadar keinginan menghindari kerugian.
4. Menganggap pengetahuan keuangan sudah cukup
Semakin banyak mempelajari investasi, semakin besar pula harapanmu untuk membuat keputusan yang tepat. Kamu mungkin sudah memahami cara membaca laporan keuangan, mengenali indikator teknikal, hingga mempelajari berbagai strategi perdagangan saham. Namun, pengetahuan tersebut gak otomatis membuatmu kebal terhadap kesalahan psikologis ketika uang sungguhan dipertaruhkan.
Dilansir Corporate Finance Institute (CFI), behavioral finance mempelajari pengaruh psikologi terhadap perilaku investor dan analis keuangan, termasuk bagaimana bias dapat memicu kesalahan pengambilan keputusan. CFI juga menjelaskan bahwa investor bisa terpengaruh oleh emosi, keterbatasan pengendalian diri, dan kesalahan dalam memproses informasi. Hal ini sejalan dengan penelitian dalam jurnal Accounting Education pada 2026 yang menemukan bahwa mahasiswa pascasarjana keuangan masih menunjukkan kecenderungan self-attribution bias, overconfidence, dan loss aversion saat mengikuti simulasi perdagangan.
Temuan tersebut bukan berarti pengetahuan keuangan gak berguna, ya, melainkan menunjukkan bahwa memahami teori dan menerapkannya ketika menghadapi ketidakpastian merupakan dua hal berbeda. Ketika harga saham bergerak berlawanan dengan harapan, emosi bisa muncul lebih cepat daripada pertimbangan rasional. Oleh karena itu, jangan hanya mengandalkan pengetahuan ketika mengambil keputusan investasi. Kamu juga perlu membangun kebiasaan untuk memeriksa kembali alasan di balik setiap transaksi dan mengidentifikasi pola kesalahan yang berulang.
5. Mengandalkan ingatan tanpa mengevaluasi keputusan
Ketika mengingat perjalanan investasimu, kamu mungkin lebih mudah mengingat transaksi yang menghasilkan keuntungan besar daripada keputusan yang berakhir dengan kerugian. Akibatnya, kamu bisa merasa strategi yang digunakan selama ini sudah efektif, padahal belum pernah mengevaluasi seluruh transaksi secara menyeluruh. Kebiasaan mengandalkan ingatan seperti ini berisiko membuatmu mengulangi kesalahan yang sama karena penilaian terhadap pengalaman masa lalu menjadi kurang objektif.
Dalam penelitian yang diterbitkan di jurnal Accounting Education, peserta mengikuti latihan terstruktur yang mencakup perbandingan antara perkiraan dan hasil aktual, peninjauan data perdagangan, serta refleksi terhadap keputusan yang diambil. Setelah rangkaian latihan tersebut, pemahaman yang mereka nilai sendiri terhadap tiga bias psikologis mengalami peningkatan signifikan. Meski begitu, hasil tersebut mengukur pemahaman yang dirasakan peserta, bukan membuktikan bahwa perilaku investasi mereka otomatis berubah menjadi lebih baik.
Kamu bisa menerapkan pendekatan serupa tanpa harus memiliki latar belakang pendidikan keuangan. Buatlah jurnal investasi yang berisi alasan membeli saham, target keuntungan, batas kerugian, perkiraan risiko, dan hasil akhirnya. Tinjau catatan tersebut secara berkala untuk mengetahui apakah keputusanmu sudah sesuai dengan rencana atau justru sering dipengaruhi emosi. Kamu juga sebaiknya menetapkan aturan membeli dan menjual saham sebelum melakukan transaksi, sehingga keputusan gak gampang berubah hanya karena panik atau terlalu bersemangat melihat pergerakan harga.
Kerugian dalam investasi saham gak selalu disebabkan oleh kondisi pasar atau kurangnya kemampuan menganalisis perusahaan. Cara kamu menilai keberhasilan, mengelola rasa percaya diri, dan merespons kerugian juga bisa memengaruhi hasil investasi. Penelitian dalam jurnal Accounting Education dan Journal of Behavioral Decision Making memperlihatkan bahwa bias psikologis layak diperhatikan dalam proses pengambilan keputusan, sedangkan buku Michael Pompian dan penjelasan Corporate Finance Institute membantu memberikan konteks mengenai perilaku investor.
Karena itu, biasakanlah mengevaluasi setiap transaksi secara objektif, mencatat alasan pengambilan keputusan, dan menetapkan aturan investasi sebelum bertindak. Dengan mengenali jebakan psikologi sejak awal, kamu bisa membangun kebiasaan investasi yang lebih disiplin dan mengurangi risiko mengulangi kesalahan yang sama.
Ingin Dapat Modal? Hindari 6 Kesalahan Pitching ke Investor Trading Halt: Pasar Saham Tiba-tiba Berhenti, Investor Harus Apa? 4 Alasan Investor Asing Berpengaruh Besar terhadap Pergerakan IHSG




