BANYU POS JAKARTA. Pelemahan nilai tukar rupiah hingga menembus Rp 18.100 per dolar Amerika Serikat (AS) berpotensi membawa keuntungan bagi industri kelapa sawit nasional.
Terutama, bagi perusahaan yang memiliki orientasi ekspor besar dan mampu mengoptimalkan penerimaan dalam valuta asing.
Senior Technical Analyst PT Mirae Asset Sekuritas Indonesia Muhammad Nafan Aji mengatakan, pelemahan rupiah pada dasarnya memberikan dampak positif bagi industri sawit, mengingat crude palm oil (CPO) dan produk turunannya merupakan komoditas yang diperdagangkan menggunakan denominasi dolar AS.
“Dengan demikian, setiap penerimaan ekspor dalam dolar AS akan dikonversikan menjadi nilai rupiah yang lebih besar. Kondisi tersebut berpotensi meningkatkan pendapatan dan memperbaiki profitabilitas emiten sawit,” ujar Nafan, kepada Kontan.co.id, Minggu (1/11/2026).
Rupiah Tembus Rp 18.100, APINDO Minta Insentif Hedging untuk Industri Padat Karya
Nafan mencotohkan, perusahaan yang memperoleh pendapatan ekspor sebesar US$ 100 juta berpotensi mendapatkan tambahan penerimaan sekitar Rp 160 miliar ketika kurs bergerak dari Rp 16.500 menjadi Rp 18.100 per dolar AS.
Perhitungan tersebut menggunakan asumsi volume ekspor dan harga jual tidak berubah.
Selain itu, pelemahan rupiah juga berpotensi memberikan keuntungan translasi atau foreign exchange gain bagi perusahaan yang memiliki pendapatan dalam dolar AS.
Tambahan penerimaan tersebut dapat memperkuat arus kas operasional dan memberikan ruang bagi peningkatan margin keuntungan.
Namun, ia menilai bahwa kenaikan nilai penerimaan akibat konversi kurs tidak serta-merta mencerminkan peningkatan laba operasional secara riil. Pasalnya, industri sawit masih memiliki ketergantungan terhadap sejumlah input produksi impor.
“Industri sawit memang masih memiliki ketergantungan terhadap sejumlah input produksi yang berasal dari luar negeri. Di antaranya pupuk tertentu, bahan kimia untuk pemeliharaan tanaman dan pengolahan, suku cadang mesin, peralatan perkebunan, serta mesin pengolahan CPO,” jelasnya.
Ketika rupiah melemah, biaya pengadaan berbagai kebutuhan tersebut dalam denominasi rupiah ikut meningkat.
Rupiah Tembus Rp 18.180, Ini Dampaknya ke Pasar Saham & Strategi untuk Investor
Perusahaan yang memiliki pinjaman dalam dolar AS juga berpotensi menghadapi kenaikan beban keuangan dan kerugian selisih kurs apabila tidak memiliki lindung nilai.
Karena itu, besarnya keuntungan yang diperoleh perusahaan tidak hanya ditentukan oleh porsi ekspor. Struktur pendapatan dan biaya, tingkat ketergantungan terhadap impor, serta kewajiban valuta asing juga menjadi faktor penentu.
“Perusahaan dengan tingkat ketergantungan impor relatif rendah, struktur utang valas yang terkendali, serta tingkat efisiensi produksi yang baik akan memperoleh manfaat pelemahan rupiah secara lebih optimal,” kata Nafan.
Di luar faktor nilai tukar, prospek industri sawit pada 2026 juga akan ditentukan oleh dinamika harga CPO global, keseimbangan pasokan dan permintaan, serta kebijakan biodiesel domestik.
Dari sisi domestik, peningkatan penyerapan CPO untuk kebutuhan biodiesel menjadi katalis positif karena menciptakan sumber permintaan tambahan dan memperkuat pasar dalam negeri.
Dari sisi emiten, PT Astra Agro Lestari Tbk (AALI) menjadi salah satu perusahaan yang memiliki eksposur ekspor relatif besar. Berdasarkan kajian sektoral Indo Premier pada 2026, sekitar 36% penjualan AALI pada 2025 berasal dari ekspor.
Rupiah Tembus Rp 18.100 per Dolar AS, Biaya Produksi Industri Tekstil Naik hingga 12%
Dengan porsi tersebut, AALI berpotensi memperoleh manfaat lebih besar dari kenaikan nilai penerimaan ekspor dalam rupiah.
Selain AALI, investor juga dapat mencermati PT Dharma Satya Nusantara Tbk (DSNG), PT Triputra Agro Persada Tbk (TAPG), PT PP London Sumatra Indonesia Tbk (LSIP), serta PT Sawit Sumbermas Sarana Tbk (SSMS).
Namun, Nafan mengingatkan bahwa tingkat eksposur ekspor setiap perusahaan berbeda. DSNG, TAPG, dan LSIP, misalnya, memiliki orientasi pendapatan yang lebih dominan ke pasar domestik. Dengan demikian, ketiganya tidak otomatis menjadi penerima manfaat langsung terbesar dari pelemahan rupiah melalui kanal penerimaan ekspor.




