BANYU POS – , JAKARTA — Indeks Bisnis-27 dibuka menguat seiring kenaikan indeks harga saham gabungan (IHSG) pada Selasa (3/11/2026). Saham MBMA, BRMS, hingga ANTM tercatat membukukan kenaikan tertinggi.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks hasil kerja sama Bursa dengan harian Bisnis Indonesia ini menguat 0,67% ke 365,94. Tercatat, sebanyak 22 saham yang menguat, sedangkan 2 saham turun, dan 3 stagnan.
Saham dengan kenaikan tertinggi ditempati oleh PT Merdeka Battery Materials Tbk. (MBMA) yang tumbuh 2,55% menjadi Rp322, disusul kenaikan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) sebesar 1,69% ke Rp1360 per saham.
Saham PT Bumi Resources Tbk. (BUMI) juga menguat 1,56% menjadi Rp130 dan saham PT Aneka Tambang (Persero) Tbk. (ANTM) naik 1,55% ke Rp2.620.
IHSG sendiri dibuka menguat 0,65% menuju 5.130,15 hingga pukul 09.01 WIB. Tercatat, sebanyak 315 saham menguat, 140 saham turun, dan 508 stagnan.
Pada perdagangan hari ini, indeks komposit diperkirakan rawan mengalami koreksi usai gagal menembus level resistance psikologis 5.100 sebelumnya.
Head of Retail Research BNI Sekuritas Fanny Suherman menyampaikan kendati IHSG ditutup menguat 0,8% pada perdagangan kemarin, pergerakan indeks masih dibayangi net sell investor asing yang mencapai sekitar Rp376 miliar.
Adapun saham-saham yang paling banyak dilepas oleh investor asing pada perdagangan kemarin meliputi BMRI, BBCA, PTBA, TINS, serta TLKM.
“Setelah IHSG kemarin gagal menembus resistance di 5.100, ada kemungkinan hari ini kembali melemah,” tulis Fanny dalam riset harian, Selasa (3/11/2026).
Untuk perdagangan hari ini, BNI Sekuritas memperkirakan area support IHSG berada pada 4.980–5.030, sementara area resistance berada di level 5.100–5.170.
Dari pasar global, Wall Street ditutup bervariasi pada perdagangan awal pekan. Indeks S&P 500 terkoreksi 0,51% dan Nasdaq Composite merosot 1,07% akibat kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja AI serta tekanan pada saham Apple. Sebaliknya, Dow Jones Industrial Average menguat 0,41%.
Sementara itu, bursa saham Asia bergerak variatif seiring ketidakpastian jelang pemilihan paruh waktu AS serta rilis kinerja keuangan emiten teknologi besar.
Dari dalam negeri, sentimen pasar turut dipengaruhi data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat inflasi sebesar 0,22% MoM pada Oktober 2026 dan surplus neraca perdagangan sebesar US$3,36 miliar per September 2026.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




