BANYU POS Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka bervariasi pada perdagangan Selasa (3/11/2026).
Indeks S&P 500 dan Nasdaq menguat seiring penurunan harga minyak mentah yang berlanjut, sementara investor mencermati hasil pemilihan paruh waktu AS (midterm elections) dan perkembangan kinerja emiten teknologi besar.
IHSG Jeblok 3,78% ke Level 4.904, Trader Disarankan Ambil Strategi Wait and See
Pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 206,75 poin atau 0,40% ke level 51.777,23.
Sebaliknya, indeks S&P 500 naik 7,77 poin atau 0,10% menjadi 7.549,17, sedangkan Nasdaq Composite menguat 98,65 poin atau 0,39% ke posisi 25.263,01.
Pergerakan saham teknologi masih dibayangi kekhawatiran investor terhadap besarnya belanja kecerdasan buatan (AI) dan prospek pengembaliannya.
Saham Apple turun 4,4% dalam perdagangan prapasar setelah perusahaan memperingatkan kenaikan biaya cip memori akan menekan margin kotor pada kuartal liburan akhir tahun.
Saham Palantir Technologies juga melemah 6,1%, meski perusahaan penyedia perangkat lunak analitik berbasis AI tersebut memproyeksikan pendapatan kuartal IV melampaui ekspektasi analis setelah mencatatkan kinerja kuartal III yang lebih baik dari perkiraan.
Pasar Saham Bergejolak, Analis: Utamakan Pengelolaan Risiko
Tekanan terhadap saham teknologi sebelumnya terlihat pada indeks Nasdaq-100. Indeks yang didominasi saham teknologi tersebut pada Senin (2/11/2026) ditutup lebih dari 10% di bawah rekor penutupan tertingginya. Kondisi ini mengonfirmasi Nasdaq-100 telah memasuki fase koreksi.
Investor mulai mempertanyakan besarnya pengeluaran perusahaan teknologi untuk pengembangan AI, terutama karena belum terlihat bukti memadai bahwa investasi tersebut mampu menghasilkan keuntungan sepadan.
Sejumlah perusahaan teknologi juga baru-baru ini memanfaatkan pasar obligasi untuk membiayai investasi AI berskala besar.
Langkah tersebut menambah kekhawatiran bahwa pembiayaan investasi melalui utang akan semakin sulit dipertahankan apabila biaya pinjaman meningkat.
IHSG Tanpa Saham HSC, Valuasi Pasar Makin Menarik?
Harga Minyak Turun, Saham Chip Menguat
Penurunan harga minyak mentah menjadi salah satu faktor yang membantu meningkatkan minat investor terhadap aset berisiko. Harga minyak Brent turun 2,4% pada Selasa, melanjutkan pelemahan tajam pada sesi sebelumnya.
Pelaku pasar mencermati perkembangan negosiasi kesepakatan damai antara AS dan Iran. Harapan meredanya ketegangan geopolitik tersebut turut memengaruhi pergerakan harga energi.
Di tengah pelemahan saham teknologi tertentu, sejumlah saham semikonduktor justru menguat. Nvidia naik 2,8% setelah mengalami penurunan selama empat sesi berturut-turut. Pekan lalu, Apple bahkan melampaui Nvidia sebagai perusahaan dengan kapitalisasi pasar terbesar di dunia.
Saham Advanced Micro Devices (AMD) menguat 4,2% menjelang publikasi laporan keuangan kuartalannya setelah penutupan perdagangan. Marvell Technology dan Intel masing-masing naik 4,6% dan 4,3%.
Emiten Grup Prodia Hadapi Prospek Berbeda, Simak Katalis dan Risikonya
Investor Nantikan Hasil Pemilu Paruh Waktu AS
Selain perkembangan harga minyak dan kinerja emiten, investor juga menantikan hasil pemilihan paruh waktu AS yang berlangsung pada Selasa.
Pemilu tersebut menjadi evaluasi pemilih terhadap dua tahun pertama masa jabatan kedua Presiden Donald Trump.
Sejumlah jajak pendapat dan analis nonpartisan memperkirakan Partai Demokrat berpeluang merebut mayoritas kursi DPR dari Partai Republik, sementara penguasaan Senat masih belum pasti.
Chief Investment Officer Bokeh Capital Partners Kim Forrest mengatakan, pemerintahan yang terbagi antara dua partai berpotensi memberikan sentimen positif bagi pasar saham karena dapat membatasi peluang pengesahan undang-undang baru.
Sementara itu, analis Morgan Stanley menilai pemilu tersebut dapat menghilangkan salah satu faktor ketidakpastian yang membayangi pasar. Mereka memperkirakan fase koreksi pasar saham AS yang dimulai sejak Juni telah mendekati tahap akhir.
GOTO Batalkan 32 Miliar Saham Treasuri &Eksekusi Buyback, Ini Dampaknya bagi Investor
Namun, risiko geopolitik masih menjadi perhatian. Investor mencermati kemungkinan AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran setelah pemilu paruh waktu, menyusul sejumlah pernyataan Trump dalam beberapa pekan terakhir.
Analis J.P. Morgan menilai pelemahan pasar akibat ketegangan geopolitik dapat menjadi peluang pembelian saham.
Meski demikian, ketika ditanya wartawan pada Senin apakah AS mempertimbangkan serangan terhadap Iran setelah pemilu, Trump menjawab tidak.




