BANYU POS JAKARTA. Harga Bitcoin (BTC) kembali mengalami tekanan pada awal bulan ini. Setelah sempat menguat di atas US$ 81.000, BTC justru terkoreksi hingga menyentuh kisaran US$ 75.900 pada 7 November 2026 pukul 14.50 WIB.
Pelemahan ini terjadi di tengah aksi jual besar-besaran di pasar saham Amerika Serikat (AS), terutama sektor teknologi, yang turut memengaruhi sentimen pasar kripto.
Menurut CEO & Founder FLOQ, Yudhono Rawis, tekanan terhadap Bitcoin perlu dilihat dalam konteks kondisi pasar yang lebih luas. Penurunan tajam saham teknologi AS, khususnya sektor semikonduktor, menunjukkan adanya pengurangan eksposur investor terhadap aset berisiko.
Azko (ACES) Geser Ekspansi Gerai ke Tahun Depan, Bagaimana Prospek Sahamnya?
“Salah satu sentimen yang memengaruhi pasar adalah kemenangan Partai Demokrat dalam Pemilu Sela AS, yang memunculkan kekhawatiran mengenai potensi regulasi dan pembatasan lebih ketat terhadap pengembangan teknologi AI, termasuk super AI. Ketidakpastian tersebut turut menekan prospek perusahaan teknologi dan memicu aksi jual di pasar saham AS,” ungkap Yudho dalam keterangannya, Sabtu (7/10/2026).
Koreksi juga terjadi pada aset kripto lainnya, dengan Ethereum (ETH) melemah 7,5% ke US$ 2,251 dan Solana (SOL) turun 7,9% ke US$ 89,16. Kapitalisasi pasar kripto secara keseluruhan turut menyusut 4,6% menjadi disekitar US$ 2,66 triliun.
Salah satu faktor yang menekan harga Bitcoin adalah pelemahan saham teknologi AS. Pada perdagangan 5 November, Nasdaq Composite turun 4,7%, sementara S&P 500 melemah 3,5%. Saham Nvidia terkoreksi 7,5% dan AMD anjlok sekitar 14,6%.
“Kondisi tersebut memperlihatkan bagaimana perubahan sentimen di pasar saham dapat merembet ke pasar kripto. Ketika investor mulai mengurangi eksposur terhadap aset berisiko, Bitcoin dan aset digital lainnya berpotensi ikut mengalami tekanan jual,” jelas Yudho.
Di sisi lain, arus dana ETF Bitcoin spot di AS masih menunjukkan pergerakan yang fluktuatif. Produk investasi tersebut mencatatkan arus keluar bersih sebesar US$ 115,6 juta pada 3 November. Secara akumulatif, penarikan dana bahkan telah melampaui US$ 1,15 miliar dalam tiga sesi perdagangan.
Meski demikian, pada 4 November ETF Bitcoin spot kembali mencatatkan arus masuk bersih sebesar US$ 74,6 juta. Perubahan ini menunjukkan bahwa minat investor institusional masih bergerak dinamis di tengah ketidakpastian pasar.
Tekanan juga terlihat di pasar derivatif. Data CoinGlass menunjukkan total likuidasi pasar kripto mencapai sekitar US$ 1,08 miliar dalam 24 jam, dengan US$ 954,38 juta berasal dari posisi long. Besarnya likuidasi ini mengindikasikan banyak trader yang mengantisipasi kenaikan harga justru terkena tekanan ketika Bitcoin kembali terkoreksi.
Fitch Beri Rating BBB untuk Sukuk RI, Tapi Outlook Kredit Masih Negatif
Dari sisi teknikal, Bitcoin masih menghadapi tantangan untuk membalikkan tren penurunan. Berdasarkan grafik harian TradingView pada 5 November 2026, BTC masih bergerak dalam pola descending channel atau kanal menurun.
Jika, BTC mampu kembali di atas US$ 80.000, peluang penguatan menuju US$ 81.000-US$ 82.000 terbuka. Penembusan area tersebut berpotensi membawa BTC menguji level US$ 85.000. Sebaliknya, jika tekanan jual berlanjut, area US$ 75.000-US$ 76.000 menjadi support penting yang perlu dipertahankan. Apabila level tersebut ditembus, Bitcoin berpotensi mengalami koreksi lebih dalam menuju kisaran US$ 73.000.




