BANYU POS – , JAKARTA — Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) berpeluang melanjutkan penguatan dan menguji level 5.100–5.200 pada perdagangan pekan depan.
Tim riset Phintraco Sekuritas menilai sejumlah indikator teknikal mulai menunjukkan sinyal pembalikan arah atau reversal setelah IHSG mampu bertahan di zona hijau pada akhir pekan.
“Kondisi tersebut mengindikasikan peluang penguatan IHSG untuk menguji level 5.100–5.200 pada pekan depan,” tulis tim Phintraco Sekuritas dalam risetnya dikutip, Minggu (8/11/2026).
Adapun IHSG ditutup menguat 0,40% ke level 5.050,43 pada perdagangan Jumat (6/11/2026), meskipun sempat tertekan pada awal sesi akibat sentimen negatif dari koreksi bursa Wall Street dan sejumlah pasar saham Asia, terutama saham-saham sektor teknologi.
Selain tekanan eksternal, pelemahan pada awal perdagangan juga dipengaruhi aksi ambil untung setelah IHSG mencatatkan penguatan signifikan sehari sebelumnya.
Dari pasar global, harga minyak kembali terkoreksi ke bawah US$100 per barel seiring meningkatnya harapan penyelesaian konflik Amerika Serikat (AS) dan Iran dalam waktu lebih cepat.
Iran dilaporkan tengah meninjau proposal yang diajukan mediator terkait program nuklir.
Namun, Teheran masih meminta pencabutan blokade laut AS terhadap pelabuhan-pelabuhan Iran, pelonggaran sanksi, serta pembebasan aset yang dibekukan.
Dari dalam negeri, cadangan devisa Indonesia meningkat menjadi US$146,8 miliar pada Oktober 2026, dibandingkan US$146,3 miliar pada bulan sebelumnya.
Namun, indeks harga rumah tercatat tumbuh lebih lambat, yakni 0,58% secara tahunan pada kuartal III/2026, dibandingkan 0,69% pada kuartal II/2026.
Pemerintah juga menyiapkan anggaran Rp1,28 triliun untuk merealisasikan Program Satu Orang Satu Rekening sebagai bagian dari paket stimulus ekonomi penutup tahun 2026.
Di pasar valuta asing, rupiah ditutup melemah tipis 0,03% ke level Rp18.080 per dolar AS.
Dengan demikian, pergerakan rupiah dan sentimen global masih menjadi faktor yang perlu dicermati investor pada perdagangan pekan depan.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




