Analisis fundamental: Kunci memilih saham ’emas’ untuk jangka panjang

Hikma Lia

BANYU POS – Membangun portofolio investasi saham yang tangguh untuk jangka panjang bukanlah perkara mudah; dibutuhkan pemahaman mendalam tentang potensi sejati sebuah perusahaan. Di sinilah peran analisis fundamental menjadi krusial. Metode ini merupakan kunci bagi investor cerdas untuk menggali lebih dalam, mengevaluasi kondisi ekonomi, keuangan, serta faktor kualitatif lainnya guna menemukan nilai intrinsik atau nilai sebenarnya dari suatu saham.

Advertisements

Menurut laman resmi Sahabat Pegadaian, analisis fundamental adalah teknik investigatif yang berfokus pada pemeriksaan cermat data laporan keuangan dan kondisi ekonomi makro. Tujuannya adalah untuk mengungkap apakah harga pasar saham sebuah perusahaan saat ini sudah mencerminkan nilai wajarnya, atau justru masih diperdagangkan di bawah nilai seharusnya, alias undervalued.

Selisih Spread Emas vs. Keuntungan Reksadana: Mana Pilihan 2026?

Faktor Kualitatif dan Kuantitatif dalam Analisis Fundamental

Advertisements

Para investor yang mengandalkan pendekatan fundamental akan menyelami dua aspek utama dalam menilai sebuah perusahaan.

Aspek pertama adalah faktor kualitatif, yang meliputi elemen-elemen tak kasat mata namun esensial bagi kelangsungan bisnis. Ini mencakup kualitas tata kelola perusahaan (good corporate governance), inovasi model bisnis, keunggulan kompetitif yang membedakan perusahaan dari pesaing, hingga kapabilitas dan integritas tim manajemen. Faktor-faktor kualitatif ini vital untuk memproyeksikan potensi pertumbuhan dan keberlanjutan bisnis perusahaan di masa mendatang.

Selanjutnya, aspek kedua adalah faktor kuantitatif, yang berakar pada data konkret dari laporan keuangan perusahaan. Seperti dikutip dari OCBC, analisis ini melibatkan pemeriksaan menyeluruh terhadap neraca, laporan laba rugi, dan laporan arus kas secara berkala. Dari data finansial ini, investor dapat secara akurat mengukur efisiensi operasional, profitabilitas, serta kesehatan finansial perusahaan selama periode waktu tertentu.

6 Rasio Keuangan Populer: Kunci Membedah Performa Perusahaan

Dalam upaya menyederhanakan perbandingan dan evaluasi antara perusahaan-perusahaan dalam sektor yang serupa, investor acap kali beralih pada rasio keuangan. Bersumber dari IDX Channel, ada enam rasio populer yang secara konsisten menjadi tolok ukur penting. Berikut adalah rincian lengkap, termasuk rumus sederhana dan contoh perhitungannya, yang akan membantu Anda memahami kinerja fundamental suatu saham.

1. Earnings Per Share (EPS)

EPS mengindikasikan seberapa besar laba bersih yang berhasil dihasilkan perusahaan untuk setiap lembar saham yang beredar, memberikan gambaran langsung tentang profitabilitas perusahaan per saham.

  • Rumus: Laba Bersih / Jumlah Saham Beredar
  • Contoh: Jika Perusahaan A melaporkan laba bersih sebesar Rp 1 triliun dengan 5 miliar lembar saham beredar, maka EPS-nya adalah Rp 1 triliun / 5 miliar = Rp 200 per saham.

2. Price to Earnings Ratio (PER)

PER adalah rasio fundamental yang sangat populer, berfungsi untuk membandingkan harga saham saat ini dengan laba per lembar saham. Tujuannya adalah untuk menilai apakah harga saham tersebut wajar, mahal, atau murah dibandingkan dengan laba yang dihasilkannya.

  • Rumus: Harga Saham / EPS
  • Contoh: Apabila harga saham Perusahaan A saat ini Rp 3.000 dan EPS-nya Rp 200, maka PER-nya adalah 3.000 / 200 = 15 kali.

3. Price to Book Value (PBV)

PBV membandingkan harga saham di pasar dengan nilai buku atau ekuitas per saham. Rasio ini berguna untuk mengevaluasi seberapa mahal investor bersedia membayar untuk setiap unit aset bersih perusahaan.

  • Rumus: Harga Saham / Nilai Buku Per Saham
  • Contoh: Misalkan Perusahaan B memiliki nilai buku per saham Rp 1.000 dan harga pasar sahamnya Rp 1.500. Maka, PBV-nya adalah 1.500 / 1.000 = 1,5 kali.

Jebakan Inflasi Biaya Sekolah: 5 Aset Ini Bisa Selamatkan Tabungan Anda

4. Debt to Equity Ratio (DER)

DER adalah indikator penting yang mengukur seberapa besar porsi pendanaan perusahaan berasal dari utang dibandingkan dengan modal sendiri. Rasio ini memberikan gambaran tentang tingkat risiko finansial suatu perusahaan.

  • Rumus: Total Liabilitas (Utang) / Total Ekuitas (Modal)
  • Contoh: Jika Perusahaan C memiliki total utang Rp 500 miliar dan modal sebesar Rp 1 triliun, maka DER-nya adalah 500 miliar / 1 triliun = 0,5 atau 50%.

5. Return on Equity (ROE)

ROE merupakan rasio profitabilitas yang vital, menunjukkan efektivitas perusahaan dalam menghasilkan laba dari setiap rupiah modal yang diinvestasikan oleh pemegang saham. Semakin tinggi ROE, semakin efisien perusahaan mengelola modalnya.

  • Rumus: (Laba Bersih / Total Ekuitas) x 100%
  • Contoh: Dengan modal sebesar Rp 1 triliun, Perusahaan D berhasil mencetak laba bersih Rp 200 miliar. Maka, ROE-nya adalah (200 miliar / 1 triliun) x 100% = 20%.

6. Dividend Yield

Dividend Yield adalah rasio yang menunjukkan persentase keuntungan tunai yang akan diterima investor dari dividen, dibandingkan dengan harga saham saat ini. Ini menjadi daya tarik tersendiri bagi investor yang mencari pendapatan pasif.

  • Rumus: (Dividen Per Saham / Harga Saham) x 100%
  • Contoh: Apabila Perusahaan E membagikan dividen sebesar Rp 100 per saham, dan harga sahamnya Rp 2.500, maka Dividend Yield-nya adalah (100 / 2.500) x 100% = 4%.

Analisis Fundamental vs. Analisis Teknikal: Mengurai Perbedaannya

Banyak investor pemula kerap merasa bingung saat membedakan antara analisis fundamental dan analisis teknikal. Mengutip penjelasan dari Mandiri Sekuritas, perbedaan mendasar di antara keduanya terletak pada sumber data yang digunakan dan horison waktu investasi.

Analisis teknikal fokus pada grafik harga historis dan volume perdagangan untuk memprediksi pergerakan harga saham dalam jangka pendek, mengidentifikasi pola dan tren. Sebaliknya, analisis fundamental menggali lebih dalam, menelisik “jeroan” dan kesehatan inti perusahaan, yang sangat relevan untuk keputusan investasi jangka menengah hingga panjang.

Tonton: Prabowo Semprot Direksi BUMN: Sudah Rugi Minta Tantiem, Tidak Tahu Malu!

Sederhananya, analisis fundamental membimbing investor dalam menentukan saham apa yang layak dibeli, sementara analisis teknikal membantu memutuskan kapan waktu yang paling tepat untuk melakukan aksi beli atau jual. Kombinasi keduanya sering kali memberikan perspektif investasi yang lebih holistik.

Menurut informasi dari Maybank Trade, konsisten melakukan analisis fundamental adalah perisai ampuh yang dapat membantu investor terhindar dari jebakan emosi saat pasar saham bergejolak. Dengan pemahaman yang kokoh tentang nilai riil suatu perusahaan, investor akan tetap tenang meskipun harga pasar mengalami koreksi, selama fundamental perusahaan tetap solid dan prospektif.

Lebih dari sekadar membaca deretan angka, analisis fundamental adalah seni merangkai berbagai informasi untuk memproyeksikan potensi dan masa depan suatu bisnis. Pemahaman akan nilai intrinsik perusahaan melalui rasio-rasio yang telah dijelaskan memungkinkan investor untuk mengambil keputusan berdasarkan data, bukan spekulasi sesaat.

Bagi Anda yang bertekad membangun portofolio investasi yang kokoh dan berkelanjutan, menguasai dasar-dasar analisis fundamental, lengkap dengan cara menghitung rasio keuangannya, adalah langkah awal yang mutlak dan krusial. Ini adalah fondasi yang akan memperkuat setiap keputusan investasi Anda di pasar modal.

Advertisements

Also Read

Tags