BEI akan terbitkan shareholders concentration list, ini dampaknya ke pasar saham

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) menambahkan satu poin proposal dalam pertemuan keduanya dengan MSCI. 

Advertisements

BEI akan menerbitkan shareholders concentration list atau daftar saham yang terindikasi memiliki pemegang saham yang terkonsentrasi.

Jeffrey Hendrik, Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama BEI mengatakan, list tersebut sudah diterapkan di Hongkong. 

“Tentunya dengan implementasi ini akan lebih meningkatkan transparansi dan integritas pasar kita ke depannya,” ujarnya dalam konferensi pers di Gedung BEI, Rabu (11/2/2026).

Advertisements

Sayangnya, kata Jeffrey, pihak self regulatory organization (SRO) Tanah Air tak bisa menyampaikan secara detail isi dari pertemuan tersebut.

MSCI Turunkan INDF ke Small Cap dan Mendepak ACES & CLEO, Ini Kata Analis

Namun, pertemuan itu diakui berlangsung secara konstruktif layaknya pertemuan sebelumnya.

“Kami membahas detail dari tiga rencana aksi yang sudah disampaikan sebelumnya,” ungkapnya.

Pertama, pembukaan data pemegang saham di atas 1%. Kedua, data investor yang lebih granular.

Ketiga, progres dari implementasi peraturan IA tentang pencatatan yang mensyaratkan free float dari 7,5% menjadi 15%. 

“Sebagai komitmen untuk meningkatkan transparansi dan integritas pasar, kami juga tentu melihat best practice yang ada di bursa-bursa global,” tuturnya.

Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), Chory Agung Ramdhani mengatakan, penerapan shareholders concentration list oleh BEI diprediksi akan membawa dampak positif bagi transparansi dan perlindungan investor di pasar modal Indonesia. 

Hasyim Sebut Gejolak Pasar Saham Buat Prabowo Geram, Ini Respons BEI

“Dengan adanya daftar ini, investor dapat lebih waspada terhadap saham-saham yang pergerakan harganya rentan dimanipulasi atau memiliki volatilitas ekstrem akibat penguasaan oleh segelintir pihak tertentu,” ujarnya kepada Kontan, Rabu (11/2/2026).

Secara jangka panjang, kebijakan yang mengadopsi standar bursa global seperti Hong Kong ini akan meningkatkan kepercayaan investor, terutama institusi dan asing, karena risiko asimetri informasi berkurang. 

“Hal ini diharapkan mampu menciptakan iklim investasi yang lebih sehat, meningkatkan integritas pasar, serta mendorong emiten untuk lebih terbuka mengenai struktur kepemilikan saham mereka yang sebenarnya di publik,” tuturnya.

Advertisements

Also Read

Tags