Harga minyak memanas imbas perang AS-Iran, saham MEDC, ENRG, ELSA cs melesat

Hikma Lia

BANYU POS, JAKARTA – Ketegangan geopolitik yang memanas antara Amerika Serikat—Israel dengan Iran di Timur Tengah telah memicu lonjakan harga saham di sektor minyak dan gas (migas). Saham-saham migas terpantau menguat secara kompak, didorong oleh kekhawatiran investor akan potensi kenaikan lebih lanjut pada harga komoditas strategis tersebut.

Advertisements

Di tengah reli saham migas, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru mengalami tekanan signifikan. Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), indeks acuan ini ambles lebih dari 1% pada pembukaan perdagangan hari ini. Bahkan, hingga pukul 10.40 WIB, IHSG terpantau turun 1,82%, merosot ke level 8.086.

Namun, kondisi berbeda ditunjukkan oleh sejumlah emiten migas yang berhasil mencatatkan penguatan harga saham. PT Medco Energi Internasional Tbk. (MEDC) misalnya, melonjak 8,12% ke Rp1.865, sementara PT Energi Mega Persada Tbk. (ENRG) memimpin dengan kenaikan 14,77% ke Rp2.020.

Kenaikan harga saham juga turut dirasakan oleh PT AKR Corporindo Tbk. (AKRA) yang menguat 2,32% ke Rp1.325. Disusul oleh PT Elnusa Tbk. (ELSA) yang naik 7,65% ke Rp915, serta PT ESSA Industries Indonesia Tbk. (ESSA) yang membukukan penguatan 6,20% ke Rp685.

Advertisements

Sejalan dengan itu, saham PT Perusahaan Gas Negara Tbk. (PGAS) terpantau menguat 3,35% ke Rp2.470. Demikian pula PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) yang naik 7,11% ke Rp4.820, dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) yang mencatatkan kenaikan 3,12% ke Rp7.425.

Pergerakan positif saham-saham migas ini tidak terlepas dari lonjakan harga minyak mentah global yang memanas. Harga minyak Brent melonjak drastis hingga 13%, mencapai level sekitar US$82 per barel. Dilansir Bloomberg pada Senin (2/3/2026), minyak Brent untuk kontrak Mei melompat 12% ke level US$81,37 per barel pada pukul 7.01 pagi waktu Singapura.

Kiwoom Sekuritas, melalui riset hariannya, menjelaskan bahwa di tengah ketidakpastian kondisi geopolitik, sektor energi dan logam mulia cenderung menjadi pilihan defensif utama bagi investor. Secara historis, pasar saham Tanah Air, yang masih sangat digerakkan oleh sektor berbasis komoditas, telah terbukti cukup tangguh (resilien) di tengah eskalasi ketegangan geopolitik.

Head of Equity Research Kiwoom Sekuritas, Liza Camelia, menyoroti bahwa pada periode perang Rusia—Ukraina tahun 2022, pasar saham RI masih mampu menguat sekitar 5%. Hal ini disebabkan oleh kinerja saham-saham komoditas yang justru bergerak menguat, berlawanan arah dengan pasar secara keseluruhan. “Walaupun berspekulatif tinggi, potensi trading saham-saham berbasis komoditas yang terdampak perang, seperti energi dan emas, mungkin bisa dilirik, dengan mengedepankan disiplin manajemen keuangan yang ketat,” ujar Liza pada Senin (2/3/2026).

Akibatnya, senasib dengan sektor migas, sektor logam mulia juga mencatatkan penguatan hari ini. Saham PT Aneka Tambang Tbk. (ANTM) misalnya, berhasil menguat 3,68% ke Rp4.510. Sementara itu, saham PT Archi Indonesia Tbk. (ARCI) menguat 2,66% ke Rp1.930, dan saham PT Bumi Resources Minerals Tbk. (BRMS) naik 4,12% ke Rp1.010.

Penguatan serupa juga dialami oleh PT Merdeka Gold Resources Tbk. (EMAS) yang naik 3,60% ke Rp8.625. Lalu, PT Hartadinata Abadi Tbk. (HRTA) menguat tipis 0,31% ke Rp3.250, dan PT J Resources Asia Pasifik Tbk. (PSAB) naik 1,82% ke Rp560.

OCBC Sekuritas turut memberikan pandangannya, menilai bahwa implikasi dari ketegangan geopolitik ini bersifat dua arah terhadap pasar keuangan. Pertama, guncangan harga minyak berpotensi memicu peningkatan risiko inflasi global dan volatilitas pasar, yang mendorong investor untuk melakukan risk-off. Kedua, kendati pasar saham domestik berpotensi mengalami koreksi akibat arus keluar dana asing, peluang penguatan harga saham tetap terbuka lebar di beberapa sektor, terutama yang berbasis energi dan emas.

“Kinerja saham sektoral kemungkinan akan bervariasi, dengan saham energi, pelayaran, dan berbasis emas berpotensi outperform di tengah kenaikan harga komoditas dan lonjakan tarif angkutan. Sementara sektor lain berisiko tertinggal,” jelas para analis OCBC Sekuritas dalam riset yang diterima Bisnis, Senin (2/3/2026).

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements

Also Read