
Dalam insiden yang semakin meningkatkan ketegangan di perbatasan, pasukan Israel dilaporkan menghancurkan 17 kamera pengawas atau CCTV yang terhubung langsung ke markas utama Pasukan Sementara PBB di Lebanon (UNIFIL) di Lebanon selatan. Peristiwa ini terjadi dalam kurun waktu 24 jam, sebagaimana diungkapkan oleh seorang pejabat keamanan PBB kepada AFP pada Sabtu (4/4).
Sejak pecahnya perang Israel-Hizbullah pada 2 Maret, misi penjaga perdamaian UNIFIL telah berada dalam posisi yang sangat genting, terjebak di tengah intensitas baku tembak di wilayah selatan Lebanon. Situasi ini diperparah dengan serangan berkelanjutan Hizbullah terhadap Israel dan pasukannya, serta pergerakan maju pasukan Israel ke kota-kota perbatasan, membuat tugas UNIFIL semakin kompleks dan berbahaya.
Pejabat yang enggan disebutkan namanya itu mengkonfirmasi bahwa “17 kamera markas telah dihancurkan oleh tentara Israel” di kota pesisir Naqura, lokasi markas UNIFIL. Kerusakan ini tidak hanya mengganggu operasional pengawasan, tetapi juga menimbulkan kekhawatiran serius mengenai keselamatan personel PBB di lapangan.
Juru bicara UNIFIL, Kandice Ardiel, menyampaikan kepada AFP pada hari Sabtu bahwa “kamera-kamera tersebut tampaknya telah dihancurkan oleh semacam laser.” Ia menambahkan, tentara Israel memang hadir di Naqura dan telah melakukan penghancuran besar-besaran terhadap berbagai bangunan di desa tersebut sepanjang minggu ini, yang mengindikasikan pola tindakan militer yang agresif di area tersebut.
Sebelumnya, Ardiel juga telah menyatakan kepada AFP bahwa gelombang penghancuran tersebut “tidak hanya meratakan rumah dan bisnis sipil, tetapi kekuatan ledakan yang ditimbulkan juga menyebabkan kerusakan pada markas UNIFIL sendiri.” Ini menunjukkan bahwa fasilitas PBB tidak luput dari dampak langsung konflik, bahkan ketika mereka berusaha menjalankan misi netralnya.
Situasi berbahaya ini telah merenggut nyawa. Tiga pasukan penjaga perdamaian Indonesia, yang merupakan bagian dari kontingen PBB, dilaporkan telah gugur dalam dua insiden terpisah hanya dalam kurun waktu seminggu terakhir. Kehilangan ini menjadi pengingat pahit akan risiko besar yang dihadapi oleh personel PBB dalam menjalankan tugas mulia mereka.
Lebih lanjut, UNIFIL melaporkan insiden “ledakan” pada hari Jumat di salah satu pangkalan mereka yang terletak dekat Odaisseh, Lebanon selatan, yang mengakibatkan cedera pada tiga personel. Meskipun asal mula ledakan tersebut masih dalam penyelidikan, insiden ini menambah daftar panjang ancaman yang dihadapi oleh misi penjaga perdamaian.
Menanggapi ledakan di Odaisseh, Tentara Israel dengan cepat menuduh Hizbullah sebagai pihak yang bertanggung jawab, menyatakan bahwa kelompok tersebut menembakkan “roket yang mendarat di pos terdepan UNIFIL.” Namun, PBB sendiri masih belum mengkonfirmasi pihak di balik serangan tersebut, meninggalkan tanda tanya besar mengenai penyebab pasti insiden.
Kantor PBB di Jakarta pada hari Sabtu mengkonfirmasi identitas personel yang terluka dalam ledakan di Odaisseh sebagai warga negara Indonesia. Kabar ini tentu menambah keprihatinan mendalam bagi Indonesia, mengingat keterlibatan aktif personelnya dalam misi perdamaian ini.
Pemerintah Indonesia telah mengeluarkan pernyataan tegas, mengutuk insiden-insiden tersebut sebagai “tidak dapat diterima.” Mereka menekankan bahwa “peristiwa ini menggarisbawahi kebutuhan mendesak untuk memperkuat perlindungan bagi pasukan penjaga perdamaian PBB di tengah situasi konflik yang semakin berbahaya,” menyerukan tindakan nyata untuk menjamin keselamatan mereka.
Menurut data dari PBB, total 97 anggota pasukan telah gugur dalam berbagai aksi kekerasan sejak UNIFIL didirikan pada tahun 1978. Misi awal UNIFIL adalah untuk memantau penarikan pasukan Israel setelah invasi mereka ke Lebanon, sebuah sejarah panjang konflik yang terus menguji komitmen dan ketahanan misi perdamaian ini.




