
BANYU POS JAKARTA — PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA), entitas terkemuka dari Grup Sinarmas, secara resmi telah melaksanakan aksi korporasi penting berupa pemecahan harga saham atau stock split. Langkah strategis dengan rasio 1:25 ini mulai berlaku efektif pada perdagangan hari ini, Kamis (9/4/2026), sebagai jurus perseroan dalam memacu performa dan daya tarik di pasar modal.
Berdasarkan informasi keterbukaan yang disampaikan, setiap satu saham lama DSSA kini telah dipecah menjadi dua puluh lima saham baru. Konsekuensi dari aksi ini adalah perubahan signifikan pada nilai nominal saham, dari yang semula Rp25 per lembar menjadi hanya Rp1 per lembar saham. Penyesuaian ini membawa dampak langsung pada harga saham DSSA secara teoritis, yang kini menjadi jauh lebih rendah.
Pelebaran rentang harga ini diharapkan dapat secara substansial meningkatkan likuiditas perdagangan dan memperluas basis investor perseroan. Dengan harga yang lebih terjangkau, DSSA membidik peningkatan minat dari investor ritel, memungkinkan mereka untuk berpartisipasi lebih aktif dalam kepemilikan saham perusahaan ini.
Hari ini menandai dimulainya perdagangan saham DSSA dengan nilai nominal baru di pasar reguler dan pasar negosiasi. Sebelumnya, hari Rabu (8/4/2026) telah menjadi hari terakhir perdagangan saham dengan nilai nominal lama. Proses transisi ini akan berlanjut dengan penetapan recording date pada 10 April 2026, sementara perdagangan dengan nilai nominal baru di pasar tunai dijadwalkan akan dimulai pada 13 April 2026.
Sejalan dengan aksi stock split ini, dilakukan pula penyesuaian yang diperlukan terhadap waran terstruktur DSSADRCM6A. Penyesuaian tersebut meliputi rasio pelaksanaan dan harga pelaksanaan, yang keduanya mengikuti perubahan jumlah saham akibat pemecahan tersebut, memastikan konsistensi di seluruh instrumen investasi perseroan.
Direktur DSSA, Daniel Cahya, menjelaskan bahwa dengan nilai nominal yang kini mencapai Rp1, ini menjadi kesempatan terakhir bagi DSSA untuk melakukan pemecahan saham. “Harapannya, investor ritel semakin dapat mengakses saham DSSA dan perdagangan sahamnya semakin likuid. Setelah sebelumnya tembus Rp100.000, itu sangat mahal,” tegas Daniel pada Kamis (2/4/2026), menekankan tujuan utama perseroan untuk meningkatkan keterjangkauan.
Pada perdagangan hari Kamis (9/4/2026) pukul 11.30 WIB, saham DSSA terpantau berada di posisi Rp3.150, sebuah penurunan signifikan dari harga penutupan sebelumnya yang mencapai Rp63.880 pada Rabu (8/4/2026). Perubahan harga ini secara teoritis mencerminkan penyesuaian setelah stock split, menjadikan saham lebih menarik bagi segmen investor yang lebih luas.
Sebagai informasi tambahan, saham DSSA juga tercatat sebagai salah satu dari sembilan emiten yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) dengan konsentrasi kepemilikan saham mencapai 95,76%. Namun, Daniel Cahya menegaskan bahwa masuknya emiten ke dalam daftar HSC tidak serta-merta mengindikasikan pelanggaran di pasar modal. Ia memastikan bahwa DSSA telah memenuhi ketentuan free float, termasuk regulasi terbaru dengan batas minimal 15%.
Berdasarkan laporan keuangan per Desember 2025, porsi saham publik atau kepemilikan di bawah 5% pada DSSA telah mencapai 1,57 miliar saham, atau setara dengan 20,41% dari total saham beredar. Guna menambah likuiditas sahamnya di masa mendatang, manajemen DSSA bahkan mempertimbangkan opsi untuk melepas sebagian saham treasuri. Saat ini, saham treasuri DSSA berjumlah 1,51 miliar atau sekitar 19,68% dari total saham. “Mungkin kami akan melepas saham treasuri ke depan sekitar 1%-2%. Pada intinya, manajemen lebih fokus ke penguatan fundamental DSSA,” pungkas Daniel, menegaskan komitmen perseroan pada pertumbuhan jangka panjang.
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




