Begini penjelasan BEI soal kriteria saham berkonsentrasi tinggi

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA. Bursa Efek Indonesia (BEI) kembali menegaskan komitmennya terhadap transparansi dan kesehatan pasar modal. Terkait hal tersebut, BEI baru-baru ini memberikan penjelasan mendalam mengenai kriteria yang menyebabkan suatu saham masuk dalam daftar konsentrasi kepemilikan tinggi, atau yang dikenal dengan High Shareholding Concentration (HSC).

Advertisements

Irvan Susandy, selaku Direktur Perdagangan dan Pengaturan Anggota Bursa BEI, menjelaskan bahwa High Shareholding Concentration (HSC) List adalah sebuah pengumuman penting yang dikeluarkan bersama oleh BEI dan Kustodian Sentral Efek Indonesia (KSEI). Daftar ini bertujuan untuk mengidentifikasi saham-saham yang terindikasi memiliki konsentrasi kepemilikan yang signifikan di tangan sejumlah investor yang terbatas. Indikasi ini menjadi perhatian karena dapat berpotensi memengaruhi dinamika pasar saham secara keseluruhan.

Penentuan HSC tidak dilakukan secara sembarangan, melainkan melalui proses yang cermat oleh Komite khusus yang terdiri dari perwakilan BEI dan KSEI. Komite ini secara seksama mempertimbangkan berbagai aspek, mulai dari pengawasan pasar, kondisi perusahaan tercatat itu sendiri, hingga kepentingan para pemegang sahamnya. “Tujuan utama dari HSC List adalah untuk meningkatkan transparansi kepada publik mengenai informasi konsentrasi kepemilikan saham pada perusahaan tercatat di Bursa,” ujar Irvan kepada wartawan pada Rabu (22/4/2026).

BEI Ubah Kriteria Evaluasi Indeks LQ45, IDX30, dan IDX80, Ini Rinciannya

Advertisements

Lebih lanjut, Irvan merinci alur penentuan HSC yang sistematis. Proses ini diawali dengan tahapan Trigger Factor, dilanjutkan dengan HSC Checking, hingga akhirnya berujung pada pengumuman resmi. Pada tahap Trigger Factor, saham-saham yang memenuhi indikator pemicu yang telah ditetapkan oleh Komite HSC akan ditindaklanjuti dengan asesmen mendalam terhadap struktur kepemilikan sahamnya.

“Beberapa aspek krusial yang diperhatikan dalam penentuan trigger factor meliputi volatilitas harga saham, aspek pengawasan, tingkat likuiditas saham, serta faktor-faktor relevan lainnya yang dapat mengindikasikan adanya konsentrasi kepemilikan,” tambahnya. Pendekatan komprehensif ini memastikan bahwa identifikasi saham HSC dilakukan berdasarkan data dan analisis yang kuat.

Apabila suatu saham terbukti memiliki indikasi HSC, BEI tidak akan menunda untuk mengumumkannya kepada publik demi menjaga prinsip keterbukaan informasi. Namun, perusahaan tercatat yang sahamnya masuk daftar HSC memiliki kesempatan untuk memperbaiki kondisi struktur kepemilikan sahamnya. Berbagai cara dapat ditempuh, seperti melalui perbaikan free float, pelaksanaan aksi korporasi strategis, atau langkah-langkah lain yang bertujuan untuk mendistribusikan kepemilikan saham agar lebih merata.

Irvan Susandy menekankan, BEI akan kembali mengeluarkan pengumuman (recovery announcement) kepada publik setelah perusahaan tercatat tersebut berhasil membuktikan bahwa sahamnya tidak lagi memiliki konsentrasi kepemilikan yang tinggi. Langkah ini menunjukkan bahwa daftar HSC bukan sekadar sanksi, melainkan upaya BEI untuk mendorong praktik tata kelola perusahaan yang lebih baik dan pasar modal yang lebih sehat serta transparan bagi seluruh investor.

Advertisements

Also Read

Tags