
BANYU POS JAKARTA. Harga komoditas energi kompak menguat dalam sepekan terakhir di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
Melansir Trading Economics, harga minyak minyak mentah jenis West Texas Intermediate (WTI) untuk kontrak pengiriman Juni 2026 tercatat berada di level US$ 105,42 per barel pada Jumat (15/5/2026). Posisi ini melonjak 10,48% sepekan terakhir dan 11,33% dalam sebulan.
Sejalan, harga minyak mentah jenis Brent untuk kontrak pengiriman Juli 2026 ditutup di level US$ 109,3 per barel atau menguat 7,8% sepekan dan 9,9% sebulan.
Di saat bersamaan, harga gas alam juga melonjak 7,3% mingguan dan 11,8% sebulan menjadi US$ 2,96 per mmbtu.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai lonjakan harga energi saat ini dipicu oleh akumulasi risiko geopolitik yang memuncak akibat gangguan pasokan di Selat Hormuz, di tengah ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran.
Instrumen Ini Bisa Dilirik Investor Ketika Pasar Saham dan Rupiah Bergejolak
“Lonjakan harga komoditas energi belakangan ini merupakan manifestasi dari akumulasi risiko geopolitik yang memuncak pada disrupsi suplai di Selat Hormuz, yang secara teknis menciptakan supply shock di tengah ketegangan AS-Iran,” ujar Sutopo kepada Kontan, Rabu (13/5/2026).
Ia juga menekankan bahwa kenaikan tajam minyak WTI dan Brent sekaligus mencerminkan “premi risiko” yang harus dibayar pasar akibat ancaman penutupan jalur distribusi global, sementara gas alam mengikuti jejak tersebut sebagai substitusi energi primer.
Ia menjelaskan, kenaikan harga energi berpotensi mendorong percepatan inflasi global. Tekanan biaya energi yang meningkat dinilai dapat memaksa bank sentral mempertahankan atau memperketat kebijakan moneter untuk meredam inflasi.
Ke depan, prospek pergerakan harga minyak dan gas alam masih akan sangat dipengaruhi perkembangan konflik di Timur Tengah serta hasil negosiasi dagang antara AS dan Tiongkok.
Sutopo memperkirakan, apabila tren bullish berlanjut dan didukung konfirmasi kenaikan teknikal pada grafik mingguan, harga minyak WTI berpeluang menguji level resistance psikologis di US$ 115 per barel. Sementara itu, harga Brent berpotensi menembus US$ 122 per barel.
Adapun harga gas alam diperkirakan berpeluang bergerak menuju US$ 3,5 per mmbtu, terutama apabila permintaan musiman pada semester II mulai meningkat.
“Untuk gas alam, konsolidasi di atas US$ 2,8 membuka jalan menuju target moderat di kisaran US$ 3,5 per mmbtu,” katanya.
Simak Proyeksi Rupiah di Pekan Depan Usai Cetak Rekor Terlemah
Menjelang semester II-2026, Sutopo memprediksi harga minyak masih bergerak volatil dengan kisaran keseimbangan baru (equilibrium) di level US$ 105–US$ 112 per barel untuk Brent dan US$ 98–US$ 108 per barel untuk WTI, dengan asumsi tidak terjadi eskalasi konflik militer lebih lanjut.
Di tengah ketidakpastian tersebut, ia menyarankan investor mengutamakan manajemen risiko dan disiplin terhadap rasio risiko dan imbal hasil dalam berinvestasi pada komoditas energi.
Selain itu, investor juga perlu menghindari keputusan berbasis sentimen perang semata serta memperhatikan indikator teknikal seperti pergerakan exponential moving average (EMA) jangka panjang dan volume transaksi sebagai sinyal konfirmasi arah harga.
“Diversifikasi pada aset yang berkorelasi negatif terhadap kenaikan biaya energi juga penting untuk menjaga stabilitas portofolio,” tutup Sutopo.




