IHSG Anjlok 4,95 Persen di Sesi I, Terpuruk ke Level 5.889

Hikma Lia

BANYU POS, JAKARTA – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali sesi perdagangan hari ini dengan kinerja yang lesu. Dalam tiga jam pertama, indeks mengalami koreksi tajam sebesar 4,94%.

Advertisements

Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), IHSG yang dibuka pada level 6.207,10 harus terperosok ke level 5.889,48. Tekanan jual di pasar sangat dominan, di mana dari ratusan konstituen yang ada, sebanyak 752 saham melemah, 169 saham bergerak stagnan, dan hanya 38 saham yang mampu bertahan di zona hijau.

Koreksi dalam menimpa sejumlah saham yang terafiliasi dengan konglomerat Tanah Air. Deretan emiten di bawah grup Barito Pacific mencatatkan penurunan signifikan, seperti PT Barito Pacific Tbk. (BRPT) yang anjlok 13,47% ke Rp1.670, PT Chandra Daya Investasi Tbk. (CDIA) terkoreksi 13,79% ke Rp750, PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN) melemah 12,10% ke Rp690, PT Petrosea Tbk. (PTRO) merosot 15,00% ke Rp4.080, serta PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA) yang turun 13,42% ke Rp1.645.

Advertisements

Tekanan serupa juga dirasakan oleh saham-saham grup Happy Hapsoro. PT Bukit Uluwatu Villa Tbk. (BUVA) dan PT Sanurhasta Mitra Tbk. (MINA) kompak melemah 13,17%, masing-masing ke level Rp725 dan Rp290. Diikuti oleh PT Rukun Raharja Tbk. (RAJA) yang ambles 12,90% ke Rp3.240 dan PT Raharja Energi Cepu Tbk. (RATU) yang terkoreksi 12,11% ke Rp4.680.

Tidak ketinggalan, kinerja saham milik grup Anthoni Salim turut tertekan. PT Indofood CBP Sukses Makmur Tbk. (ICBP) melemah 5,15% ke Rp6.450, PT Indofood Sukses Makmur Tbk. (INDF) turun 4,18% ke Rp6.300, PT PP London Sumatra Indonesia Tbk. (LSIP) melemah 3,54% ke Rp1.225, dan PT Salim Ivomas Pratama Tbk. (SIMP) terkoreksi 7,08% ke Rp525.

Menanggapi fenomena ini, Equity Analyst Indo Premier Sekuritas, David Kurniawan, mengungkapkan bahwa fokus investor di bulan Juni 2026 telah beralih dari dampak rebalancing MSCI menuju stabilitas rupiah dan kepercayaan investor asing. Meskipun Bank Indonesia telah menaikkan suku bunga menjadi 5,25% guna meredam tekanan eksternal, pasar masih menguji efektivitas kebijakan tersebut dalam menahan volatilitas mata uang dan arus keluar modal.

David menambahkan, jika rupiah mampu menunjukkan stabilitas dalam beberapa pekan mendatang, sentimen pasar berpotensi membaik dan membuka peluang kembalinya aliran dana asing ke pasar saham maupun obligasi domestik. Selain sentimen domestik, investor juga memantau ketat arah kebijakan moneter The Fed. Pertemuan FOMC pertengahan Juni ini dinilai akan menjadi katalis utama, terutama terkait sinyal suku bunga dan prospek inflasi Amerika Serikat. Sikap hawkish The Fed dikhawatirkan dapat memperkuat dolar AS dan membatasi aliran modal ke negara berkembang.

Di sisi lain, analis BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS) dalam riset bertajuk Equity Strategy: Repricing the Risk; Potential Tactical Reliefs to Emerge, menegaskan bahwa pelemahan IHSG sepanjang tahun 2026 mencerminkan kenaikan premi risiko di Indonesia. Kondisi ini dinilai spesifik bagi pasar domestik, bukan sekadar aksi jual massal di pasar negara berkembang.

Terdapat empat faktor utama yang membebani minat investor, yakni risiko fiskal akibat kenaikan harga minyak karena penutupan Selat Hormuz, penurunan prediktabilitas kebijakan, outlook negatif peringkat utang RI, hingga dampak rebalancing MSCI. Selain itu, potensi revisi outlook oleh S&P pada Juli mendatang dan tinjauan aksesibilitas pasar oleh MSCI turut menambah beban bagi pergerakan IHSG.

Akibat berbagai sentimen tersebut, BRIDS merevisi target IHSG untuk akhir Desember 2026 menjadi 7.200, dari proyeksi sebelumnya di level 9.440. Penurunan target ini merefleksikan penghapusan premi aliran dana saham konglomerat sebesar 40% yang sebelumnya diperhitungkan dalam target lama.

Disclaimer: Berita ini tidak bertujuan untuk mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Ringkasan

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengalami koreksi tajam sebesar 4,95 persen ke level 5.889 pada sesi perdagangan awal. Penurunan ini didominasi oleh tekanan jual masif pada ratusan saham, termasuk emiten-emiten besar yang terafiliasi dengan grup konglomerat seperti Barito Pacific, grup Happy Hapsoro, dan grup Anthoni Salim.

Pelemahan ini dipicu oleh berbagai sentimen negatif, mulai dari ketidakpastian kebijakan moneter The Fed, risiko fiskal akibat kenaikan harga minyak, hingga kekhawatiran investor terhadap stabilitas rupiah. Akibat kondisi tersebut, analis merevisi target IHSG akhir tahun 2026 menjadi 7.200, jauh di bawah proyeksi sebelumnya sebesar 9.440.

Advertisements

Also Read