Bank Indonesia (BI) terus memperluas kerja sama sistem pembayaran lintas-negara melalui Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS). Setelah menjalin kerja sama dengan sejumlah negara, BI kini melanjutkan pembahasan dengan India serta memperdalam diskusi dengan Arab Saudi dan Hong Kong.
Deputi Gubernur BI Filianingsih Hendarta mengatakan pembahasan tersebut masih berlangsung dan implementasinya akan disesuaikan dengan kesiapan masing-masing negara.
“BI saat ini terus melanjutkan diskusi dengan India untuk kerja sama pembayaran lintas negara. Selain itu, BI sudah memulai diskusi secara lebih mendalam dengan Arab Saudi dan Hong Kong,” kata Filianingsih dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI secara daring, Rabu.
Menurut Filianingsih, realisasi kerja sama tersebut akan mempertimbangkan kesiapan regulasi, infrastruktur, industri, serta koordinasi dengan otoritas di masing-masing negara.
“Mudah-mudahan ini bisa segera direalisasikan, karena implementasinya tentu harus memperhatikan kesiapan dari masing-masing negara, baik kesiapan regulasi, infrastruktur, industri, maupun koordinasi dengan otoritasnya,” ujarnya.
Saat ini, implementasi QRIS antarnegara telah berjalan dengan beberapa negara, yaitu Thailand, Malaysia, Singapura, Jepang, Korea Selatan, dan Cina. Kerja sama ini memungkinkan pengguna dari negara-negara itu melakukan pembayaran lintas-negara menggunakan QR code secara langsung.
Di tengah rencana perluasan kerja sama tersebut, kinerja QRIS antarnegara juga menunjukkan pertumbuhan positif. Pada triwulan II 2026, transaksi inbound atau transaksi pengguna luar negeri di Indonesia mencapai Rp 1,85 triliun, sedangkan transaksi outbound atau transaksi pengguna Indonesia di luar negeri Rp 330 miliar. Dengan demikian, QRIS antarnegara mencatatkan net inbound Rpn1,52 triliun.
“Kondisi ini mencerminkan bahwa QRIS antarnegara memang mempermudah transaksi pembayaran lintas-negara,” kata Filianingsih.
Ia mengatakan capaian iyu menunjukkan QRIS antarnegara dimanfaatkan oleh residen dari negara lain yang berkunjung ke Indonesia. Menurutnya, penggunaan QRIS antarnegara juga mendorong pertumbuhan ekonomi melalui sektor pariwisata, usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM), serta sektor lainnya.
Secara keseluruhan, BI mencatat transaksi ekonomi dan keuangan digital tetap tumbuh pada triwulan II 2026, didukung sistem pembayaran yang aman, lancar, dan andal.
Volume transaksi pembayaran digital melalui aplikasi mobile dan internet mencapai 16,07 miliar transaksi atau tumbuh 36,88% secara tahunan atau year on year (yoy). Volume transaksi melalui internet tumbuh 16,88%, sedangkan transaksi melalui aplikasi mobile meningkat 31,39%.
Sementara itu, transaksi QRIS tumbuh 100,12% pada triwulan II 2026. BI menyebut pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan jumlah pengguna dan merchant.
Dari sisi infrastruktur, volume transaksi ritel yang diproses melalui BI-FAST mencapai 1.529 juta transaksi atau tumbuh 38,09%, dengan nilai transaksi Rp 3.777 triliun.
Volume transaksi nilai besar yang diproses melalui BI-RTGS mencapai 2,63 juta transaksi atau tumbuh 13,03%. Nilai transaksi BI-RTGS juga meningkat 12,66% menjadi Rp 53.492 triliun pada triwulan II 2026.
Di sisi pengelolaan uang rupiah, uang kartal yang diedarkan (UYD) tumbuh 14,03% menjadi Rp 1.315 triliun pada triwulan II 2026.




