Kekayaan sumber daya alam seperti nikel, tembaga, dan bauksit tidak otomatis menjadikan Indonesia sebagai negara industri tanpa transformasi mendasar dari resource advantage menjadi industrial capability. Meski hilirisasi mencatatkan tren positif melalui investasi smelter senilai Rp584,1 triliun yang menyumbang 19,07% terhadap PDB nasional pada 2025, status negara industri sejati demi keluar dari middle-income trap dan mencapai pendapatan tinggi pada 2045 tetap membutuhkan penguasaan teknologi, rekayasa, kekuatan rantai pasok, produktivitas tinggi, serta produk akhir yang bersaing di pasar global.
Akankah Indonesia mampu melompati celah teknologi ini tepat waktu, atau kita justru akan terjebak menjadi sekadar penyedia bahan setengah jadi bagi industri global? Simak diskusi Mulya Amri @mulyaamri_ dan Martha Ruth Thertina, serta Ardy Muawin selaku Managing Director of Industrialization, BPI Danantara Indonesia di episode terbaru The Boardroom by Katadata.




