BANYU POS JAKARTA. Sektor tambang mineral diproyeksikan bakal menjadi magnet utama bagi para pelaku pasar modal pada pembukaan perdagangan awal pekan ini. Sejumlah analis terkemuka telah merilis rekomendasi beli untuk beberapa emiten unggulan di sektor ini, antara lain PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA), PT Vale Indonesia Tbk (INCO), PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL), dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM). Langkah akumulasi ini didasari oleh berbagai sentimen positif yang diperkirakan akan memperkuat fundamental kinerja keuangan para emiten tersebut dalam jangka pendek maupun menengah.
Optimisme pasar terhadap emiten tambang mineral ini disokong oleh serangkaian katalis kuat. Beberapa di antaranya adalah prospek harga nikel global yang mulai menunjukkan tanda-tanda stabilisasi, peningkatan volume produksi serta penjualan bijih nikel domestik, hingga revisi naik terhadap asumsi harga emas global. Kendati demikian, para investor tetap diimbau untuk bersikap cermat dan realistis. Terdapat sejumlah risiko operasional dan pasar yang membayangi, seperti tren kenaikan biaya produksi (cash cost), potensi terjadinya koreksi musiman pada harga bijih nikel, serta tekanan terhadap profitabilitas penjualan emas akibat kebijakan fiskal terbaru.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai analisis fundamental, prospek kinerja operasional, serta rekomendasi saham sektor tambang mineral dari para analis untuk perdagangan Senin (21/9/2026).
1. PT Merdeka Battery Materials Tbk (MBMA)
Analis dari UBS Sekuritas Indonesia, Igor Putra, memberikan rekomendasi beli (buy) untuk saham MBMA dengan menetapkan target harga yang cukup optimistis di level Rp 860 per saham. Rekomendasi ini didasarkan pada capaian operasional perusahaan yang solid sepanjang kuartal kedua tahun 2026, yang dinilai berjalan beriringan dengan estimasi internal serta panduan kinerja yang telah ditetapkan sebelumnya.
Sepanjang kuartal II 2026, MBMA berhasil membukukan performa operasional yang tangguh. Meskipun margin kas per ton untuk produk limonit—dengan saprolit yang dialokasikan sebagai bahan baku internal—serta produk nickel pig iron (NPI) mengalami penurunan secara kuartalan (quarter-on-quarter/qoq), realisasi margin tersebut tercatat masih jauh lebih tinggi jika dibandingkan dengan pencapaian pada periode yang sama tahun sebelumnya. Hal ini menunjukkan adanya efisiensi yang berjalan dengan baik di tingkat operasional hulu.
Dari sisi volume produksi, tambang Sulawesi Cahaya Mineral (SCM) yang menjadi aset andalan MBMA menunjukkan produktivitas yang luar biasa. Produksi bijih nikel dari tambang SCM telah merealisasikan sekitar 53% dari total proyeksi setahun penuh untuk tahun 2026. Angka pencapaian ini tergolong lebih tinggi dibandingkan dengan pola musiman normal yang biasa terjadi pada paruh pertama tahun berjalan. Di sisi lain, volume penjualan untuk produk nickel matte kadar tinggi (high-grade nickel matte/HGNM) juga terus mencatatkan kurva peningkatan yang signifikan.
Namun demikian, tantangan tetap ada di segmen hilir. Tingginya biaya produksi untuk NPI kadar rendah berimbas pada kinerja keuangan segmen HGNM, yang akhirnya harus membukukan kerugian bersih pada kuartal II 2026. Meski begitu, prospek jangka panjang MBMA dinilai tetap menjanjikan. Kebijakan pengurangan kuota produksi tambang melalui skema Rencana Kerja dan Anggaran Biaya (RKAB) serta terbatasnya pasokan dari fasilitas High-Pressure Acid Leach (HPAL) diperkirakan akan menjaga harga nikel tetap solid. Kondisi ini diproyeksikan mampu menopang tingkat pengembalian ekuitas (Return on Equity/ROE) bagi produsen nikel di Indonesia, termasuk MBMA yang kini menjadi salah satu pilihan saham utama (top pick) di sektor logam.
Baca Juga: CDS Indonesia Diproyeksi Sideways hingga Akhir Tahun
2. PT Vale Indonesia Tbk (INCO)
Beralih ke emiten nikel lainnya, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia, Adrian Djie, merekomendasikan beli (buy) untuk saham INCO dengan target harga yang dipatok pada Rp 6.300 per saham. Keyakinan ini didorong oleh realisasi pendapatan perseroan yang sangat kuat, yang ditopang oleh diversifikasi produk yang berjalan optimal.
Segmen Nickel Matte masih menjadi kontributor utama pendapatan INCO dengan sumbangsih mencapai US$ 401 juta. Menariknya, pertumbuhan yang sangat eksponensial justru ditunjukkan oleh segmen Nickel Ore (bijih nikel). Segmen ini berhasil mencatatkan pendapatan sebesar US$ 142 juta, atau mengalami lonjakan yang sangat fantastis sebesar 2.840% dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/YoY). Kenaikan ini menegaskan keberhasilan strategi komersialisasi bijih nikel mentah perseroan di pasar domestik.
Dari sisi volume produksi fisik, INCO sukses memproduksi nickel matte sebanyak 16.153 ton pada kuartal II 2026, yang mencerminkan pertumbuhan sebesar 19% secara kuartalan (qoq). Dengan pencapaian tersebut, total akumulasi produksi nickel matte INCO sepanjang semester I 2026 telah menyentuh angka 29.773 ton. Akselerasi produksi ini merupakan dampak langsung dari optimalisasi kinerja operasional pasca-rampungnya proyek pemeliharaan besar Electric Furnace 3 Rebuild pada Juni 2026.
Selain segmen olahan, kinerja penjualan bijih nikel langsung juga menunjukkan performa yang sangat kokoh. Blok Bahodopi berhasil membukukan volume penjualan bijih saprolit sebesar 1,07 juta wet metric ton (wmt) pada kuartal II 2026. Pada saat yang sama, operasional di Blok Pomalaa juga tidak kalah agresif dengan mencatatkan peningkatan volume penjualan bijih nikel menjadi 496.000 wmt sepanjang kuartal kedua tahun ini.
3. PT Trimegah Bangun Persada Tbk (NCKL)
Rekomendasi positif juga disematkan pada saham NCKL. Equity Analyst OCBC Sekuritas, Devi Harjoto, merekomendasikan beli (buy) untuk saham NCKL dengan target harga Rp 1.220 per saham. Dorongan pertumbuhan pendapatan NCKL pada kuartal II 2026 dinilai bersumber dari ekspansi volume penjualan bijih nikel yang masif.
Kinerja keuangan dan operasional NCKL yang impresif ini sangat ditopang oleh harga jual rata-rata (Average Selling Price/ASP) untuk produk saprolit dan limonit yang tetap kuat. Kondisi ini merupakan dampak positif dari implementasi formula Harga Patokan Mineral (HPM) yang baru, yang memberikan kepastian margin yang lebih sehat bagi para penambang domestik. Proyeksi untuk keseluruhan tahun 2026 memperkirakan volume penjualan saprolit NCKL mampu menembus angka 14,6 juta WMT, dengan margin kas (cash margin) yang diprediksi konsisten bertahan di atas level 60%.
Pada segmen pemrosesan dan pemurnian nikel, manajemen NCKL dihadapkan pada tantangan kenaikan biaya kas akibat naiknya harga bahan baku saprolit serta fluktuasi harga bahan bakar. Namun, analisis menunjukkan bahwa kenaikan biaya operasional tersebut diperkirakan akan mampu diimbangi oleh kenaikan harga nikel di London Metal Exchange (LME) yang diasumsikan naik secara tahunan ke level US$ 17.500 per ton.
Dengan asumsi harga komoditas tersebut, margin kas untuk produk feronikel (FeNi) diproyeksikan mampu mencapai level 27% pada tahun 2026. Adapun total volume penjualan FeNi, yang sudah memperhitungkan kontribusi dari proyek KPS Tahap 3 yang selesai dibangun pada semester I 2026, ditargetkan mencapai 230.000 ton. Sementara itu, untuk segmen limonit, volume penjualan diperkirakan akan tetap stabil di kisaran 18 juta WMT dengan mempertahankan margin kas di level sekitar 60% sepanjang tahun 2026.
Baca Juga: Begini Prospek Saham Emiten Unggas di Tengah Serapan Anggaran MBG 63,89%
4. PT Aneka Tambang Tbk (ANTM)
Terakhir, untuk emiten BUMN tambang, PT Aneka Tambang Tbk (ANTM), Equity Analyst KB Valbury Sekuritas, Ashalia Fitri Yuliana, menetapkan rekomendasi beli (buy) dengan target harga saham di level Rp 4.000 per saham. Rekomendasi ini didasarkan pada dinamika menarik antara bisnis komoditas emas dan nikel yang dikelola oleh perseroan.
KB Valbury Sekuritas memutuskan untuk menaikkan asumsi harga emas global untuk tahun 2026 menjadi US$ 4.500 per ons, naik dari estimasi sebelumnya yang berada di angka US$ 4.400 per ons. Langkah ini sangat beralasan mengingat harga emas sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD) telah bertengger kuat di level US$ 4.544 per ons. Bahkan pada Agustus 2026, harga logam mulia ini sempat melonjak hingga 13,3% ke posisi US$ 4.563 per ons, yang dipicu oleh derasnya aliran dana masuk (inflow) global ke instrumen ETF emas yang mencapai US$ 17,7 miliar atau setara dengan akumulasi fisik sekitar 120 ton emas.
Atas dasar kenaikan harga emas tersebut, proyeksi pendapatan konsolidasi ANTM untuk tahun 2026 direvisi naik menjadi Rp 109,4 triliun, dari proyeksi awal sebesar Rp 99,8 triliun. Sejalan dengan itu, estimasi laba bersih perseroan juga ditingkatkan menjadi Rp 9,4 triliun. Namun, analis memberikan catatan penting mengenai risiko di pasar domestik. Kebijakan pengenaan bea keluar yang baru berpotensi mendorong produsen emas dalam negeri untuk mengalihkan penjualannya ke pasar domestik. Hal ini berisiko menimbulkan kondisi kelebihan pasokan (oversupply) di pasar lokal, yang merupakan pasar utama bagi produk emas milik ANTM.
Sementara itu dari lini bisnis nikel, ANTM mendapatkan angin segar setelah berhasil memperoleh tambahan kuota produksi dalam dokumen RKAB, sehingga total kuota tahunan perseroan kini meningkat menjadi sekitar 19 juta ton. Tambahan kuota ini diyakini akan menjadi pilar utama penyokong volume penjualan bijih nikel ANTM ke depan. Kendati demikian, volatilitas harga tetap harus diwaspadai. Mengingat ASP rata-rata bijih nikel ANTM telah mencapai US$ 73,9 per wmt pada semester I 2026, terdapat potensi terjadinya koreksi harga pada paruh kedua tahun ini. Pelonggaran kuota produksi secara nasional dikhawatirkan akan membanjiri pasar domestik dengan pasokan baru, yang pada akhirnya dapat menekan ASP rata-rata mendekati level formula HPM minimum.




