BANYU POS NEW YORK. Bursa saham Amerika Serikat (AS) dibuka melemah pada Kamis (24/9/2026). Kenaikan harga minyak akibat ketegangan di Timur Tengah mendorong imbal hasil US Treasury naik dan menekan aset berisiko.
Pada pembukaan perdagangan, Dow Jones Industrial Average turun 95,8 poin atau 0,19% ke 51.415,75. S&P 500 melemah 39 poin atau 0,51% ke 7.666,99, sedangkan Nasdaq Composite turun 201,5 poin atau 0,75% ke 26.734,51.
Investor juga mengambil sikap hati-hati menjelang pertemuan Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping.
Pertemuan tersebut diperkirakan membahas sejumlah isu strategis, termasuk regulasi kecerdasan buatan (AI), konflik Timur Tengah dan Taiwan.
Wall Street Ambruk, Lonjakan Harga Minyak dan Ancaman Inflasi Guncang Pasar
Ketegangan AS dan Iran di Sidang Umum PBB turut mengerek harga minyak Brent kembali menembus US$100 per barel. Kekhawatiran pasar semakin besar setelah muncul potensi larangan ekspor diesel AS.
Kenaikan harga energi berdampak langsung pada saham sektor yang sensitif terhadap biaya bahan bakar.
Saham maskapai dan operator kapal pesiar seperti JetBlue, American Airlines, Norwegian Cruise dan Royal Caribbean bergerak melemah dalam perdagangan awal.
Tekanan juga datang dari pasar obligasi. Yield Treasury tenor 30 tahun mencapai level tertinggi sejak 2004 karena pasar memperhitungkan risiko perang Timur Tengah yang berkepanjangan serta biaya pinjaman yang lebih tinggi.
“Investor belum banyak melepas saham teknologi,” kata Steve Sosnick, Chief Market Analyst Interactive Brokers.
Saham teknologi utama ikut tertekan. Meta turun 1,8% dan Nvidia melemah 1,1%, sementara Marvell dan Intel masing-masing turun sekitar 3%.
Oracle menjadi salah satu saham yang mencatat penurunan lebih besar, yakni 4,2%, setelah laporan menyebut perusahaan mengirimkan pemberitahuan force majeure terkait sebuah pusat data di New Mexico. Saham Blue Owl, pengembang proyek tersebut, juga turun 4%.
Wall Street Dibuka Naik Senin (21/9), Saham AI Naik dan Harga Minyak Turun 2%
Di pasar berjangka, kontrak Dow E-minis turun 138 poin atau 0,27%, S&P 500 E-minis melemah 0,51%, sedangkan Nasdaq 100 E-minis turun 0,98%.
Indeks volatilitas CBOE atau VIX, yang kerap disebut sebagai indikator ketakutan investor di Wall Street, naik ke level tertinggi dalam sepekan di 15,99.
Di tengah tekanan tersebut, optimisme terhadap prospek bisnis AI masih menjadi penahan pelemahan saham teknologi. Nasdaq sebelumnya mencatat rekor, sehingga investor belum sepenuhnya meninggalkan saham-saham yang berkaitan dengan AI.
Perhatian pasar selanjutnya tertuju pada pertemuan Trump dan Xi. Sejumlah petinggi perusahaan besar AS, termasuk General Motors, Meta, Apple, Amazon dan Tesla, juga dijadwalkan bertemu kedua pemimpin tersebut.
Dari sisi perdagangan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengatakan AS dan China telah sepakat memperpanjang gencatan perdagangan hingga 10 Januari mendatang.
Sementara itu, kenaikan harga energi dan data aktivitas bisnis AS yang masih kuat membuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve kembali meningkat.
Wall Street Perpanjang Reli Kamis (14/5), Cermati Hasil Pertemuan Trump & Xi Jinping
CME FedWatch Tool menunjukkan pasar memperkirakan peluang kenaikan suku bunga minimal 25 basis poin pada pertemuan bulan depan mencapai 71%, naik dari sekitar 50% sehari sebelumnya.
Presiden Federal Reserve Bank of New York John Williams juga mengatakan kenaikan suku bunga tambahan tahun ini masih menjadi kemungkinan yang masuk akal.
Data terbaru menunjukkan klaim pengangguran mingguan AS turun pada pekan lalu, mengindikasikan kondisi pasar tenaga kerja yang masih relatif kuat.
Sejumlah saham juga bergerak tajam sebelum pembukaan. MGM Resorts turun 10% setelah People Inc milik Barry Diller menarik proposal akuisisi terhadap operator kasino tersebut.
Sementara itu, saham Darden Restaurants, induk Olive Garden, turun 2% setelah membukukan penjualan dan laba kuartal pertama yang berada di bawah ekspektasi pasar.




