Harga Emas Anjlok Akibat Fed & Yield UST: Bagaimana Strategi Investasinya?

Hikma Lia

KONTAN.CO.ID – JAKARTA. Langkah kebijakan moneter yang semakin agresif oleh bank sentral Amerika Serikat, The Federal Reserve (The Fed), bersamaan dengan lonjakan signifikan pada imbal hasil (yield) US Treasury, telah secara nyata meredupkan daya tarik harga emas global. Fenomena ini terjadi setelah sebelumnya logam mulia tersebut sempat mencetak rekor tertinggi yang memukau pasar, menunjukkan betapa sensitifnya harga emas terhadap dinamika ekonomi makro global dan ekspektasi investor. Pergeseran sentimen pasar ini menyoroti interaksi kompleks antara kebijakan moneter, kinerja obligasi pemerintah, dan persepsi risiko di kalangan investor.

Advertisements

Berdasarkan pemantauan data Bloomberg pada pukul 15.30 WIB, harga emas spot terpantau berada di level US$ 4.141,77 per ons troi. Angka ini mencerminkan kenaikan tipis sebesar US$ 26,06 atau setara dengan 0,63% secara harian. Meskipun menunjukkan sedikit kenaikan dalam jangka pendek, level tersebut merupakan hasil koreksi yang signifikan dari puncak harga emas sebelumnya yang sempat menyentuh US$ 4.700 per ons troi. Penurunan substansial ini merupakan cerminan langsung dari perubahan drastis ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter di Amerika Serikat, yang secara fundamental memengaruhi daya tarik aset non-bunga seperti emas.

Keputusan The Fed untuk menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bps) menjadi rentang 3,75%–4,00% telah menjadi pemicu utama koreksi harga emas. Kenaikan ini bukan sekadar penyesuaian kecil; ini adalah kenaikan suku bunga pertama dalam kurun waktu tiga tahun, menandakan pergeseran signifikan dalam sikap The Fed dari kebijakan yang lebih akomodatif menuju pengetatan yang lebih ketat. Lebih lanjut, sinyal dari “dot plot” The Fed, yang menunjukkan bahwa 16 dari 18 pejabat Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) masih mendukung kenaikan suku bunga berlanjut di masa mendatang, memperkuat pandangan pasar bahwa era suku bunga tinggi akan bertahan lebih lama. Proyeksi ini secara langsung menekan harga emas karena meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset yang tidak memberikan imbal hasil seperti emas, dibandingkan dengan aset berbunga seperti obligasi.

Advertisements

Kondisi pasar menjadi semakin menantang bagi emas ketika imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun melonjak drastis hingga mencapai 5,23%. Level ini merupakan yang tertinggi sejak tahun 2007, menunjukkan peningkatan permintaan yang kuat untuk obligasi pemerintah AS dan ekspektasi inflasi serta pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi di masa depan. Kenaikan yield Treasury ini menjadikan obligasi pemerintah AS jauh lebih menarik bagi investor dibandingkan emas, yang tidak menawarkan pendapatan bunga. Secara bersamaan, indeks dolar AS (DXY) juga menguat, mencapai kisaran 101. Penguatan dolar AS cenderung berbanding terbalik dengan harga emas, karena emas yang dihargakan dalam dolar menjadi lebih mahal bagi pemegang mata uang lainnya, sehingga mengurangi permintaan global.

Di tengah gejolak ekonomi makro, eskalasi konflik di Selat Hormuz menambah lapisan kompleksitas pada dinamika pasar. Konflik di jalur pelayaran vital ini secara historis selalu memicu kenaikan harga minyak mentah global karena kekhawatiran akan gangguan pasokan. Kenaikan harga minyak mentah ini pada gilirannya memicu kekhawatiran akan timbulnya gelombang inflasi baru, yang secara paradoks, di masa lalu seringkali mendukung harga emas sebagai lindung nilai inflasi. Namun, dalam konteks saat ini, dengan The Fed yang berkomitmen untuk mengendalikan inflasi melalui pengetatan moneter, ancaman inflasi baru justru memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga lebih lanjut, yang lebih dominan menekan emas.

Pasar keuangan kini secara aktif memperhitungkan probabilitas yang tinggi, sekitar 66% hingga 70%, bagi The Fed untuk kembali menaikkan suku bunga acuan pada bulan Oktober mendatang. Ekspektasi ini mencerminkan keyakinan kuat di kalangan investor bahwa bank sentral AS akan terus memprioritaskan upaya untuk menekan inflasi, bahkan jika itu berarti harus mempertahankan kebijakan moneter yang ketat untuk jangka waktu yang lebih lama. Probabilitas kenaikan suku bunga yang tinggi ini terus menjadi faktor penekan utama bagi harga emas, karena investor memproyeksikan lingkungan di mana aset berbunga akan terus menawarkan pengembalian yang lebih kompetitif.

Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menjelaskan bahwa kombinasi antara kebijakan pengetatan suku bunga yang dilakukan oleh The Fed dan lonjakan harga energi saat ini secara signifikan merusak momentum kenaikan harga emas. Menurutnya, lingkungan suku bunga yang lebih tinggi meningkatkan biaya peluang untuk memegang aset non-bunga seperti emas. Sementara itu, harga energi yang melonjak, meskipun memicu kekhawatiran inflasi, justru direspons oleh bank sentral dengan kebijakan moneter yang lebih ketat, yang pada akhirnya membebani emas. Interaksi kedua faktor ini menciptakan kondisi yang kurang menguntungkan bagi logam mulia tersebut.

Selain faktor fundamental makroekonomi, aksi jual teknikal juga turut memperparah penurunan harga emas. Sutopo Widodo mengindikasikan bahwa jebolnya level support penting di US$ 4.300 per ons troi memicu gelombang penjualan dari para pelaku pasar yang berpegang pada analisis teknikal. Ketika level support kritis ditembus, hal ini seringkali memicu penjualan otomatis atau margin call, yang mempercepat penurunan harga. Ditambah lagi, pelepasan posisi oleh Exchange Traded Funds (ETF) emas yang melakukan pembelian pada harga tinggi di bulan Agustus juga berkontribusi pada tekanan jual. Investor ETF seringkali menjual kepemilikan mereka ketika harga mulai terkoreksi tajam, mencari keuntungan atau membatasi kerugian.

Lebih lanjut, Sutopo Widodo menegaskan kepada Kontan pada Selasa (29/9/2026) bahwa dalam situasi pasar saat ini, tekanan yang berasal dari kenaikan suku bunga dan imbal hasil obligasi pemerintah AS secara efektif mengalahkan permintaan terhadap emas sebagai aset safe haven. Secara tradisional, emas dianggap sebagai tempat berlindung yang aman di tengah ketidakpastian ekonomi atau geopolitik. Namun, ketika aset-aset lain, seperti obligasi pemerintah, menawarkan pengembalian yang jauh lebih menarik dan risiko yang relatif rendah, daya tarik emas sebagai safe haven cenderung berkurang. Investor memilih untuk mengalihkan modal mereka ke instrumen yang memberikan imbal hasil nyata.

Meskipun menghadapi tekanan yang signifikan, emas tetap memiliki penyangga struktural yang kuat yang mencegah penurunan yang lebih drastis. Salah satu faktor utama adalah aktivitas pembelian yang solid dari bank sentral global. Pada kuartal II tahun 2026, bank sentral di seluruh dunia mencatatkan pembelian emas hingga 289 ton, sebuah angka yang menunjukkan peningkatan substansial sebesar 62% secara tahunan. Pembelian ini mencerminkan upaya diversifikasi cadangan devisa dan perlindungan terhadap volatilitas mata uang fiat. Di antara pembeli terbesar, China tercatat telah menambah cadangan emasnya selama 21 bulan berturut-turut, sebuah indikasi yang jelas bahwa negara-negara besar masih melihat emas sebagai komponen penting dalam portofolio aset nasional mereka, memperkuat permintaan jangka panjang.

Chief Analyst Doo Financial Futures, Lukman Leong, berpendapat bahwa koreksi tajam yang dialami harga emas saat ini tidak secara otomatis menghilangkan fungsi dasar emas sebagai instrumen pelindung nilai (hedging) dan diversifikasi portofolio. Meskipun harga bergejolak, emas tetap memiliki nilai intrinsik sebagai aset yang cenderung bergerak secara independen dari kelas aset lain, seperti saham dan obligasi, sehingga dapat membantu mengurangi risiko keseluruhan dalam portofolio investasi. Fungsi ini menjadi sangat relevan dalam kondisi pasar yang tidak menentu, di mana investor mencari cara untuk melindungi kekayaan mereka dari berbagai risiko.

Namun, Lukman Leong menyarankan agar para pemodal tidak terburu-buru dalam mengambil keputusan investasi secara impulsif di tengah volatilitas pasar. Keputusan yang didasari emosi seringkali dapat berujung pada kerugian. Ia menekankan pentingnya pendekatan yang terukur dan strategis. “Untuk investor, saya tidak menyarankan melihat kondisi sekarang sebagai momentum untuk ‘all in‘. Lebih baik menggunakan strategi akumulasi bertahap, karena kita masih menghadapi risiko koreksi lanjutan,” tutur Lukman kepada Kontan pada Selasa (29/9/2026). Strategi akumulasi bertahap memungkinkan investor untuk membeli emas dalam jumlah kecil secara berkala, merata-ratakan harga pembelian mereka dan mengurangi risiko yang terkait dengan mencoba “memprediksi” titik terendah pasar.

Hingga akhir tahun 2026, arah pergerakan harga emas diproyeksikan masih akan dibayangi oleh tingkat volatilitas yang tinggi. Pergerakan harga akan sangat bergantung pada rilis data-data ekonomi makro yang krusial, seperti data inflasi, laporan penggajian non-pertanian (non-farm payrolls), serta tren harga minyak dunia. Data inflasi akan memberikan petunjuk mengenai keberhasilan The Fed dalam mengendalikan kenaikan harga dan potensi kebijakan moneter di masa depan. Laporan penggajian akan mencerminkan kekuatan pasar tenaga kerja AS, yang merupakan salah satu pertimbangan utama The Fed. Sementara itu, harga minyak dunia akan terus memengaruhi ekspektasi inflasi dan, secara tidak langsung, kebijakan bank sentral.

Dalam skenario yang lebih optimis, Lukman Leong memproyeksikan bahwa rentang harga emas pada akhir tahun 2026 berpotensi bergerak kembali naik dalam kisaran US$ 4.700 hingga US$ 4.900 per ons troi. Proyeksi ini sangat bergantung pada asumsi bahwa imbal hasil US Treasury dan indeks dolar AS (DXY) mulai berbalik melandai. Jika tekanan dari kenaikan yield obligasi dan penguatan dolar AS mereda, emas akan mendapatkan kembali daya tariknya sebagai aset yang lebih menarik, terutama jika kekhawatiran inflasi masih tetap ada atau jika ada pergeseran sentimen pasar terhadap kebijakan moneter yang kurang agresif.

Di sisi lain, Sutopo Widodo memberikan perkiraan skenario yang lebih realistis untuk harga emas hingga akhir tahun 2026, menempatkannya dalam rentang US$ 3.900 hingga US$ 4.600 per ons troi, dengan titik tengah di kisaran US$ 4.200–US$ 4.300 per ons troi. Skenario ini mencerminkan pandangan yang mempertimbangkan berbagai faktor penekan yang masih mungkin terjadi. Sutopo juga menguraikan skenario terburuk, di mana harga emas dapat merosot lebih jauh menuju US$ 3.700–US$ 4.000 per ons troi. Skenario pesimis ini dapat terealisasi apabila The Fed memutuskan untuk menaikkan suku bunga dua kali lagi secara berturut-turut, menunjukkan komitmen yang sangat agresif terhadap pengetatan moneter, dan jika imbal hasil US Treasury menembus level kritis 5,5%. Kombinasi faktor-faktor ini akan menciptakan lingkungan yang sangat tidak menguntungkan bagi emas, menekan harganya secara signifikan.

Advertisements

Also Read

Tags