Nilai tukar rupiah menguat tipis 12 poin atau sekitar 0,1% ke level 17.882 per dolar Amerika Serikat (AS) pada Rabu (7/10).
Analis Doo Financial Lukman Leong memperkirakan, para investor cenderung menunggu data cadangan devisa yang akan dirilis oleh Bank Indonesia (BI).
“Rupiah diperkirakan dibuka datar terhadap dolar AS dengan potensi menguat terbatas. Investor cenderung wait and see menantikan data cadev Indonesia siang ini,” kata Lukman saat dihubungi, Rabu (7/10).
Selain itu, ia menilai, hal lain yang dipertimbangkan para investor yakni risalah pertemuan FOMC (FOMC minutes), catatan resmi mengenai hasil diskusi, pandangan ekonomi, serta alasan kebijakan moneter yang diambil oleh Komite Pasar Terbuka Federal milik bank sentral AS (The Fed).
“Indeks dolar AS sendiri terpantau terkoreksi oleh rebound pada Euro,” kata Lukman.
Sementara itu, pengamat ekonomi, mata uang, dan komoditas, Ibrahim Assuaibi menuturkan, sejumlah kondisi yang mempengaruhi pergerakan nilai tukar mata uang garuda terhadap dolar AS. Ia juga menilai pasar menantikan rilis risalah pertemuan FOMC September yang akan dirilis pada Rabu (7/10), serta data klaim awal tunjangan pengangguran pada keesokan harinya.
“Sebelumnya, laporan inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) bulan Agustus juga berada di bawah ekspektasi, sementara angka-angka sebelumnya direvisi turun. Secara keseluruhan, data ketenagakerjaan dan inflasi yang lebih lemah ini telah mengurangi kemungkinan adanya kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan tanggal 27-28 Oktober mendatang,” kata Ibrahim dalam keterangannya, dikutip Rabu (7/10).




