BANYU POS – , JAKARTA — Aksi pembelian kembali saham atau buyback yang disiapkan sejumlah emiten dinilai belum cukup untuk memastikan pemulihan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di tengah tekanan pasar. Investor masih perlu mencermati keseimbangan permintaan dan penawaran serta kekuatan rebound sebelum kembali mengakumulasi saham.
Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas Indonesia Fath Aliansyah Budiman mengatakan, aksi buyback berpotensi memang membantu menstabilkan pergerakan pasar melalui penyerapan saham di tengah tekanan jual. Namun, dampak aksi korporasi tersebut terhadap pemulihan IHSG masih membutuhkan waktu.
“Kalau misalnya ditanya apakah ini bisa menyelamatkan IHSG, masih butuh waktu, tapi setidaknya dengan adanya aksi buyback ini bisa membuat demand sama supply-nya lebih stabil,” ujarnya dalam diskusi pasar secara daring, Selasa (20/10/2026).
Sejumlah emiten sebelumnya telah mengumumkan rencana buyback dengan nilai mencapai triliunan rupiah. Emiten tersebut antara lain PT Bank Central Asia Tbk. (BBCA), PT Dian Swastatika Sentosa Tbk. (DSSA), PT Barito Pacific Tbk. (BRPT), PT Barito Renewables Energy Tbk. (BREN), PT Petrindo Jaya Kreasi Tbk. (CUAN), dan PT Chandra Asri Pacific Tbk. (TPIA).
Fath menyampaikan, DSSA menyiapkan dana buyback sebesar Rp1 triliun dari kas internal hingga 18 Januari 2027. BRPT dan BREN masing-masing menyiapkan Rp1 triliun, sedangkan CUAN menyiapkan Rp300 miliar untuk periode 19 Oktober hingga 31 Desember 2026.
Adapun TPIA menyiapkan dana buyback hingga Rp1 triliun untuk periode 20 Oktober 2026 hingga 19 Januari 2027. Sementara itu, BBCA menjadwalkan periode buyback pada 19–21 Oktober 2026 dengan nilai Rp5 triliun.
Fath menilai perkembangan perdagangan mulai menunjukkan perlawanan setelah tekanan jual mendominasi sesi sebelumnya. Meski demikian, sebagian saham masih mengalami penurunan di tengah pembatasan penurunan harga saham atau auto rejection bawah (ARB) maksimal 7% yang mulai berlaku pada perdagangan Senin (19/10/2026).
Menurutnya, kondisi tersebut mengindikasikan bahwa keseimbangan permintaan dan penawaran mulai bergerak ke arah yang lebih stabil. Namun, investor belum dapat menyimpulkan bahwa tekanan pasar telah berakhir hanya berdasarkan kemunculan aksi buyback dan pergerakan rebound pada sejumlah saham.
Lebih lanjut, di tengah volatilitas pasar, Fath mengingatkan investor agar tidak terburu-buru melakukan pembelian saham secara agresif. Investor perlu melihat terlebih dahulu seberapa kuat pemulihan harga dan perkembangan yang berpotensi memengaruhi risiko pasar saham Indonesia.
Salah satu faktor yang menjadi perhatian ialah potensi perubahan status Indonesia menjadi standalone market dalam klasifikasi MSCI. Menurutnya, perkembangan terkait risiko tersebut perlu dicermati sebelum investor meningkatkan eksposur terhadap saham.
“Justru ketika terjadi rebound, kita mau lihat dulu seberapa kuat dan hal-hal apa ke depannya yang memungkinkan untuk bisa mengurangi potensi risiko diturunkannya Indonesia ke status standalone market,” sebutnya.
Dia menyarankan investor mengevaluasi kembali komposisi portofolio, khususnya porsi kas dan konsentrasi kepemilikan pada saham tertentu. Konsentrasi yang terlalu besar dapat memperberat tekanan psikologis ketika harga saham mengalami koreksi signifikan.
Untuk itu, strategi yang dinilai lebih relevan untuk sementara ialah menunggu arah pasar lebih jelas sembari menjaga likuiditas portofolio.
“Ada baiknya sekarang kita wait and see, menambah porsi cash dan kalau misalnya nanti kita lihat ada emiten-emiten yang menarik baru nanti kita akan infokan lagi,” tutur Fath.
————————-
Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.




