BANYU POS JAKARTA. Saham-saham batu bara termal dinilai lebih tahan terhadap tekanan pasar saham Indonesia setelah pengumuman MSCI dibandingkan sejumlah saham komoditas lainnya. Selain ditopang harga batu bara yang masih tinggi dan potensi imbal hasil dividen menarik, kelompok saham ini juga relatif minim kepemilikan investor asing sehingga dinilai lebih terlindungi dari risiko arus keluar modal asing.
Analis Indo Premier Sekuritas Ryan Winipta mengatakan saham batu bara termal, seperti PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bukit Asam Tbk (PTBA), PT United Tractors Tbk (UNTR), dan PT Indo Tambangraya Megah Tbk (ITMG), hanya terkoreksi sekitar 10%.
Penurunan tersebut relatif lebih terbatas dibandingkan koreksi sektor komoditas secara keseluruhan yang mencapai 9%–21% setelah pengumuman MSCI, serta penurunan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sebesar 15%.
Rupiah Menguat ke Bawah Rp 18.000 Per Dolar AS di Tengah Hari Ini (20/10)
Menurut Ryan, ketahanan relatif saham batu bara termal didorong tiga faktor utama. Pertama, kepemilikan asing pada saham-saham tersebut cenderung tidak dominan, antara lain karena persoalan lingkungan, sosial, dan tata kelola (ESG) yang melekat pada industri batu bara.
Kedua, sejumlah emiten menawarkan imbal hasil dividen yang menarik. AADI memiliki estimasi dividend yield sebesar 11%, sedangkan PTBA sekitar 7%.
Ketiga, harga batu bara termal masih berada pada level tinggi. Harga acuan Indonesian Coal Index (ICI) telah meningkat sekitar 37%–74% sepanjang tahun berjalan (year-to-date/YTD) dan masih menunjukkan kenaikan secara mingguan, seiring aktivitas pengisian kembali persediaan batu bara menjelang musim dingin.
Dengan kombinasi faktor tersebut, Indo Premier tetap menyukai saham batu bara termal dan menempatkan AADI serta PTBA sebagai pilihan utama atau top picks di sektor ini.
Saham dengan kepemilikan asing besar
Di sisi lain, saham-saham dengan porsi kepemilikan investor asing yang tinggi dinilai lebih rentan mengalami tekanan apabila investor global mulai mengurangi eksposur terhadap pasar Indonesia sebelum keputusan MSCI diumumkan.
Berdasarkan saham-saham dalam cakupan analisis Indo Premier, UNTR memiliki kepemilikan dana asing tertinggi dibandingkan free float, yakni sebesar 64%. Posisi berikutnya ditempati PT AKR Corporindo Tbk (AKRA) sebesar 51% dan PT Aneka Tambang Tbk (ANTM) sebesar 48%.
Ryan menilai tingginya kepemilikan asing berpotensi mendorong aksi jual lebih awal oleh investor asing aktif menjelang pengumuman MSCI yang diperkirakan berlangsung pada Juni 2027.
Dalam konteks indeks MSCI, UNTR saat ini merupakan satu-satunya saham komoditas dalam cakupan analisis Indo Premier yang menjadi konstituen MSCI Standard Index. Sementara itu, MDKA, ADRO, AADI, PGAS, PTBA, AKRA, dan INCO tercatat sebagai anggota MSCI Small Cap Index.
Masih Punya Anggaran Rp 3 Triliun, Telkom (TLKM) Percepat Eksekusi Buyback
Meski demikian, potensi arus keluar dana pasif tidak serta-merta terjadi saat konsultasi MSCI berlangsung. Arus keluar tersebut baru berpotensi terealisasi setelah proses konsultasi selesai dan tanggal efektif keputusan diumumkan, yang menurut proyeksi Indo Premier dapat terjadi pada semester II-2027.
Biasanya, implementasi keputusan indeks berlangsung sekitar tiga hingga enam bulan setelah keputusan ditetapkan. Dengan demikian, tekanan jangka pendek lebih mungkin berasal dari aksi antisipatif investor asing aktif yang mengurangi kepemilikan sebelum keputusan resmi keluar.
Ryan menambahkan, saham-saham dengan kepemilikan asing tinggi juga berpotensi mengalami pemulihan lebih cepat dibandingkan saham berdividen tinggi apabila arus keluar asing mulai stabil atau Indonesia tidak diturunkan statusnya menjadi Standalone Market oleh MSCI.
Selain kepemilikan asing, struktur keuangan perusahaan juga perlu diperhatikan investor di tengah ketidakpastian pasar.
Indo Premier mencatat ESSA dan ITMG memiliki rasio kas bersih terhadap kapitalisasi pasar tertinggi dalam cakupan analisisnya, masing-masing sebesar 45%. Sebaliknya, MDKA, PT Medco Energi Internasional Tbk (MEDC), dan PT Harum Energy Tbk (HRUM) memiliki rasio utang bersih terhadap kapitalisasi pasar paling tinggi.
Menurut Ryan, perusahaan dengan utang bersih besar lebih rentan terhadap peningkatan biaya modal dalam jangka panjang.
Meski demikian, tingkat utang perlu dilihat sesuai karakteristik bisnis masing-masing emiten. MEDC, misalnya, secara alami membutuhkan pendanaan lebih besar karena bergerak di sektor eksplorasi dan produksi minyak serta gas bumi (exploration and production/E&P), yang umumnya membutuhkan investasi modal signifikan.
Harga Brent Bertahan di Level Tertinggi, WTI Berpeluang Melaju ke US$ 106,61
Karena itu, besarnya utang tidak dapat menjadi satu-satunya dasar untuk menilai risiko suatu saham. Investor tetap perlu mempertimbangkan kemampuan perusahaan menghasilkan arus kas, struktur pendanaan, serta karakteristik industrinya.
Rekomendasi tetap overweight
Di tengah prospek pasar saham Indonesia yang masih menghadapi tekanan, Indo Premier tetap mempertahankan rekomendasi overweight pada sektor komoditas. Rekomendasi ini mencerminkan pandangan bahwa sektor tersebut berpotensi berkinerja lebih baik dibandingkan IHSG secara keseluruhan.
Ryan menilai saham komoditas memiliki keunggulan karena sebagian pendapatannya berasal dari dolar AS. Karakteristik ini dapat menjadi penopang apabila rupiah mengalami pelemahan, meskipun dampak akhirnya tetap bergantung pada struktur biaya dan eksposur valuta asing masing-masing perusahaan.
Selain saham batu bara termal, Indo Premier juga melihat peluang pada sejumlah saham komoditas yang telah terkoreksi cukup dalam meski menawarkan imbal hasil dividen tinggi.
Berdasarkan analisis sensitivitas sekuritas tersebut, PGAS, ANTM, dan PT Timah Tbk (TINS) termasuk saham yang mengalami tekanan cukup besar di pasar. Padahal, ketiganya memiliki estimasi dividend yield di atas 10%.
Kondisi tersebut dinilai membuka peluang akumulasi bagi investor yang mempertimbangkan valuasi, potensi dividen, dan risiko pasar secara bersamaan.
Secara keseluruhan, strategi Indo Premier adalah mengutamakan saham berdividen tinggi sembari tetap mencermati risiko kepemilikan asing dan struktur utang. AADI dan PTBA menjadi pilihan utama di kelompok batu bara termal, sementara PGAS, ANTM, dan TINS menarik untuk dicermati setelah mengalami koreksi tajam.
Adaro Andalan Indonesia (AADI) Mulai Buyback Saham Rp 5 Triliun Secara Bertahap
Meski sektor komoditas dipandang relatif lebih berpeluang bertahan di tengah tekanan pasar, pergerakan saham ke depan tetap akan dipengaruhi perkembangan evaluasi MSCI, arus dana asing, harga komoditas global, dan kondisi nilai tukar rupiah.




