Profil 8 Emiten Barang Baku Daftar HSC: UBO dan Free Float Lengkap

Hikma Lia

Bursa Efek Indonesia (BEI) mengambil langkah strategis dalam tata kelola pasar modal dengan berencana mengecualikan saham-saham yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Keputusan penting ini diperkirakan bakal memberikan dampak signifikan terhadap pergerakan indikator utama bursa tersebut, mengingat saham-saham dalam kategori HSC ini secara akumulatif mencakup sekitar 18% dari total bobot IHSG.

Advertisements

Pihak otoritas bursa menegaskan bahwa kebijakan pengecualian ini tidak berkaitan dengan tindakan penghapusan pencatatan saham secara paksa maupun sukarela (delisting). Saham dari emiten-emiten yang masuk ke dalam daftar HSC dipastikan tetap dapat diperdagangkan seperti biasa oleh para investor di pasar sekunder. Hal yang membedakan adalah pergerakan harga dari saham-saham tersebut tidak lagi dimasukkan ke dalam porsi kalkulasi yang menentukan naik turunnya angka IHSG secara keseluruhan.

Langkah mengecualikan saham konsentrasi kepemilikan tinggi ini sebenarnya bukan merupakan kebijakan yang sepenuhnya baru di lingkungan bursa domestik. Sebelum memperluas penerapannya ke IHSG yang mencakup seluruh saham tercatat, BEI telah terlebih dahulu menerapkan aturan serupa pada beberapa indeks acuan unggulan, seperti indeks IDX30, LQ45, dan IDX80. Perluasan kebijakan ini ke IHSG menjadi tahap lanjutan untuk meningkatkan relevansi serta representasi indeks pasar saham Indonesia.

Advertisements

Dalam kelompok sektor barang baku (basic materials), terdapat delapan emiten yang menjadi perhatian utama terkait dengan penerapan skema konsentrasi kepemilikan saham ini. Emiten-emiten tersebut mencakup PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA), PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA), PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA), PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT), PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG), PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB), PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), dan PT Ifishdeco Tbk (IFSH).

1. Profil dan Struktur Kepemilikan Saham PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA)

PT Alakasa Industrindo Tbk (ALKA) merupakan salah satu pemain lama di industri manufaktur nasional. Didirikan sejak tahun 1972, perusahaan ini mulai menjalankan operasional komersialnya secara penuh sebagai entitas industri aluminium pada tahun 1973. Cakupan kegiatan usaha ALKA berfokus pada bidang industri manufaktur dan fabrikasi, khususnya dalam pengolahan berbagai produk barang dari logam dan aluminium.

Dari sisi struktur permodalan dan perdagangan saham, porsi saham publik yang beredar atau free float ALKA berada di level 12%. Kepemilikan saham perusahaan didominasi secara signifikan oleh PT Gesit Perkasa yang memegang sekitar 83,79% saham, yang dalam pembaruan data kepemilikan terbaru tercatat meningkat tipis menjadi 83,80%. Penerima manfaat akhir atau Ultimate Beneficial Owner (UBO) yang terdaftar di balik struktur ini adalah Jahja Soetoyo melalui kepemilikan di PT Gesit Perkasa sebesar 84%.

Selain pemegang saham utama tersebut, daftar pemegang saham ALKA dengan porsi kepemilikan di atas 1% diisi oleh beberapa entitas dan individu. Di antaranya adalah Selaras Investama Globalindo dengan porsi 2,83%, Andrew Pascalis Adjiputro sebesar 2,46%, Agnesri Maharlyn Firani Putri sebesar 2,46%, Santinilestari Lokaprima sebesar 1,60%, serta Wenanto Gunawan yang mencatatkan peningkatan porsi kepemilikan menjadi 1,32% dari posisi sebelumnya sebesar 1,29%.

2. Profil dan Struktur Kepemilikan Saham PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA)

PT Saranacentral Bajatama Tbk (BAJA) beroperasi di ranah industri dan perdagangan produk baja, dengan fokus spesifik pada segmen industri baja midstream, yaitu proses pelapisan baja. Portofolio manufaktur BAJA mencakup tiga jenis produk baja lapis utama, yaitu baja lapis seng (galvanized steel), baja lapis aluminium seng (galvalume steel), serta produk baja lapis warna (pre-painted steel).

Dalam hal distribusi kepemilikan saham di pasar, porsi free float BAJA tercatat berada di angka 20,87%. Tingkat free float ini tergolong lebih tinggi jika dibandingkan dengan beberapa emiten lain yang berada dalam daftar emiten sektor barang baku ber-HSC ini.

Struktur pemegang saham BAJA terbagi di antara beberapa pemegang saham perorangan. Ibnu Susanto tercatat sebagai pemegang saham terbesar dengan porsi 17,79%. Posisi berikutnya diisi oleh Pandji Surya Soerjoprahono yang menguasai 16,47% saham, disusul oleh Entario Widjaja Susanto dan Handaja Susanto yang masing-masing mengantongi kepemilikan saham sebesar 16,45%. Adapun jajaran pemegang saham lainnya diisi oleh Soediarto Soerjoprahono dengan porsi 8,11%, Laksmono Tirta Kusumo sebesar 2,43%, serta Anton Sebastian dengan kepemilikan sebesar 1,43%.

3. Profil dan Struktur Kepemilikan Saham PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA)

PT Cita Mineral Investindo Tbk (CITA) adalah emiten yang bergerak dalam bidang pertambangan dan penggalian bijih logam. Bersama dengan entitas anak usahanya, CITA dikenal luas sebagai salah satu produsen bijih bauksit terkemuka di Indonesia. Berdasarkan data bursa, porsi saham free float yang dimiliki oleh publik pada emiten CITA terhitung relatif rendah, yakni sebesar 7,71%.

Peta kepemilikan saham CITA dikuasai oleh dua entitas korporasi besar. PT Harita Jayaraya tampil sebagai pemegang saham mayoritas teratas dengan porsi kepemilikan mencapai 60,46%, disusul oleh Glencore International Investments yang memegang kepemilikan sebesar 31,61%. Selain dua pemegang saham utama tersebut, Alamtri Indo Aluminium tercatat memiliki porsi 3,60% saham.

Perkembangan data pemegang saham CITA juga memperlihatkan kemunculan nama UOB Kay Hian Private yang kini memegang 2,93% saham, naik dari porsi sebelumnya yang tercatat sebesar 0%. Dari aspek penerima manfaat akhir (UBO), data laporan bursa mengidentifikasi sejumlah individu dari keluarga Lim, yaitu Lim Gunawan Hariyanto, Lim Gunardi Hariyanto, dan Lim Hariyanto Wijaya Sarwono.

4. Profil dan Struktur Kepemilikan Saham PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT)

PT Cemindo Gemilang Tbk (CMNT) didirikan pada tahun 2011 dan berfokus pada bidang industri semen terpadu dengan memasarkan produknya di bawah merek dagang Semen Merah Putih. Guna menopang operasional bisnisnya, CMNT mengoperasikan enam fasilitas pabrik semen yang tersebar di wilayah strategis Indonesia, meliputi Banten, Jawa Timur, Kalimantan Barat, Sumatra Utara, dan Bengkulu.

Kondisi likuiditas saham CMNT menunjukkan porsi saham free float sebesar 10,55%. Struktur kepemilikan saham emiten produsen semen ini didominasi oleh WH Investments sebagai pemegang saham utama dengan porsi sebesar 87,37%. Sejalan dengan hal tersebut, nama Martua Sitorus terdaftar sebagai penerima manfaat akhir (UBO) dengan total porsi kepemilikan yang dilaporkan senilai 87,37%.

Di samping pemegang saham pengendali, struktur permodalan CMNT juga melibatkan beberapa entitas lain. China Paradise HK tercatat memiliki 4,34% saham (mengalami penurunan dari posisi sebelumnya 4,41%), Grandham memegang 3,03%, dan Surya Tenggara Buana memiliki 1,21% (meningkat dari sebelumnya 1,06%). Sementara itu, UBS AG Singapore Branch mencatatkan penurunan porsi saham dari 1,37% menjadi 1,16%, dan Gama Group memegang 1,11% saham.

5. Profil dan Struktur Kepemilikan Saham PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG)

PT Delta Giri Wacana Tbk (DGWG) merupakan perusahaan penyedia dan pemasok kebutuhan sektor pertanian yang telah menjalankan aktivitas usahanya sejak tahun 2001. Model bisnis DGW Group ditopang oleh lima pilar utama, yaitu pilar produk pestisida, pupuk, alat-alat pertanian, benih, serta jaringan distribusi internal.

Data bursa menunjukkan bahwa porsi free float saham DGWG yang dipegang oleh publik berada di angka 14,91%. Dalam struktur kepemilikan dan tata kelola perusahaan, David Yaory teridentifikasi sebagai penerima manfaat akhir (UBO) dengan porsi kepemilikan sekitar 72%, di mana secara spesifik data mencatat kepemilikan langsung atau tidak langsung sebesar 72,34% saham.

Pemegang saham DGWG lainnya terdiri atas Maybank Sekuritas Indonesia – Registrar yang memegang porsi 11,71%, Gaia Prosperiti Kapital sebesar 4,18%, Berkshire Multi Investama sebesar 3,26%, Marwati Jenny Tanasal sebesar 1,58%, serta Agro Jaya Mandiri dengan porsi kepemilikan saham sebesar 1,04%.

6. Profil dan Struktur Kepemilikan Saham PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB)

PT J Resources Asia Pasifik Tbk (PSAB) mengoperasikan bisnisnya sebagai perusahaan induk yang melakukan investasi dan mengelola kegiatan usaha pertambangan emas serta logam mulia lainnya di wilayah Australasia. Perusahaan mulai beroperasi secara komersial sejak 1 Mei 2002. Dalam rekam jejak sejarahnya, emiten ini awalnya bergerak di bidang jasa katering sebelum akhirnya melakukan transformasi bisnis secara menyeluruh ke sektor pertambangan setelah aksi penggabungan dengan Avocet Mining Plc.

Tingkat saham free float PSAB tergolong rendah, yaitu hanya sebesar 7,48%. Dari sisi kendali korporasi, Jimmy Budiarto bertindak sebagai pemegang saham pengendali utama grup sekaligus penerima manfaat akhir (UBO) dengan kepemilikan UBO yang dilaporkan mencapai 92,50%.

Pada rincian pemegang saham tercatat, Jimmy Budiarto memegang porsi saham langsung sebesar 90%. Pemegang saham lainnya mencakup Nomura Singapore yang memiliki 2,50% saham serta Suwantara Gotama dengan porsi kepemilikan sebesar 1,67%.

7. Profil dan Struktur Kepemilikan Saham PT Samator Indo Gas Tbk (AGII)

PT Samator Indo Gas Tbk (AGII), yang sebelumnya beroperasi dengan nama PT Aneka Gas Industri Tbk, didirikan pada tanggal 21 September 1971. Perusahaan ini berfokus pada bidang perdagangan, jasa, dan industri pengolahan berbagai jenis gas untuk kebutuhan industri maupun sektor medis. Jenis gas yang diproduksi oleh AGII mencakup oksigen, nitrogen, argon, asetilena, karbon dioksida, hidrogen, hingga ragam gas khusus lainnya.

Tingkat saham free float AGII yang tersedia bagi publik berada di angka 7,25%. Adapun penerima manfaat akhir (UBO) yang terdaftar dalam struktur korporasi perusahaan ini adalah Imelda Harsono dan Rachmat Harsono.

Struktur kepemilikan saham AGII terbagi ke dalam beberapa kelompok pemegang saham besar, yaitu Samator yang menguasai 35,24%, Matrix Company sebesar 32,18%, Aneka Mega Energi sebesar 15%, dan PT Saratoga Investama Sedaya Tbk sebesar 10%. Selain itu, Zico Trust tercatat memegang 2,99% saham, sedangkan Ferry Sudjono mencatatkan peningkatan kepemilikan menjadi 1,08% dari posisi sebelumnya sebesar 0%.

8. Profil dan Struktur Kepemilikan Saham PT Ifishdeco Tbk (IFSH)

PT Ifishdeco Tbk (IFSH) merupakan emiten yang bergerak dalam industri pertambangan nikel. Perjalanan bisnis perusahaan ini memiliki latar belakang yang unik, di mana pada awalnya IFSH berfokus mengembangkan bisnis agribisnis melalui budidaya penanaman pohon mete. Namun, pelaksanaan survei topografi serta pengujian sampel tanah yang berlangsung pada rentang tahun 2005 hingga 2008 mengungkapkan adanya kandungan cadangan nikel dan besi yang signifikan di area lahan perkebunan tersebut. Temuan geologis inilah yang kemudian memicu pergeseran fokus usaha perusahaan menjadi entitas tambang nikel.

Porsi saham free float IFSH tercatat sangat minim, yakni hanya sebesar 0,48%, yang menjadikan saham perusahaan ini memiliki porsi publik terendah di antara delapan emiten sektor barang baku yang ditinjau. Struktur permodalan IFSH dikuasai secara dominan oleh Fajar Mining Resources dengan porsi 40,80% dan Wahana Trilintas Mining sebesar 39,20%.

Pemegang saham lain dalam struktur IFSH meliputi PT Ifishdeco dengan porsi 9,49%, Fajar Jaya Investama sebesar 4,93%, serta Global Investasi Makmur sebesar 4,73%. Sementara dari segi kepemilikan penerima manfaat akhir (UBO), Fanni Susilo tercatat memiliki porsi UBO sebesar 5,50%, sedangkan Oei Harry Fong Jaya mengantongi porsi sebesar 0,14%.

Advertisements

Also Read

Tags