BANYU POS Bank Indonesia (BI) mengungkapkan pertumbuhan kredit perbankan pada September 2026 tercatat tetap tinggi yakni sebesar 13,26 persen secara tahunan (year on year/yoy), meski sedikit menurun dibandingkan Agustus 2026, yang tumbuh 13,65 persen (yoy).
Kinerja kredit pada September 2026 didukung oleh kredit investasi, kredit modal kerja, dan kredit konsumsi yang masing-masing tumbuh sebesar 23,20 persen (yoy), 11,89 persen (yoy), dan 4,86 persen (yoy).
“Intermediasi perbankan tetap kuat, disertai dengan ketahanan perbankan yang terjaga,” kata Gubernur BI Destry Damayanti, dalam konferensi pers di Jakarta, Rabu.
Destry menyampaikan kredit ke korporasi yang tidak terkait dengan program pemerintah juga meningkat.
Potensi kenaikan kredit masih tinggi sejalan masih besarnya fasilitas pinjaman yang belum digunakan (undisbursed loan) yang tercatat Rp2.562,57 triliun atau 21,70 persen dari plafon kredit yang tersedia.
BI Serius Tangani Penyalahgunaan QRIS untuk Judol
Sementara itu, pertumbuhan dana pihak ketiga (DPK) tercatat lebih rendah yakni 8,22 persen (yoy), sehingga perlu terus didorong guna menopang pertumbuhan kredit.
“Bank Indonesia memprakirakan pertumbuhan kredit 2026 dalam kisaran 8-12 persen,” kata Destry.
Dari sisi ketahanan perbankan secara umum tetap kuat, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) perbankan pada Agustus 2026 tercatat tinggi sebesar 24,10 persen.
Rasio kredit bermasalah (non-performing loan/NPL) perbankan secara agregat rendah di level 2,11 persen (bruto) dan 0,84 persen (neto) pada Agustus 2026.
Rasio alat likuid terhadap dana pihak ketiga (AL/DPK) tercatat meningkat dari 23,04 persen pada Agustus 2026 menjadi 24,08 persen pada September 2026.
Destry menambahkan BI terus memperkuat kebijakan makroprudensial longgar untuk meningkatkan kredit/pembiayaan ke sektor riil dengan tetap menjaga stabilitas sistem keuangan.
Perkembangan kredit yang tetap positif didukung oleh kebijakan makroprudensial longgar yang terus ditempuh melalui optimalisasi Kebijakan Insentif Likuiditas Makroprudensial (KLM) untuk mendorong peningkatan kredit/pembiayaan perbankan ke sektor prioritas.
Hingga minggu pertama Oktober 2026, insentif KLM yang diperoleh bank tercatat sebesar Rp458,5 triliun dengan alokasi pada KLM financing channel sebesar Rp336,4 triliun, serta alokasi pada KLM Pendalaman Pasar Uang (PPU) sebesar Rp122,1 triliun.
Implementasi KLM PPU telah mendorong redistribusi likuiditas di perbankan dan meningkatkan transaksi di pasar uang Rupiah.
“Bank Indonesia akan terus mengoptimalkan implementasi KLM guna meningkatkan efektivitas penyaluran kredit/pembiayaan dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian,” kata Destry.




