BANYU POS – , JAKARTA — Federal Reserve (The Fed) mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75% hingga 4% dalam keputusan Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC), Rabu (28/10/2026) waktu AS.
Dalam rapat kebijakan, FOMC memutuskan untuk mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,75%–4%. Keputusan tersebut diambil ketika inflasi Amerika Serikat (AS) masih tinggi, meskipun aktivitas ekonomi, belanja domestik, dan investasi menunjukkan resiliensi.
Keputusan tersebut disetujui melalui pemungutan suara dengan hasil 10 berbanding 2. Tercatat, dua pejabat The Fed, yakni Lisa D. Cook dan Beth M. Hammack, berbeda pendapat dengan memilih kenaikan suku bunga sebesar 25 basis poin pada pertemuan kali ini.
Dalam pernyataan resminya, FOMC menyebut aktivitas ekonomi AS berkembang kuat, ditopang belanja domestik yang tangguh, pertumbuhan produktivitas yang solid, serta investasi modal yang kuat. Pertumbuhan tenaga kerja juga dinilai masih sejalan dengan pertambahan angkatan kerja, sedangkan tingkat pengangguran relatif tidak berubah.
Namun, The Fed menegaskan inflasi masih tinggi. Tambahan informasi ekonomi akan menjadi bahan pertimbangan untuk menentukan sikap kebijakan yang diperlukan guna mengembalikan inflasi ke target 2%.
“Komite memutuskan untuk mempertahankan kisaran target suku bunga federal funds di 3,75% hingga 4% untuk mendukung mandat ganda Federal Reserve. Komite juga melanjutkan kebijakan untuk menjaga kecukupan cadangan dalam sistem perbankan,” demikian pernyataan FOMC.
Dalam konferensi pers setelah rapat FOMC, Ketua The Fed Kevin Warsh mewanti-wanti inflasi Amerika Serikat (AS) yang masih bertahan di atas target 2%, meskipun perekonomian Negeri Paman Sam menunjukkan penguatan.
Warsh mengatakan aktivitas ekonomi AS tumbuh kuat, ditopang konsumsi rumah tangga yang solid, investasi bisnis yang meningkat, serta kondisi pasar tenaga kerja yang tetap positif. Namun, inflasi yang telah bertahan di atas sasaran bank sentral selama hampir enam tahun menjadi persoalan utama dalam penentuan arah kebijakan moneter.
Berikut poin-poin utama keputusan FOMC dan pernyataan Ketua The Fed Kevin Warsh dalam konferensi pers setelah rapat kebijakan.
Inflasi masih menjadi perhatian utama The Fed
Warsh menegaskan bahwa inflasi AS masih terlalu tinggi dan menjadi fokus utama pembahasan FOMC. Menurutnya, masyarakat AS telah menghadapi inflasi di atas sasaran bank sentral selama hampir enam tahun.
“Warga Amerika masih menghadapi inflasi yang berada di atas sasaran Komite selama hampir enam tahun. Menurunkan inflasi merupakan tanggung jawab kami,” ujar Warsh.
Dia mengatakan The Fed perlu memastikan perubahan harga pada sektor tertentu, termasuk energi, tidak meluas ke seluruh perekonomian dan mengganggu ekspektasi inflasi.
Harga energi dan sejumlah komoditas terkait kembali meningkat dalam beberapa pekan terakhir, sehingga menambah perhatian terhadap risiko inflasi.
Pertumbuhan Ekonomi AS Kuartal III/2026
Warsh menyebut pertumbuhan PDB AS pada semester I/2026 telah direvisi naik dari estimasi sebelumnya sebesar 1,8% menjadi 2,4%.
Sementara itu, pertumbuhan ekonomi pada kuartal III/2026 diperkirakan lebih cepat, dengan konsumsi rumah tangga berpotensi tumbuh di atas 3%. Investasi bisnis juga diperkirakan meningkat pada laju dua digit.
Belanja modal mencapai porsi yang secara historis tinggi terhadap PDB. Investasi teknologi tinggi menjadi pendorong utama akselerasi tersebut, meskipun peningkatan investasi mulai meluas ke kategori lainnya.
Kondisi ini menunjukkan bahwa perekonomian AS masih memiliki daya tahan ketika The Fed berupaya mengembalikan inflasi ke sasaran.
Pasar Tenaga Kerja Tetap Solid
Warsh menilai kondisi ketenagakerjaan AS masih positif. Tingkat pengangguran tercatat lebih rendah dibandingkan setahun sebelumnya, sedangkan pertumbuhan tenaga kerja berada di atas laju tahun lalu.
Rata-rata klaim tunjangan pengangguran selama empat pekan juga berada pada level terendah dalam beberapa generasi.
Kondisi pasar tenaga kerja yang relatif kuat menjadi salah satu pertimbangan dalam evaluasi ekonomi The Fed. Pada saat yang sama, inflasi yang belum terkendali membuat stabilitas harga tetap menjadi fokus utama pembahasan FOMC.
Kredit Mulai Mengetat
Warsh mengatakan kondisi keuangan dan kredit mulai mengetat bagi sebagian pelaku usaha dan rumah tangga sejak keputusan kebijakan pada September 2026. Pelaku pasar juga mulai lebih selektif dalam mengalokasikan modal.
Meski demikian, dia menilai kondisi keuangan secara keseluruhan belum dapat disebut ketat.
Menurut Warsh, perkembangan tersebut bergerak ke arah yang mendukung pertumbuhan ekonomi dan stabilitas harga yang lebih berkelanjutan. Namun, dia menegaskan bahwa penilaian terhadap kondisi keuangan harus terus mengikuti perkembangan ekonomi aktual.
The Fed Ubah Jadwal Rapat FOMC Mulai 2027
Warsh mengumumkan perubahan jadwal rapat FOMC mulai musim gugur 2027. Dari delapan rapat tahunan, satu rapat akan dikhususkan untuk membahas strategi kebijakan moneter tanpa pemungutan suara atas suku bunga acuan maupun penerbitan pernyataan kebijakan yang direncanakan.
Pada 2028, The Fed memperkirakan dua rapat akan didedikasikan untuk pembahasan strategi dan enam rapat untuk penetapan kebijakan.
Warsh menjelaskan bahwa pembahasan strategi diperlukan agar para pembuat kebijakan memiliki waktu untuk mengevaluasi persoalan mendasar dan melihat perkembangan ekonomi dalam perspektif jangka panjang.
“Menetapkan kebijakan yang tepat membutuhkan penilaian terhadap perkembangan jangka pendek pada interval yang teratur, tepat waktu, dan kaya informasi. Namun, sama pentingnya bagi kami untuk menyediakan waktu dan ruang bagi pembahasan strategis,” ujarnya.
Menurutnya, pengaturan jadwal dan agenda rapat merupakan pilihan kelembagaan yang memengaruhi kualitas pembahasan dan keputusan kebijakan moneter.
Arah Suku Bunga Berikutnya
Warsh menegaskan bahwa informasi ekonomi yang masuk pada periode berikutnya akan membantu FOMC menentukan arah kebijakan. Dia menyatakan The Fed siap mengambil tindakan sesuai dengan perubahan kondisi ekonomi.
Keputusan suku bunga berikutnya akan bergantung pada penilaian para pembuat kebijakan terhadap perkembangan inflasi, aktivitas ekonomi, pasar tenaga kerja, dan kondisi keuangan.
Pernyataan FOMC kali ini tidak memberikan panduan spesifik mengenai langkah suku bunga selanjutnya. Dengan inflasi yang masih tinggi dan aktivitas ekonomi yang kuat, arah kebijakan moneter tetap bergantung pada perkembangan data yang akan diterima bank sentral.




