
BANYU POS JAKARTA. Pasar modal Indonesia tengah diramaikan dengan pengumuman dividen interim dari sejumlah emiten di Bursa Efek Indonesia (BEI). Kabar ini tentu menjadi magnet bagi para investor yang mencari potensi keuntungan, mengingat besaran dividen yang ditawarkan cukup menarik.
Salah satu emiten paling disorot adalah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA) yang akan membagikan dividen jumbo senilai total Rp 6,77 triliun. Angka fantastis ini setara dengan 15,6% dari total laba bersih yang dapat diatribusikan kepada entitas induk hingga kuartal III 2025, yang mencapai Rp 43,40 triliun.
Selain BBCA, ada pula PT Yupi Indo Jelly Gum Tbk (YUPI) yang turut mengumumkan pembagian dividen interim sebesar Rp 300 miliar, atau setara Rp 35,11 per saham. Nilai dividen yang dibagikan oleh YUPI ini representatif, yakni 63,44% dari total laba bersih yang diatribusikan kepada entitas induk selama periode sembilan bulan pertama tahun 2025.
Tak hanya itu, PT Kurniamitra Duta Sentosa Tbk (KMDS) juga akan menggelar pembagian dividen interim senilai Rp 12,8 miliar, atau Rp 16 per saham. Sementara itu, PT Sigma Energy Compressindo Tbk (SICO) menyiapkan dividen interim sebesar Rp 2,73 triliun, yang bila dikonversi menjadi Rp 3 per saham.
Saham Bumi Resources (BUMI) Rutin Dilepas UBS, Simak Rekomendasi Sahamnya
Para analis pasar modal segera menyoroti potensi dari masing-masing dividen tersebut. Head of Investment Specialist Maybank Sekuritas, Fath Aliansyah, melihat YUPI sebagai salah satu pilihan yang paling menarik. “Dividend yield untuk interim sebesar 2% dan punya struktur keuangan yang sehat memberikan ruang untuk adanya potensi dividen final,” jelasnya kepada Kontan, Jumat (28/11/2025).
Pandangan serupa juga disampaikan oleh Abdul Azis Setyo, Equity Research Analyst Kiwoom Sekuritas Indonesia. Menurut Azis, dari daftar emiten yang jadwal dividen interimnya belum melewati cum date, dividen yang paling memikat berasal dari KMDS, YUPI, dan SICO. Alasannya, ketiga emiten ini menawarkan dividend yield sekitar 2%–2,2%, angka yang lebih tinggi dibandingkan BBCA yang dividend yield-nya sekitar 0,6%.
Analis Pilarmas Investindo Sekuritas, Arinda Izzaty, lebih lanjut menilai KMDS patut diperhitungkan. Emiten ini menawarkan dividen interim Rp16 per saham dengan yield sekitar 2,2% dan payout ratio sekitar 27,8% dari laba. Rasio tersebut mengindikasikan kondisi keuangan perusahaan yang relatif sehat dan memberikan sinyal kuat adanya ruang untuk pembagian dividen final di akhir tahun. “Secara historis, KMDS cukup stabil memberikan dividen dengan besaran yang sejalan kemampuan laba tahunannya,” ujar Arinda kepada Kontan pada kesempatan yang sama.
Untuk SICO, pembagian dividen interim sebesar Rp 3 per saham dengan yield sekitar 2,1% menunjukkan pola yang serupa dengan KMDS dari segi persentase, meskipun dengan nominal yang jauh lebih kecil. Dividen SICO cenderung konsisten dari tahun ke tahun, namun tidak besar, mengingat perusahaan memprioritaskan penggunaan dana untuk ekspansi dan menjaga struktur keuangan agar tetap solid.
Simak Berikut Kriteria Saham Incaran Danantara
Meskipun yield BBCA terbilang lebih rendah, sekitar 2%–3% (catatan: Azis menyebut 0,6%), besaran dividennya tetap menarik bagi investor defensif. Hal ini didukung oleh rekam jejak BBCA yang konsisten dalam memberikan dividen dan cenderung naik bertahap setiap tahunnya. Selain itu, fundamental yang kuat sebagai bank terbesar di Indonesia menjadi jaminan tambahan bagi para pemegang sahamnya. Berbeda dengan YUPI, yang meskipun memiliki DPS sekitar Rp 35 per saham, kurangnya data publik terbaru menjadi tantangan dalam menilai keberlanjutan dan payout ratio-nya.
Prospek dan Rekomendasi
Melihat ke depan, Azis dari Kiwoom Sekuritas menilai prospek kinerja masing-masing emiten ini bervariasi. BBCA, khususnya, memiliki prospek kinerja yang masih berpotensi tumbuh, terutama karena pemerintah saat ini sedang mendorong pertumbuhan kredit. “Secara valuasi, BBCA juga terbilang undervalued, meskipun memang secara dividend yield yang paling kecil,” tuturnya.
Menjelang periode pembagian dividen interim, investor disarankan untuk memastikan hak dividen mereka tercatat dengan benar. Selain itu, likuiditas saham juga patut menjadi perhatian, terutama pada emiten berkapitalisasi kecil (small cap) seperti KMDS dan SICO. Penting juga untuk diingat bahwa harga saham biasanya terkoreksi mendekati nilai dividen saat masuk ex-date. Oleh karena itu, strategi dividend capture memerlukan perhitungan matang terkait risiko penurunan harga saham tersebut.
IHSG Naik 1,12% Sepekan, Ini Sentimen Penopangnya
Berdasarkan analisisnya, Azis merekomendasikan trading buy untuk KMDS dengan target harga Rp 740 – Rp 760 per saham, dan level support di Rp 680 – Rp 685 per saham. Untuk BBCA, rekomendasi beli disematkan dengan target harga Rp 8.800 per saham. Senada, Arinda berpandangan bahwa prospek kinerja emiten pembagi dividen interim memang beragam. Namun, ia menegaskan BBCA tetap menjadi emiten dengan prospek paling solid dan defensif, didukung pertumbuhan kredit moderat, kualitas aset terjaga, dan likuiditas yang sangat kuat.
Arinda menambahkan, sentimen positif untuk BBCA mencakup stabilitas ekonomi Indonesia, siklus penurunan suku bunga, dan kekuatan dana pihak ketiga (CASA) yang menopang margin. Sementara itu, sentimen negatifnya berasal dari tekanan persaingan bank digital dan potensi perlambatan kredit jika ekonomi global melemah. “Namun, BBCA tetap yang paling stabil dan dapat diandalkan,” pungkasnya. Mengakhiri analisanya, Arinda merekomendasikan beli untuk BBCA dengan target harga yang lebih optimistis, yakni Rp 10.400 per saham.




