Reli saham kecil dominasi pasar modal 2025, akankah menjadi saham unggulan 2026?

Hikma Lia

BANYU POS – , JAKARTA — Tahun 2025 menjadi saksi pergerakan dinamis di pasar saham Indonesia, di mana saham-saham berkapitalisasi kecil dan menengah mencatatkan performa luar biasa. Kinerja impresif ini jelas terlihat dari lonjakan signifikan indeks papan non-utama Bursa Efek Indonesia (BEI), yang berhasil mengungguli papan utama dengan selisih yang mencolok.

Advertisements

Data resmi dari BEI per 30 Desember 2025 menunjukkan indeks papan akselerasi tampil sebagai jawara sejati, melonjak fantastis hingga 162,81% secara year-to-date (YtD) sepanjang tahun 2025. Tak kalah gemilang, indeks papan pengembangan juga mencatatkan kenaikan impresif sebesar 111,48% YtD. Angka-angka ini jauh melampaui performa indeks papan utama yang hanya membukukan kenaikan moderat 12,10% pada periode yang sama, mengukuhkan dominasi saham-saham non-utama.

Kenaikan drastis pada papan pengembangan dan akselerasi menjadi bukti konkret bahwa 2025 adalah tahun keemasan bagi saham-saham beraset kecil. Fenomena ini tak lepas dari tingginya gairah investor ritel yang menunjukkan minat besar pada emiten-emiten baru serta saham-saham murah bervolatilitas tinggi. Antusiasme ini menciptakan dorongan signifikan yang mengangkat kinerja saham di sektor tersebut.

Namun, di balik kegemilangan saham-saham kecil, tahun 2025 juga diwarnai oleh maraknya aktivitas spekulatif pada saham lapis tiga, beriringan dengan konsistennya arus keluar modal asing. Sepanjang tahun, investor asing mencatatkan aksi jual bersih mencapai Rp17,34 triliun. Ketiadaan partisipasi big fund asing pada saham-saham penggerak indeks utama semakin mempertegas peran dominan investor domestik dalam menjaga momentum dan stabilitas Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG).

Advertisements

Chory Agung Ramdhani, Customer Engagement & Market Analyst Department Head BRI Danareksa Sekuritas (BRIDS), menjelaskan bahwa perginya arus modal asing menjadi salah satu faktor signifikan yang menekan performa saham-saham berkapitalisasi jumbo. Ia menambahkan, motor utama pergerakan pasar tahun ini justru berasal dari emiten yang berafiliasi dengan grup konglomerasi besar, terutama yang gencar melakukan ekspansi di sektor penghiliran dan energi terbarukan.

Menariknya, banyak dari emiten penggerak ini belum terdaftar dalam indeks elite seperti LQ45 atau IDX30, lantaran masih terganjal kriteria likuiditas atau periode pencatatan. “Investor ritel memang cenderung lebih lincah dan berani masuk ke saham-saham mid-caps yang dikenal memiliki volatilitas tinggi. Inilah yang menyebabkan kinerja indeks Small-Mid Cap (SMC) melesat jauh,” ungkap Chory kepada Bisnis, Selasa (30/12/2025).

Menatap tahun 2026, Chory memproyeksikan adanya rotasi arus kas kembali ke saham-saham unggulan atau blue chip. Potensi pembalikan kondisi pasar ini didorong kuat oleh antisipasi pengumuman laba tahun penuh 2025 yang diperkirakan tetap solid. Lebih lanjut, ekspektasi pembagian dividen diprediksi akan menjadi daya tarik utama yang memikat kembalinya investor asing ke pasar Indonesia. Kondisi ini diharapkan dapat memicu terjadinya January Effect, sebuah fenomena di mana akumulasi saham-saham blue chip menggerakkan kenaikan pasar di awal tahun.

“Emiten-emiten blue chip dari sektor perbankan besar dan konsumer diproyeksikan akan mencetak laba yang solid. Oleh karena itu, ekspektasi dividen akan menjadi magnet kuat bagi investor,” tegas Chory, menutup analisisnya.

Disclaimer: Artikel ini tidak bertujuan mengajak pembaca untuk membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya berada di tangan masing-masing pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab atas segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi yang diambil oleh pembaca.

Advertisements

Also Read