Manajemen rajin borong saham BRMS, tekanan harga dinilai faktor global

Hikma Lia

BANYU POS JAKARTA – PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), emiten tambang emas hasil kongsi strategis antara Grup Salim dan Keluarga Bakrie, menanggapi fluktuasi harga saham perseroan yang terjadi belakangan ini. Menurut manajemen, penurunan tersebut didominasi oleh faktor eksternal, khususnya dinamika makroekonomi global dan persepsi pasar terhadap prospek Indonesia di mata internasional.

Advertisements

Herwin Hidayat, Direktur BRMS, menegaskan bahwa tekanan pada saham BRMS ini tidak terlepas dari revisi outlook Indonesia oleh sejumlah lembaga pemeringkat internasional. “Penurunan harga saham BRMS lebih dikarenakan faktor makrosektor, seperti country outlook Indonesia yang di-downgrade dari stable menjadi negative oleh Fitch & Moodys, dan lain-lain,” jelas Herwin kepada Bisnis, Kamis (19/3/2026).

Namun demikian, Herwin menekankan bahwa di tengah gejolak eksternal, fundamental perusahaan tetap solid dan bahkan menunjukkan tren peningkatan kinerja sepanjang tahun 2025. Hal ini terbukti dari peningkatan signifikan produksi emas BRMS, yang naik dari 64.000 ons pada tahun 2024 menjadi 71.000 ons di tahun 2025.

Peningkatan kinerja tidak hanya terlihat pada volume produksi, melainkan juga tercermin dalam capaian kinerja keuangan perseroan. Pendapatan BRMS melonjak dari US$162 juta pada tahun 2024 menjadi US$249 juta pada tahun lalu. Lebih impresif lagi, laba bersih perseroan tumbuh dua kali lipat, dari US$25 juta menjadi US$50 juta.

Advertisements

Mengantisipasi masa depan, Herwin menggarisbawahi beberapa katalis positif yang akan menjadi penopang utama kinerja perseroan ke depan. Salah satu yang paling menonjol adalah rencana peningkatan kapasitas pabrik emas di Palu. Fasilitas ini ditargetkan rampung pada kuartal IV-2026, dengan kapasitas pengolahan bijih meningkat signifikan dari 500 ton menjadi 2.000 ton per hari.

Tidak berhenti di situ, BRMS juga bersiap untuk mengoperasikan tambang bawah tanah dengan kadar emas tinggi di Palu pada semester II-2027. Diperkirakan, kadar emas dari tambang ini akan berkisar antara 3,5 hingga 4,9 gram per ton, menjanjikan potensi produksi yang substansial.

Di samping proyek emas, perseroan turut aktif melakukan pemboran eksplorasi pada prospek sumber daya mineral tembaga di Gorontalo. Hasil temuan dari eksplorasi ini diharapkan dapat diumumkan pada tahun 2027, membuka potensi diversifikasi portofolio mineral BRMS.

Menanggapi pertanyaan terkait pergerakan internal, Herwin turut menjelaskan bahwa pembelian saham BRMS oleh Charles Gobel, Direktur Keuangan perseroan, merupakan bagian dari strategi investasi pribadi. Hal ini, sebagaimana diungkapkan Herwin, telah disampaikan secara transparan dalam keterbukaan informasi publik.

Manajemen BRMS optimistis bahwa harga saham perseroan saat ini belum sepenuhnya mencerminkan nilai wajar perusahaan. Dengan berbagai rencana pengembangan yang ambisius dan proyeksi peningkatan kinerja yang kuat, manajemen melihat adanya potensi kenaikan harga saham yang signifikan di masa mendatang.

Keyakinan ini turut didukung oleh pandangan sejumlah lembaga riset. Herwin menyebutkan bahwa saat ini, lebih dari delapan perusahaan sekuritas telah menerbitkan laporan valuasi untuk BRMS, dengan memberikan target harga saham rata-rata di kisaran Rp1.000 hingga Rp1.300 per saham.

Disclaimer: berita ini tidak bertujuan mengajak membeli atau menjual saham. Keputusan investasi sepenuhnya ada di tangan pembaca. Bisnis.com tidak bertanggung jawab terhadap segala kerugian maupun keuntungan yang timbul dari keputusan investasi pembaca.

Advertisements

Also Read