Harga emas Antam tumbang di tengah krisis, ini biang kerok utamanya

Hikma Lia

Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah, sebuah fenomena yang jarang terjadi di pasar komoditas global mencuri perhatian: harga emas batangan Antam justru merosot tajam dalam sepekan terakhir. Kondisi ini memicu pertanyaan besar di kalangan investor dan pengamat ekonomi.

Advertisements

Penurunan ini bukan sekadar koreksi minor. Berdasarkan data dari Logam Mulia, harga emas Antam anjlok Rp 99.000 dalam kurun waktu sepekan, dari Rp 2.992.000 per gram pada Senin (16/3) menjadi Rp 2.893.000 per gram pada Sabtu (21/3). Tren serupa juga terlihat pada harga buyback atau harga beli kembali, yang terjun Rp 164.000 dari Rp 2.774.000 menjadi Rp 2.610.000 per gram. Bahkan di Galeri24, harga emas turut terkoreksi Rp 82.000, kini berada di level Rp 2.930.000 per gram.

Lantas, apa yang menyebabkan harga emas batangan Antam kehilangan kilaunya di tengah gejolak global? Menurut Ekonom dari CORE Indonesia, Yusuf Rendy Manilet, tekanan utama bersumber dari penguatan dolar AS yang masif serta ekspektasi pasar akan suku bunga global yang masih akan bertahan tinggi.

Yusuf menjelaskan bahwa ketika pasar mulai meyakini Federal Reserve (The Fed) akan mempertahankan suku bunga acuannya untuk periode yang lebih lama, imbal hasil obligasi menjadi lebih menarik. Hal ini secara langsung membebani emas, yang sebagai aset non-produktif, tidak memberikan yield atau bunga. Akibatnya, opportunity cost untuk memegang emas meningkat, menjadikannya kurang kompetitif dibandingkan instrumen investasi lain yang menawarkan keuntungan.

Advertisements

Menariknya, pelemahan harga emas ini terjadi saat kondisi geopolitik global sedang memanas. Yusuf menegaskan, ini bukan berarti fungsi emas sebagai safe haven melemah, melainkan tengah dikalahkan oleh dominasi faktor moneter. Dalam kondisi normal, konflik atau ketegangan global secara inheren akan mendorong permintaan emas. Namun, saat ini prioritas pasar bergeser.

Artinya, pasar saat ini jauh lebih sensitif terhadap arah kebijakan suku bunga dan pergerakan dolar AS dibandingkan risiko geopolitik. “Fungsi safe haven-nya tidak hilang, tapi sedang dikalahkan oleh faktor moneter. Ini menunjukkan bahwa safe haven demand masih ada, hanya saja belum menjadi faktor utama dalam pergerakan harga jangka pendek,” terang Yusuf kepada kumparan, Minggu (22/3).

Meskipun demikian, terkait arah pergerakan harga emas ke depan, Yusuf menilai penurunan yang terjadi saat ini hanyalah sebuah koreksi yang didorong oleh faktor fundamental jangka pendek. Ia tidak melihat ini sebagai awal dari tren penurunan jangka menengah. Sebaliknya, permintaan struktural terhadap emas, baik dari pembelian bank sentral maupun instrumen investasi berbasis emas, diprediksi tetap kuat.

“Jadi yang tertekan sekarang lebih ke pasar kertas atau paper gold, bukan nilai dasarnya,” tambahnya, menekankan bahwa nilai intrinsik logam mulia masih solid.

Beralih ke pandangan lain, pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memiliki perspektif serupa namun dengan penekanan berbeda. Ia menilai, investor global saat ini cenderung menjadikan dolar AS sebagai pilihan safe haven utama, mengungguli emas.

Lebih lanjut, Ibrahim menyoroti dampak kenaikan harga energi, khususnya minyak mentah, yang melonjak tajam. Kondisi ini secara langsung memicu inflasi global, yang pada gilirannya mendorong bank sentral untuk mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan berpotensi menaikkannya lagi. “Kondisi harga minyak mentah yang naik tajam ini berdampak terhadap inflasi sehingga bank sentral global masih akan mempertahankan suku bunga bahkan bisa menaikkan suku bunga,” ujar Ibrahim.

Namun, senada dengan Yusuf, Ibrahim pun meyakini bahwa penurunan harga emas saat ini hanyalah bersifat sementara. Ia justru melihat kondisi ini sebagai peluang emas bagi investor untuk melakukan akumulasi pembelian.

“Pada saat sekarang itu terkoreksi ya sebenarnya ini yang paling tepat untuk melakukan pembelian bayangkan harga logam mulia ya sampai di Rp 2.893.000 artinya apa? Ini kesempatan bagi masyarakat untuk melakukan pembelian kembali terhadap logam mulia,” jelas Ibrahim. Ia bahkan memproyeksikan, harga emas masih berpotensi melesat hingga sekitar Rp 3.500.000 per gram pada akhir tahun 2026.

Advertisements

Also Read

Tags