
Presiden Prabowo Subianto dijadwalkan bertolak ke Rusia hari ini untuk kunjungan luar negeri penting. Menteri Luar Negeri Sugiono telah mengonfirmasi bahwa dalam lawatan ini, Presiden Prabowo direncanakan akan mengadakan pertemuan dengan Presiden Vladimir Putin, menggarisbawahi upaya diplomatik Indonesia di panggung global.
Sumber dari sejumlah pemberitaan media asing, sebagaimana dikutip Sugiono, menyebutkan bahwa fokus utama kunjungan tersebut adalah pembahasan mengenai potensi pembelian minyak dari Rusia oleh Indonesia. Langkah ini merupakan opsi strategis untuk mengamankan pasokan energi nasional, terutama di tengah ketatnya pasar global akibat konflik yang berkecamuk di Timur Tengah. “Beliau akan bertemu dengan Presiden Putin, membahas geopolitik global dan, tentu saja, situasi energi,” ujar Sugiono, seperti dikutip dari Channel News Asia, Minggu (12/4), menegaskan agenda krusial pertemuan tersebut.
Sebelumnya, Kremlin, kantor kepresidenan Rusia, juga telah menyatakan bahwa persiapan komunikasi antara kedua kepala negara tersebut sedang dalam proses. Hal ini menandakan adanya koordinasi tingkat tinggi untuk merealisasikan pertemuan bilateral yang signifikan ini.
Baca juga:
- Kemlu soal Rusia Buka Keran Minyak untuk RI: Belum Ada Detail
Presiden Prabowo sendiri beberapa waktu lalu telah menjelaskan alasan di balik intensitas kunjungan luar negeri yang dilakukannya belakangan ini. Ia menegaskan bahwa agenda perjalanan tersebut merupakan bagian integral dari upaya pemerintah untuk mengamankan stabilitas pasokan energi nasional, khususnya minyak. “Dibilang Prabowo senang jalan-jalan ke luar negeri. Saudara-saudara, untuk amankan minyak, ya gue harus ke mana-mana,” kata Prabowo saat menyampaikan taklimat dalam Rapat Kerja Pemerintah di Istana Merdeka Jakarta pada Rabu (8/4), menyoroti urgensi diplomasi energi.
Menariknya, Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia sebelumnya sempat menyatakan belum mengetahui secara detail terkait rencana kunjungan Presiden Prabowo ke negara yang dipimpin Putin tersebut. “(Siapa) yang bilang berangkat ke Rusia? (Tunggu) pemerintah RI ya,” kata Bahlil saat ditemui di Kementerian ESDM, Jumat (10/4). Namun, Bahlil juga pernah mengungkapkan bahwa Indonesia terbuka terhadap peluang impor minyak dari Rusia. “Kenapa tidak? Amerika Serikat saja sekarang sudah membuka (opsi) untuk (minyak) Rusia,” imbuh Bahlil saat ditemui di kantornya, Selasa (17/3), menunjukkan pragmatisme Indonesia dalam mencari sumber energi.
Sebagai negara pengimpor minyak, Indonesia memiliki kebutuhan dalam negeri yang melebihi 1,5 juta barel per hari (bph), sementara produksi domestik hanya berkisar 600 ribu bph. Kesenjangan ini dipenuhi melalui impor. Oleh karena itu, Indonesia senantiasa membuka potensi impor minyak dari seluruh negara di dunia. “Yang penting bagi kita sekarang bagaimana ketersediaan barang dan harganya kompetitif,” ujar Bahlil, menekankan prinsip keandalan dan daya saing harga dalam pengadaan energi.
Antrean Negara Pembeli Minyak Rusia
Situasi geopolitik global, terutama perang di Timur Tengah yang menghambat pasokan minyak ke pasar global, telah mendorong sejumlah negara di benua Asia seperti Vietnam, Thailand, Filipina, Indonesia, dan Sri Lanka untuk mulai mengantre membeli minyak Rusia. Fenomena ini menandakan pergeseran signifikan dalam rantai pasok energi global.
Sejumlah sumber dari Reuters menyebutkan bahwa lonjakan permintaan ini berpotensi menyebabkan permintaan minyak Rusia melampaui pasokan yang tersedia. Rusia sendiri telah kehilangan sebagian besar pelanggannya dari Eropa sejak konflik mereka dengan Ukraina, padahal Eropa sebelumnya merupakan konsumen terbesar komoditas migas Rusia. Saat ini, India dan Cina menjadi dua pelanggan utama yang menyerap sekitar 80% ekspor minyak Rusia, disusul oleh Turki. Namun, dalam beberapa pekan terakhir, antrean pembeli minyak Rusia mulai meluas ke negara-negara lain di Asia.
Juru bicara Kremlin, Dmitry Peskov, mengakui tingginya permintaan ini. “Permintaan tinggi utamanya untuk tujuan alternatif. Akibatnya mungkin akan ada saatnya (kami) sulit untuk memenuhi tambahan permintaan,” kata Peskov, dikutip dari Reuters, Jumat (27/3), mengindikasikan tantangan pasokan di masa mendatang. Kondisi ini diperparah oleh konflik di Timur Tengah, khususnya perang yang melibatkan Amerika Serikat–Israel terhadap Iran, yang telah menghambat sekitar seperlima produksi minyak global masuk ke pasar dan menghentikan lalu lintas melalui Selat Hormuz, jalur vital pengiriman minyak dunia.




