Trump picu dolar AS menguat, yen Jepang kian tertekan

Hikma Lia

BANYU POSYen Jepang (JPY) kembali menunjukkan performa yang lesu di pasar valuta asing, merosot hingga sekitar 157,5 per Dolar AS pada hari Selasa (12/5). Pelemahan ini menandai hari kedua berturut-turut bagi mata uang Negeri Sakura, terjadi seiring dengan menguatnya Dolar AS secara signifikan. Penguatan mata uang Paman Sam dipicu oleh pernyataan mengejutkan dari Presiden AS Donald Trump, yang menolak proposal perdamaian terbaru Iran dan menimbulkan keraguan serius mengenai keberlanjutan gencatan senjata antara Amerika Serikat dan Iran. Kondisi geopolitik yang memanas ini sontak menempatkan risiko inflasi kembali di garis depan kekhawatiran utama pasar global.

Advertisements

Pernyataan Trump yang meragukan prospek perdamaian di kawasan Timur Tengah tersebut secara langsung meningkatkan ketidakpastian global, mendorong investor untuk mencari aset yang lebih aman, dan pada gilirannya memperkuat posisi Dolar AS. Situasi ini diperparah dengan potensi dampak terhadap harga komoditas global, khususnya minyak, yang secara intrinsik terkait dengan tekanan inflasi. Akibatnya, sentimen pasar semakin terpaku pada potensi lonjakan harga, menjadikan isu inflasi sebagai penentu utama pergerakan instrumen keuangan.

Menyikapi fluktuasi yang terjadi, pihak berwenang di kedua negara segera mengambil langkah koordinasi. Dalam pertemuan antara Menteri Keuangan Jepang, Satsuki Katayama, dengan Menteri Keuangan AS, Scott Bessent, kedua belah pihak menegaskan kembali komitmen untuk menjalin koordinasi erat dalam kebijakan mata uang. Di tengah upaya diplomatik ini, spekulasi pun merebak di pasar bahwa Jepang telah menggelontorkan lebih dari US$ 63 miliar untuk melakukan intervensi di pasar valuta asing. Intervensi besar-besaran ini diduga bertujuan untuk menopang nilai tukar Yen Jepang agar tidak jatuh lebih dalam, meskipun otoritas terkait belum memberikan konfirmasi resmi mengenai operasi tersebut.

Di sisi lain, tekanan inflasi tidak hanya menjadi perhatian global, tetapi juga memengaruhi kebijakan moneter domestik Jepang. Sebuah ringkasan opini dari pertemuan Bank Sentral Jepang (BOJ) pada bulan April mengindikasikan bahwa para pembuat kebijakan tengah mempertimbangkan potensi kenaikan suku bunga. Isyarat ini muncul sebagai respons terhadap lonjakan harga minyak yang terus-menerus, yang secara signifikan meningkatkan tekanan inflasi di dalam negeri. Keputusan ini, jika terealisasi pada pertemuan berikutnya, dapat menjadi langkah krusial Bank Sentral Jepang untuk menstabilkan perekonomian dan nilai Yen di tengah gejolak pasar.

Advertisements

Also Read

Tags