Jakarta, IDN Times – Keputusan sebuah negara untuk mengajukan pinjaman dana kepada International Monetary Fund (IMF) bukanlah tanpa alasan. Umumnya, langkah krusial ini diambil ketika suatu negara dihadapkan pada tekanan ekonomi yang sangat signifikan dan mendalam.
Situasi genting tersebut sering kali meliputi krisis neraca pembayaran yang melumpuhkan kemampuan negara untuk melunasi utang atau membiayai impor vital, ketidakstabilan mata uang yang parah akibat anjloknya cadangan devisa, hingga masalah ketimpangan fiskal akut yang ditandai dengan defisit anggaran pemerintah yang membengkak.
Sebagaimana dilansir Visual Capitalist, Argentina menjadi contoh nyata kondisi ini, di mana negara tersebut berulang kali meminta bantuan IMF akibat krisis mata uang dan inflasi yang tak berkesudahan. Serupa, Pakistan dan Sri Lanka juga terpaksa berpaling ke IMF saat beban utang luar negeri mereka menjadi semakin berat dan tak terkendali.
1. Argentina jadi peminjam terbesar dengan nilai fantastis 
Posisi utang Argentina terhadap IMF menembus angka fantastis, hampir empat kali lipat dari negara peminjam terbesar di bawahnya. Dengan total kredit berjalan yang kini melampaui 60 miliar dolar AS, besarnya utang ini merupakan akumulasi dari siklus panjang krisis ekonomi serta ketergantungan pada program IMF selama beberapa dekade.
Selain Argentina, negara-negara lain dengan pinjaman besar yang signifikan meliputi Ukraina, Mesir, dan Pakistan. Menariknya, di sisi lain, banyak negara di kawasan Afrika justru tercatat memiliki utang dengan nilai di bawah satu miliar dolar AS.
Namun, sorotan khusus patut diberikan kepada Suriname. Meskipun secara nominal bukan yang terbesar, negara ini memegang rekor rasio utang IMF terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) yang paling tinggi. Kondisi ini dipicu oleh kegagalan bayar pada tahun 2020, yang diakibatkan oleh penurunan tajam pendapatan minyak serta salah kelola fiskal yang fatal. Dampaknya, Suriname harus menjalani restrukturisasi ekonomi yang menyakitkan, melibatkan langkah-langkah penghematan ketat dan depresiasi nilai tukar mata uang yang signifikan.
2. Afrika sebagai kawasan dengan jumlah peminjam terbanyak 
Benua Afrika menonjol sebagai wilayah dengan jumlah negara peminjam terbanyak dari IMF. Kebutuhan pembiayaan eksternal yang terus berulang di Afrika berakar pada masalah struktural yang kompleks, seperti ketergantungan tinggi pada komoditas ekspor, kapasitas fiskal yang tidak memadai, serta kerentanan ekstrem terhadap gejolak ekonomi global yang tidak terduga.
Meskipun nominal pinjaman untuk setiap negara di Afrika cenderung relatif kecil, cakupan ketergantungan negara-negara di benua tersebut terhadap bantuan IMF sangatlah luas, mencerminkan tantangan ekonomi yang mendalam dan tersebar merata.
3. Negara dengan pinjaman terbanyak di IMF 
Berikut adalah rincian negara dengan pinjaman terbanyak dari IMF, beserta proporsinya terhadap PDB:
-
Argentina sebesar 60,18 miliar dolar AS atau 8,7 persen dari PDB.
-
Ukraina sebesar 15,48 miliar dolar AS atau 6,9 persen dari PDB.
-
Mesir sebesar 10,67 miliar dolar AS atau 2,5 persen dari PDB.
-
Pakistan sebesar 10,50 miliar dolar AS atau 2,6 persen dari PDB.
-
Ekuador sebesar 10,08 miliar dolar AS atau 7,3 persen dari PDB.
-
Pantai Gading sebesar 5,19 miliar dolar AS atau 5,3 persen dari PDB.
-
Kenya sebesar 4,22 miliar dolar AS atau 2,9 persen dari PDB.
-
Bangladesh sebesar 4,16 miliar dolar AS atau 0,8 persen dari PDB.
-
Ghana sebesar 3,95 miliar dolar AS atau 3,3 persen dari PDB.
-
Angola sebesar 3,51 miliar dolar AS atau 2,3 persen dari PDB.
-
Kongo (DRC) sebesar 3,20 miliar dolar AS atau 3,5 persen dari PDB.
-
Kosta Rika sebesar 2,56 miliar dolar AS atau 2,3 persen dari PDB.
-
Ethiopia sebesar 2,54 miliar dolar AS atau 2,1 persen dari PDB.
-
Sri Lanka sebesar 2,54 miliar dolar AS atau 2,6 persen dari PDB.
-
Yordania sebesar 2,37 miliar dolar AS atau 3,7 persen dari PDB.




